Surabaya dan Malang, Penting bagi Seni Pertunjukan

Kehidupan orang di Surabaya dan Malang sangat socialite sekali dan banyak gedung-gedung pertunjukkan. Itu harusnya menjadi heritage bagi kota ini. Malang memiliki gedung pertunjukan bernama gedung Societiet Concordia sekarang berubah menjadi pusat perbelanjaan Sarinah.

Reporter: Yogi Fachri Prayoga

Terakota.id—Surabaya dan Malang menjadi kota penting dalam seni pertunjukan di Jawa Timur. Pelaku seni sekaligus sineas Garin Nugroho dalam workshop pelaku seni di Malang akhir pekan lalu menjelaskan banyak gedung pertunjukan di Surabaya dan Malang sejak masa pemerintah kolonial  Hindia Belanda.

“Kehidupan orang di Surabaya dan Malang sangat socialite sekali dan banyak gedung-gedung pertunjukkan. Itu harusnya menjadi heritage bagi kota ini,” katanya. Malang memiliki gedung  pertunjukan bernama gedung Societiet Concordia sekarang berubah menjadi pusat perbelanjaan Sarinah.

Saat itu Komedie Stamboel sebuah seni pertunjukan teater musikal bergaya Eropa kali pertama muncul di Surabaya pada 1891. Sehingga Surabaya dalam sejarahnya menjadi salah satu sumber perkembangan seni pertunjukan di tanah air. Komedie Stamboel memberikan sumbangan besar pada perkembangan kesenian rakyat seperti keroncong, ludruk, ketoprak sampai lenong.

“Jadi Surabaya menjadi Kota pertama dalam industri kreatif seni pertunjukkan. Surabaya tidak hanya sebagai pintu masuk perdagangan tapi juga pertunjukkan kelas internasional di zaman Hindia Belanda,” kata Garin. Namun, setelah 1970, seni pertunjukkan mengalami kemunduran.

“Kenapa mundur? Itu yang menjadi pertanyaan yang harus dipecahkan bagi pelaku seni hari ini,” katanya.  Seni pertunjukkan, kata Garin, beragam seperti karawitan, ludruk, termasuk teater. Seni pertunjukan disebut juga seni massal karena melibatkan sumber daya yang besar dan memberikan dukungan ekonomi.

Garin melihat minat anak muda untuk seni pertunjukkan sangat antusias namun kekurangan ruang tumbuh dan berkembang. Jumlah sumber daya begitu besar tidak sebanding dengan ruang tumbuhnya.

“Ruang kreatif sangat dibutuhkan untuk mengembangkan bakat, sumber daya manusia, dan keinginan untuk merepresentasikan diri anak muda,” ujar Garin. Menjadi tanggung jawab pelaku seni untuk mencari dan memberikan ruang tumbuh untuk anak-anak muda berkarya.

Tidak hanya membicarakan ruang tumbuh bagi pelaku seni, Garin juga melihat ada fenomena gegar budaya teknologi yang membuat hubungan antar pelaku seni terputus. Sehingga acara seperti workshop sebagai langkah yang tepat untuk merekatkan mereka.

“Workshop yang dilakukan Ratna Riantiarno dengan Teater Koma yang kita kenal karyanya selama puluhan tahun memberikan inspirasi bagi anak muda. Tidak hanya itu, pendidikan di ruang kreatif itu akan menimbulkan sejarah yang tidak terputus,” kata Garin mengungkapkan.

Pemerintah sudah mulai tertarik dengan ruang-ruang kreasi dan ekspresi namun porsinya tidak banyak. Peran masarakat masih sangat penting untuk mengakomodasi ide dan proses berkesenian .jika pemerintah tak bisa mendorong ruang tumbuh berkesenian.

“Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) masih terkonsentrasi pada seni-seni yang dianggap gaul,” ujarnya. Padahal, seni berteknologi tinggi itu sebagian kecil dari seni pertunjukkan.  Seperti kerajinan, ludruk, dan dangdut dianggap bukan bagian dari industri kreatif.

“Cara pandang Bekraf melihat kreatifitas dari satu sisi,” kata Garin. Gaya hidup anak muda dalam proses kreatif dekat dengan seni tradisi. Garin menekankan pemerintah dan bekraf untuk mengubah cara pandang tentang seni, tak hanya seni-seni yang berteknologi tinggi.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini