Susu Sehatmu Petaka bagi Masa Depan Lingkunganmu

Ilustrasi : Envato

Terakota.idDi masa-masa pandemi ini para pakar kesehatan, orang tua, saudara, kawan dan tentu yang terkasih, senantiasa mengingatkan kita untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan pola makan 4 sehat 5 sempurna. Salah satunya ada daging dan susu, yang dihasilkan dari mamalia bernama sapi.

Salah satu kebutuhan vital kita adalah protein dan vitamin B yang ada di produk ternak bernama daging dan susu. Produk-produk itu mudah kita jumpai di pasar tradisional hingga modern, dari toko kelontong sampai minimarket. Mudahnya mendapatkan produk susu, serta kandungan gizi yang baik. Membuat produk tersebut menjadi pilihan utama untuk konsumsi sehari-hari.

Apalagi kamu yang sedang ingin meningkatkan kebugaranmu, baik mencegah penyakit maupun pemulihan saat sembuh dari sakit yang kalian alami. Sehingga susu adalah produk yang akan selalu menjadi pilihan utama masyarakat untuk memenuhi gizinya.

Lalu tahukah kalian asal muasal susu yang kalian konsumsi?

Susu dihasilkan dari sapi perah ada jenis friesian Holstein, Jersey, Ayarshire, Brown Swiss dll. Sapi-sapi tersebut dikumpulkan dalam satu tempat, ada yang skala kecil, biasanya peternak di desa-desa yang mereka memiliki kandang yang kapasitasnya sekitar 4-5 ekor, ada juga yang sedang dengan kapasitas 20 hingga 200 ekor dan tentu skala besar dengan kapasitas kandang sekitar di atas 500 ekor.

Sapi-sapi tersebut tidak digembalakan, alias diternak. Mereka diberikan asupan pakan pilihan yang diolah dari alam. Sapi juga membutuhkan berkubik-kubik air untuk kegiatan sehari-hari, baik minum, memandikan atau membersihkan kotoran. Semakin besar ternak di dalam suatu kandang, maka kebutuhan pangan dan air semakin tinggi. Dan, tentu potensi pencemarannya akan semakin tinggi.

Di Indonesia wilayah seperti Kabupaten Pasuruan, Malang, Blitar dan Kota Batu adalah tempat favorit untuk melakukan usaha peternakan. Di sana tersebar banyak perusahaan raksasa, seperti Indomilk, Frisian Flag, Cimory dan Greenfields. Tentu sobat protein semua tidak asing dengan nama-nama itu.

Mereka adalah produsen produk susu besar yang memiliki ribuan sapi, dengan wilayah peternakan dan pengolahan yang luas. Karena saking tingginya permintaan susu agar kalian sehat wal afiat, tak jarang beberapa di antara melalukan perluasan produksi, bahkan beberapa menyasar lahan warga atau kawasan hutan, upss!!!

Beberapa juga pada akhirnya mengambil alih ruang publik, seperti lahan-lahan yang seharusnya digunakan untuk bertani, ruang resapan, sungai dan sumber air. Semuanya tentu demi gizi kalian dan tentu juga cuan yang banyak. Tak ayal demi cuan pun, keselamatan lingkungan diabaikan, salah satunya dengan melalukan pencemaran.

Saking inginnya cepat pindah ke Mars, mereka tidak memikirkan limbah yang mereka buang, pokok buang tanpa diproses dengan baik. Ingat rumusnya, high tech sama dengan keuntungan berkurang dan kurang maksimal. Lalu guna menutupi kejahatannya, biasanya mereka menggelontorkan CSR yang tak ada secuil dari ekpsloitasinya, dan itu tak sebanding kerusakan dan masa depanmu lur!!

Susu Sehatmu Menghancurkan Lingkunganmu

Sudah saatnya menjadi konsumen sehat, baik badan dan otaknya. Kebanyakan sehat badan tapi otaknya kurang, sebab terlalu memikirkan kehidupannya sendiri. Padahal dia hidup membutuhkan air, tanah, pohon dan makanan yang semuanya dari alam. Pada beberapa kesempatan telah terjadi pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh pabrik susu andalan kalian. Salah satunya Greenfields

Di Blitar, terdapat kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan korporasi besar bernama Greenfields yang telah melakukan mencemari sungai dan kampung atas aktivitas produksinya. Terhitung sejak tahun 2018 yang mencemari sungai Genjong di Desa Suru, Kecamatan Doko, dampak pencemaran pun dirasakan Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi yang merupakan tapak pabrik tersebut. Luas area usaha Greenfields yakni 172 hektar dengan jumlah sapi sekitar 7.500 ekor yang menghasilkan 1500 kubik kotoran.

Kotoran tersebut tidak dikelola sebagaimana mestinya, sehingga mencemari sungai, menimbulkan polusi udara, air dan tanah, yang menganggu kehidupan masyarakat dan bentuk pelanggaran hak atas lingkungan baik dan sehat, dengan melakukan perampasan hak melalui pelanggaran atas aturan yang berlaku.

Pencemaran itu mengakibatkan sungai yang digunakan untuk pengairan lahan pangan tercemar. Dampaknya produksi pangan mengalami gangguan, selain itu organisme sungai juga sekarat, seperti ikan tak berdosa yang harus menerima hantaman kotoran limbah pabrik susu.

Secara  aturan dalam UU PPLH No. 32 Tahun 2009 menekankan pada perlindungan dan pencegahan kerusakan lingkungan. Jika terjadi kerusakan maka harus ditanggulangi dan yang merusak harus dihukum sesuai dengan pelanggarannya, baik pidana, perdata sampai administratif. Perdata berbicara pemulihan lingkungan dan administratif yakni pencabutan izin.

Sementara mandat UU juga mewajibkan adanya audit lingkungan berkala, jika selama ini melakukan pencemaran pertanyaannya adalah apakah audit sudah dilakukan, lalu apakah UU PPLH sudah dijalankan oleh intansi terkait dalam hal ini KLHK yang di daerah seharusnya diwakili oleh pemerintah Provinsi dan Kabupaten.

Meski Pemprov Jatim melalui DLH Provinsi pernah mendesak teguran ataupun sanksi administratif, pun Bupati Blitar, hingga hari ini belum ada sanksi yang tegas dan teguran-teguran itupun tidak diindahkan oleh Greenfields. Di sinilah martabat pemerintah Provinsi dan Kabupaten dipertaruhkan, bahwa mereka sedang dilecehkan oleh pelanggar lingkungan hidup.

Pun komitmen pemerintah daerah juga dipertanyakan, apakah perlu warga sampai melakukan gugatan Class Action, jika pemerintah memang benar-benar serius, artinya pemerintah daerah masih dipertanyakan komitmennya. Pemerintah daerah seharusnya memakai hak advokasi mereka, mewakili lingkungan dan masyarakat di wilayah teritorinya.

Sehingga dengan bergeraknya elemen sipil, seharusnya pemerintah tergerak bahu membahu menyelamatkan ekosistem dan masa depan masyarakat yang telah dirampas. Greenfields harus dicabut izinnya! Karena tidak menghormati dan menghargai hak atas lingkungan dan kehidupan yang baik dan sehat.

Pesan untuk Sobat Sehatku

Lalu apa gunanya badan sehat, jika lingkungan semakin buruk. Tentu biaya kalian untuk kesehatan juga semakin naik, eh warga yang terdampak sih. Kalian sehat mereka sekarat, yang jualan tertawa dan bersiap pindah ke Mars. Pada akhirnya kalian juga yang terkena dampaknya ke depan.

Jika ruang-ruang hidup kita dipenuhi korporasi perusak lingkungan, tentu yang rugi adalah anak-anak kalian sebagai generasi yang akan datang. Lantas apa gunanya memiliki keturunan, jika hanya menyengsarakan kehidupan mereka di masa depan.

Terakhir, di balik lezatnya dan segarnya susu yang kalian konsumsi, mungkin dibaliknya menyimpan eksploitasi besar atas lingkungan hidup dan manusia. Mencederai kemanusiaan dan merampas hak hidup di lingkungan yang baik dan sehat. Ayo bersuara untuk masa depan bumi!!

*Artikel ini merupakan pendapat pribadi dan menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini