Suwarno, Merawat Wayang Warisan Leluhur

MALANG – Pada suatu senja di Gedung Dewan Kesenian Kota Malang. Suwarno duduk bersila di salah satu ruangan. Kotak wayang berada di sampingnya, dan berderet tancepan wayang kulit persis di hadapannya. Siap menerima kendali Sang Dalang.

Belasan bocah bebas berlompatan di sekelilingnya. Satu di antaranya duduk bersila tepat di depan tancepan. Tangan bocah itu mengacungkan wayang kulit, menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.

“Tangannya harus lurus, jari juga harus pas pegang tangkai wayang,” seru Suwarno ke bocah itu.

Suwarno adalah pengasuh Sanggar Padaka Nusa, tempat para bocah itu belajar dalang. Aktivitas belajar dalang rutin digelar tiap Jumat sore, memanfaatkan satu ruangan di gedung para seniman itu. Mereka yang belajar di sanggar rata–rata masih duduk di bangku sekolah dasar.

Mbah Suwarno, pengasuh Sangar Padaka Nusa yang mengajar para dalang cilik. (Aris Hidayat/Terakota)

Kakek berusia 59 tahun ini mengakui butuh kesabaran tersendiri mengajari para anak asuhnya itu. Apalagi wayang tak mendapat ruang di kelas tempat mereka bersekolah. Beruntung masih ada pendidikan bahasa daerah, meski hanya sebagai muatan lokal.

Karena itu, pemahaman teknik memegang wayang yang tepat jadi prioritas yang diajarkan. Teknik bagaimana susunan jari yang tepat memegang tangkai wayang. Maupun saat seblak atau menggerakkan wayang ke kiri dan kanan. Serta mengenalkan nama tokoh dan menyusun wayang kulit di tancepan depan layar.

“Mereka ini masih anak–anak, belum bisa diberi pemahaman secara logika. Karena itu hanya diajari detil teknik memegang wayang kulit yang benar,” ujar Suwarno.

Butuh waktu minimal 6 bulan mengajari mereka sampai hafal dan memahami teknik itu. Setelah itu biasanya mereka akan lancar sendiri saat mendalang. Filosofi tentang wayang menyusul akan diberikan pada mereka. Serta mengajarkan bagaimana mendalang per adegan isi cerita wayang hingga menyusun naskah cerita.

Baca juga :  Komedie Stamboel sampai Keroncong, Nasib Kesenian Rakyat

“Mereka ini masih kecil, tapi banyak juga yang cepat menyerap teknik yang diajarkan,” tutur Suwarno.

Ia mengajar dalang sejak era tahun 1990-an. Suwarno tak memungut biaya tertentu kepada tiap muridnya yang datang belajar dalang. Berapa pun yang diberikan orang tua anak–anak itu, ia terima dengan ikhlas. Apalagi ada kepuasan batin mengajar anak–anak itu.

Di tengah arus modern dengan teknologi canggih mendominasi permainan anak–anak, warisan budaya leluhur ini pun terancam semakin tergerus. Sebab itulah, Suwarno puas masih banyak anak yang mau belajar dalang dan wayang.

Tak sedikit dalang cilik yang muncul dari sanggar asuhan Suwarno ini. Elfrado Dee Vernandocello, siswa kelas 3 Sekolah Dasasr (SD) Kalam Kudus Malang adalah salah satunya. Sudah sejak tahun lalu ia belajar di sanggar yang diasuh Suwarno.

“Saya suka wayang sejak kecil. Nggak tahu kenapa, pokoknya suka,” katanya.

Bocah berusia 9 tahun ini sudah beberapa kali unjuk gigi dalam pementasan budaya. Baik itu di sekolah atau pun saat ada perayaan di gereja tempatnya beribadah. Sekali main, durasi waktu yang dihabiskan antara satu hingga empat jam.

Tidak ada data resmi berapa sanggar wayang kulit maupun jumlah dalang di Kota Malang. Bagi Suwarno, apa yang dilakukannya ini demi merawat dan melestarikan kebudayaan nusantara. Ia takut suatu saat nanti tak ada lagi yang mau memainkan wayang.

“Biar para generasi muda ini tahu dengan budayanya sendiri. Kalau tak tahu, mau jadi apa bangsa ini,” tegas Suwarno. (Z)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here