Tak Ada Filosofi, Sebuah Kisah Masa Lalu

tak-ada-filosofi-sebuah-kisah-masa-lalu
Kumpulan cerpen karya Tini Pasrin berjudul tak Ada Filosofi. (Foto : dokumen pribadi).

Judul Buku      : Tak Ada Filosofi

Pengarang       : Tini Pasrin

Halaman          : x-181

Penerbit           : Forind Malang

Oleh : Benediktus Koranso*

Terakota.id–Jauh di balik dendam dan perdamaian, terhantar ingatan. Seperti samudera. Di sana Tuan memilih mana lokan yang ingin Tuan takik dari dalam laut yang menyimpan masa lalu itu, dan mana yang ingin Tuan campakan. Ingatan tak pernah utuh. Masa silam tak pernah satu.

Ada kenangan yang memilih damai. Ada waktu lampau yang mendorong tuan berseru: “Kami ingin menuntut balas”. Ada politik ingatan, ada politik melupakan. Keduanya menganggap bahwa sejarah adalah semacam fotokopi dari pengalaman yang telah tersimpan. Demikian Goenawan Mohamad menulis dalam catatan pinggir yang berjudul “Ingatan”. Konteks Goenawan Mohamad menulis paragraf ini adalah tindakan rusuh atas nama agama atau etnis tertentu.

Apapun maksud Goenawan Mohamad dalam menulis catatan pinggir tentang “Ingatan”, satu hal yang saya petik dalam mengulas buku Tini Pasrin adalah sejarah adalah semacam fotokopi dari pengalaman yang telah tersimpan. Pernyataan ini yang meraung dalam pikiran saya usai membaca kumpulan cerpen tulisan Tini Pasrin. Saya amat yakin bahwa Tini sebenarnya sedang menuliskan kisah di masa lalu. Kisah-kisah itu terekam kuat dalam aneka indera Tini Pasrin; merasa, meraba, melihat, mendengar dan mencium.

Barangkali Tini Pasrin menyadari keterbatasan memorinya dalam merekam kejadian masa silam. Ya, otak manusia ada batasnya. Saya menduga bahwa keterbatasan memori inilah yang memaksa Tini Pasrin menggunakan media cerpen untuk merekam kejadian-kejadian masa silam. Sejarah memang indah tetapi apalah gunanya kalau hanya dinikmati secara pribadi. Pada titik ini, saya berasumsi bahwa Tini Pasrin adalah cerpenis bergaya impresionisme. Ia pandai merekam masa lalu dan menguraikannya dengan gaya yang berbeda.

Buku “Tak Ada Filosofi” tulisan Tini Pasrin berisi dua puluh enam cerpen (26) yang mengulas tema kehidupan budaya, kehidupan sosial dan kehidupan beragama. Pertama, kehidupan budaya. Sebagian besar cerpen dalam buku “Tak Ada Filosofi” merupakan ulasan bertemakan budaya.

tak-ada-filosofi-sebuah-kisah-masa-lalu
Kumpulan cerpen karya Tini Pasrin berjudul tak Ada Filosofi. (Foto : dokumen pribadi).

Ulasan-ulasan ini berhubungan erat dengan nilai-nilai yang semestinya sudah, sedang dan akan terus melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Ada empat belas (14) cerpen terkait tema budaya, yaitu  Goblok, Anak Haram, Pergi Untuk Kembali, Eksekusi, Dia Bersemi di Musim Gugur, Bayangan, Kopi Tak Berfilosofi, Mampus, Anak Lawo, Cinta dan Belis, Tangan-Tangan Cantik, Kosong yang Ganjil, Kesenangan, Bekas Luka.

Kedua, kehidupan sosial. Catatan penulis dalam tulisannnya tentang kehidupan sosial bertautan dengan hubungan antar pribadi dalam kehidupan bermasyarakat. Ada sepuluh (10) cerpen bertemakan kehidupan sosial, yakni Ibuku Malang, Sepotong Kayu Bakar, Suanggi, Ayahku Cengeng, Rikus, Everybody Lies, Pelacur Sajak, Ulat di Kepala, Perempuan Terluka, Cokelat Bahagia.

Ketiga, kehidupan beragama. Tema kehidupan beragama yang diangkat penulis merupakan bentuk catatan reflektifnya dalam kaitan dengan masyarakat yang candu agama dan hubungan sosial dalam beragama. Ada dua (2) cerpen yang bersentuhan dengan tema kehidupan beragama, yaitu Pascasesat dan Berbeda itu Beda: Api Gairah dalam Kebhinekaan.

Dalam menulis cerpennya, Tini Pasrin menggunakan beberapa judul yang cukup atraktif. Judul yang atraktif menjadi lebih menarik ketika Tini juga menempatkan ending-ending cerpen yang mengesankan. Sebagaian besar ending cerpen dalam buku ini berujung pada nasib tragis atau kisah sedih. Mungkin penulis sedang memberontak terhadap pengalaman masa silam dan berharap sejarah buram tidak terulang.

Dari segi penokohan, mayoritas cerpen Tini Pasrin dalam buku kumpulan cerpennya menggunakan orang ketiga tunggal. Dalam beberapa cerpen tokoh-tokoh yang dipilih penulis dan karakternya cukup memancing emosi pembaca sehingga penasaran dengan ending cerita yang digunakan penulis. Ketika membaca kumpulan cerpen karya Tini Pasrin, saya serasa kembali ke masa kecil ketika mendengar nenek berdongeng dan penasaran dengan ending dongeng.

Akhirnya, saya boleh berkesimpulan bahwa buku “Tak Ada Filosofi” tulisan Tini Pasrin sangat relevan untuk semua generasi; generasi remaja, generasi mudah dan generasi tua. Tini Pasrin bukan sekadar menulis, tetapi memberi bobot pada setiap tulisannya.

*Mahasiswa STFK Ledalero jurusan Filsafat. Peminat sastra dan sekarang tinggal di Maumere, NTT. 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini