Ilustrasi: crushpixel.com.
Iklan terakota

Terakota.id–Hidup manusia terdiri dari peristiwa-peristiwa dan rangkaian peristiwa. Peristiwa dapat berupa beragam hal yang paling banal dan sepele sampai hal-hal yang terbilang mulia atau luhur, adikodrati dan tidak mudah dinalar oleh common sense. Saya bangun pagi, mandi, buang air, sarapan, membaca warta di portal berita daring, menulis status di media sosial, memandikan anak, membantu istri menjemur baju adalah beberapa contoh dari peristiwa.

Polisi baik hati yang menolong seorang nenek yang perlu menyeberangi jalan yang ramai, seorang berdosa yang diam-diam menyumbangkan sebagian besar harta miliknya untuk sebuah panti asuhan, Gautama yang mengalami pencerahan di bawah pohon Bodhi, Einstein yang bergulat keras sebelum menemukan teori relativitas, Gurnah yang menelorkan karya-karya sastra monumental yang membuatnya diganjar Penghargaan Nobel juga merupakan contoh dari peristiwa.

Jika Derrida mengatakan ‘Tidak ada realitas di luar realitas bahasa’ (atau kurang-lebih seperti itu), saya ingin mengatakan ‘Tidak ada kehidupan di luar peristiwa’. Peristiwa-peristiwa yang kita alami atau yang terjadi pada kita sangat menentukan siapa diri kita, bagaimana kita memandang dunia dan diri kita sendiri, hal-hal apakah yang menjadi prioritas kita (dan yang tidak kita pandang prioritas), dan bahkan seperti apakah bayangan kita tentang kehidupan setelah kematian. Tentu saja, peristiwa tidak bermakna dari dirinya sendiri sampai kita menyematkan makna kepadanya.

Di luar itu, ada peristiwa-peristiwa yang kita rencanakan, kita kelola, kita arahkan, kita tetapi, dan kita laksanakan dengan cara-cara yang saksama, demi pencapaian sebuah tujuan. Dalam hal ini, kita kira-kira menjadi agensi dari peristiwa. Ketika membayangkan bahwa kita ingin menjadi dosen, misalnya, kita membuat rencana bagi peristiwa-peristiwa yang akan membawa kita pada tujuan tersebut.

Kita bersekolah dan berkuliah dengan tekun dan rajin, kita belajar tentang bagaimana manusia belajar, kita membaca banyak sekali buku dan referensi klasik maupun mutakhir, kita terus membuka diri pada pengetahuan, keterampilan, dan sisi afeksi yang baru. Dengan begitu, kita mengarahkan jalannya peristiwa-peristiwa yang akan membawa kita pada tujuan menjadi dosen.

Namun demikian, terdapat pula banyak peristiwa yang terjadi di luar kendali kita. Peristiwa-peristiwa yang saya maksudkan di sini menimpa kita tanpa secara langsung kita kehendaki atau rencanakan. Tertabrak mobil yang dikendarai secara ugal-ugalan di jalan raya, terperangkap di bank yang sedang dirampok oleh segerombolan penjahat, terjerat dalam keadaan jatuh cinta kepada seseorang yang secara sekilas kita jumpai di kafe, bertumbuh dalam keluarga disfungsional yang tidak dapat kita pilih sendiri, mendapat warisan bernilai miliaran dari seorang yang pernah kita tolong dengan ikhlas hanyalah beberapa contoh dari peristiwa-peristiwa yang menimpa kita begitu saja, seakan meminimalkan agensi kita.

Apa pun itu, peristiwa-peristiwa merangkai kehidupan kita. Baik peristiwa-peristiwa yang memang kita rancang dan maksudkan untuk terjadi maupun berbagai peristiwa lain yang menimpa badan tanpa sungguh-sungguh kita kehendaki memang adalah ada dan nyata.

Tahun Baru: Merangkai Makna

Tahun Baru adalah juga peristiwa. Walaupun pada mulanya kalender atau penanggalan—atau bahkan konsep dan ukuran waktu secara umum—merupakan hasil kreasi manusia belaka agar kehidupannya lebih tertata, lebih terkontrol dan terukur, pada masa selanjutnya peristiwa tahunan berupa pergantian kalender berkembang dan berubah menjadi rezim yang menimpa manusia, penciptanya. Pada masa modern ini, kita nyaris tidak dapat mengatakan tidak pada pergantian tahun dan semua orang, dan institusi orang, memanfaatkan kalender demi efisiensi dan efektivitas kehidupan.

Peristiwa Tahun Baru dewasa ini adalah peristiwa yang menimpa atau terjadi pada kita, entah kita menyadari, menerima, merencanakannya atau tidak sama sekali. Entah kita bekerja membanting tulang sepanjang pagi sampai malam di ketiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun atau kita kadang bekerja kadang menganggur atau kita duduk-duduk saja sepanjang waktu itu, pergantian tahun hampir pasti terjadi. Dengan sepersetujuan kita atau tidak, Tahun Baru terjadi dan kalender dipastikan berganti.

Dalam hitungan jam, atau mungkin sudah terjadi ketika Anda membaca artikel ini, kalender 2021 sudah tidak kita tengok lagi untuk mengecek tanggal berapa hari ini. Kita sudah memasang kalender tahun 2022 di tembok atau di meja kerja kita.

Terlepas dari hal itu, tidak sedikit dari antara kita yang menjadikan momen pergantian tahun sebagai waktu khusus untuk berefleksi dan merencanakan kehidupan atau aspek-aspek tertentu dari kehidupan ke depannya. Dengan kata lain, di situ kita mengenangkan peristiwa-peristiwa yang telah lampau dan membayangkan berbagai peristiwa yang akan terjadi. Dalam dan melalui tindak pengenangan dan pembayangan tersebut, kita ingin menggali serta menyematkan makna pada beragam peristiwa. Kita tidak ingin peristiwa-peristiwa itu terjadi dan terlewat begitu saja tanpa makna dan poin yang dapat kita pelajari.

Tergantung dari perspektif atau kaca mata apa yang kita pilih dan gunakan, tindak pengenangan dan pembayangan tersebut akan menghasilkan suatu cara memandang yang khas. Jika kebetulan kita adalah seorang yang religius, makna yang kita tarik dari refleksi dan proyeksi atau imajinasi itu adalah sesuatu yang terkait erat dengan keimanan kita pada Sang Khalik. Jika kaca mata kita lebih humanis, hasilnya adalah pemaknaan yang menitikberatkan pada segi-segi kemanusiaan daripada yang lain-lain.

Apabila kita adalah penganut yakin dari filsafat kecurigaan, bisa jadi makna yang kita himpun adalah bentuk-bentuk kritis terhadap ideologi yang diterima sebagai keniscayaan yang alamiah oleh kelompok lain. Kita melihat apa yang orang lain tidak lihat atau orang lain lihat ‘tidak ada masalah’.

Jikalau kita adalah seorang absurdis, kita menilai bahwa tindakan pengenangan dan pembayangan tersebut sebagai sebuah kesia-siaan yang tanpa makna atau void of meanings. Makna yang mungkin akan kita tarik tidak kita cantolkan pada sesuatu di luar atau sesuatu yang belum terjadi atau sesuatu yang dipandang mulia atau ilahiah. Kita cukup puas dengan kesadaran akan tiadanya makna lebih jauh. Kita berfokus pada apa yang terjadi saat ini dan di sini.

Demikianlah, satu tindakan yang sama, yaitu pengenangan dan pembayangan atas peristiwa-peristiwa yang dipicu oleh momen pergantian tahun, dapat memunculkan beragam makna atau bahkan ketiadaan makna, tergantung pada perspektif atau kaca mata yang kita pilih untuk gunakan.

Namun juga disadari bahwa tanpa pengenangan dan pembayangan dengan cara pandang tertentu, peristiwa-peristiwa hanya akan menjadikan kita objek. Kita akan ditimpa dan dibentuk olehnya tanpa kesadaran, dan tanpa tahu kenapa dan mesti bagaimana.

Karenanya, walaupun ada keterbatasan cara memandang kita, kelemahan dalam kaca mata yang kita gunakan, kita mesti tetap melakukan tindak pengenangan dan pembayangan secara sadar atas beragam peristiwa yang terjadi di masa lalu dan yang ingin kita kerjakan di masa yang akan datang. Hanya dengan cara itulah, kita berbeda dari binatang tidak berpikir.

Selamat mengenangkan dan membayangkan. Selamat meninggalkan 2021 dan menyambut 2022. Salam.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini