Sumur Nangsokah

Ilustrasi : ebookanak

Terakota.idMereka duduk di teras Masjid Baiturrohman. Para santri berdiskusi setelah kelar mengaji. Dari arah selatan, gemericik semakin nyaring tepat dari arah kamar mandi. Lantaran jarak posisi air mencucur ke penampung semakin jauh. Waktu berjalan maju, musim telah berganti, kemarau mencekik kondisi warga kampung. Santri itu, kala malam hendak menukar dengan siang, mereka pergi ke Nangsokah1 bermaksud menyalakan air yang mengalir ke kamar mandi Masjid.

Santri itu, yang seharusnya pulang tepat waktu, ternyata tidak bisa tepat. Masalahnya, bukan hanya waktu yang menjadi masalah baginya. Namun, kemarau yang semestinya tiba sesuai dengan kodratnya. Dan seharus kita bisa berdamai setiap musim tiba. Santri-santri yang  setia di Masjid merasakannya, namun bukan hanya di tahun ini saja. Tidak akan indah lekuk kubah masid ketika masuk, tidak dalam keadaan suci. Dan air menjadi tupuhan utama mensucikan diri.

***

Mereka bergegas pergi ke Nangsokah. Sesuai dengan apa yang ditugaskan guru kepada santri patuh lalu menjalankanya. Ketika guru menugaskannya maka harus segera bergegas mengerjakannya. Itulah yang kerap  kali dirasakan oleh santri, bahkan membentuk karakternya.

Setelah tiba ketika mereka bertemu dengan juru kunci sumur Nangsokah. Mak Mbe namanya, wajahnya yang tidak enak dipandang dan burung-burung pun akan takut saat berdiri tak bersuara. Selain rumahnya yang memang dekat dari sumber tersebut. Ia juga hidup dari air sumur tersebut.

***

Mereka berdua akan segera tiba. Paralon kosong tanpa air yang mengarah ke sumur, beberapa harus dibuka terdahulu. Minimal, dibuka tiga sambungan paralon dengan jarak kurang lebih dari 50 meter, yang paling terpenting juga dibuka didataran paling rendah, agar aliran air bisa lancar turunnya, dan mudah menariknya.

Semua sadar dan menyangka masjid rumah Tuhan, katanya, namun masyarakat sepakat tetap tidak diboleh menggunakan sanyo. Sudah melakukan kesepatan semua tidak boleh menggunakan mesin air untuk pengambilan air dari sumur tersebut. Itu sudah disepakati oleh warga, khususnya Mak Mbe menyepakati dari awal sejak musyawarah pada tahun 1980 an.

***

Sudah tiba di Nangsokah melihat air yang masih ada ukuran sejengkal tangan terlihat masih bening. Sepertinya tidak bakal cukup percakapan hati kedua santri tersebut. mereka bergegas menemui juru kuncinya. Salah satu santri melontarkan pertanyaan kepadanya.

“Sudah musim kemarau ternyata Mak, air sudah tidak akan lancar”. Basabasinya kepada kakek tua itu.

Iyeh cong2, siap-siap warga akan ramai datang malam-malam ke Nangsokah”. Jawaban yang dilontarkan menggunakan dengan bahasa Madura kolot menggap sudah biasa musim kemarau wajar nak.

Santri yang dua hanya mengetahui tentang garis besarnya mengenai Nangsokah. Sebagai warga sini seharusnya sejak dini tahu asal usul sumber serta keanehan Nangsokah. Mereka hanya memanfaatkan momen untuk menanyakan tentang sumur itu, tepat ketika bertanya kepada Mak Mbe disebut pamor3  Nangsokah. Diceritakanlah oleh lelaki tua itu.

“Nangsokah lahir sebelum Mak Mbe, tentunya, ada sebelum Kampong Koni4 ini ada, awal adanya kampong konyi’ namanya koni’ pada awalnya, setelah itu menjadi Kampung Konyik hingga kini ada. Sumber air kehidupan orang wilayah ini karena adanya air, maka Tuhan menciptakan air lebih awal daripada kehidupan manusia. Setelah itu tidak tau tentang itu nak, hanya meneruskan saja, mengenai mimpi. Apa yang telah datang dalam mimpi ke kakek, bahwa kalau nanti di kampung ini kekurangan air, maka harus menyelenggarakan rokat setiap tahun”.

Cerita tidak disengaja itu; Mak Mbe punya harapan semua itu berharap jika nanti telah tiada akan ada yang meneruskan. Ketika tidak diteruskan, apalah daya nanti kampung ini. Apakah air akan masih makmur. Pesan dari cerita hanya ada pada rokat5 biasanya yang diselenggarakan setiap tahun.

***

Santri itu melanjutkan tugasnya, langit biru semakin terang. Dan matahari  menjalarkan sinarnya ke bumi. Anak sekolah sudah rapi hendak berangkat sekolah. Matahari telah menyengat panasnya. Hatinya telah berdebar karena  merasa  waktunya lainnya tersita. Pak Maluha sudah memasang karung wadah rumput, sudah waktunya embun sudah kering.

Santri memulai membuka paralon dan meniupnya lalu menghirupnya. Sebelum itu mengecek adanya air seberapa tinggi air dalam sumur, hingga tidak perlu melakukan kecurangan mendapatkan air dari sumber sumur itu. Kecurang biasa dilakukan mengangkat paralon untuk memperkecil sedotan air di sumur yang dalamnya hanya satu setengah meter, dengan luas dua meter keluasan sumur itu. Kecurangan mengangkat paralon menjadi hal biasa karena sudah biasa terjadi, tidak akan menjadi konflik ketika Masjid yang membutuhkan air itu. Memaklumi jika kebutuhan masjid karena itu kepentingan orang banyak.

***

Mula-mula mereka berdua berpikir keras walau pemikirannya tidak seimbang dengan pemahamannya. Ketidak percayaan santri dengan cerita salah satu warga mengenai fenomena yang mengejutkan. Fenomena mengejutkan tersebut, ketika mendapat cerita dari seorang, yaitu dari desa sebelah. Katanya dia bercerita tentang kekebalan dirinya. Warga itu berasal dari Desa Kelbung. Pernah melintas dan tidak sengaja karena Nangsokah terletak di pinggir jalan, berada di rawa-rawa jalan umum. Biasa digunakan untuk meminum sebentar kala warga melakukan perjalanan jauh.

Adalah Niman, salah dua warga berasal dari Kelbung, kala itu dia berjalan menuju ke Pasar Blega pada suasana matahari belum terbit. Ke Pasar dengan tujuan menjual ayam. Katanya dia terkejut melihat hal yang janggal pada Sumur Nangsokah itu, pada awalnya hanya ingin berhenti untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang biasanya bening berwarna kebiruan terang dihiasi ikan di dalam tampak jelas, waktu itu air mengeluarkan warna beda, coklat keputihan. Keanehan itu mengingatkan cerita nenek moyang terdahulu.

Niman langsung ingat pada cerita Kayan kakaknya, yang sudah meninggal pada saat di Kampung Konyik itu. Niman ingat dengan pesan ‘Ketika sumber Nangsokah itu mengeluarkan sumber berbeda tepatnya warna putih, nyeburlah ke dalam sumur itu lalu menumlah air itu, dengan menyebut nama Tuhan’. Ayam yang dipegang di letakkan lalu melepas bajunya. Setelah tercengang sebentar melihat keanehan itu, pasca mengingat ucapan kakaknya tanpa memikirkan sebab akibatnya berkeyakinan pasti sumber yang keluar dengan warna agak keputihan itu memiliki dampak postif padanya. Meminum dan menyelamkan diri setelah basah sekujur tubuhnya, kini menjadi kuyub. Setelah itu berangkatlah ke pasar melanjutkan tujuan menjual ayam.

Siaran corong berbunyi di Masjid. Ternya kabar duka kampung itu; Mak Mbe itu telah berpulang ke rahamtulloh. Niman yang berjalan terus, karena dirinya bukan orang warga daerah tersebut. Hanya menatap rasa simpati dan berduka atas dirinya, teruslah berjalan melanjutkan tujuannya.

***

Setahun Kemudian. Musim telah berganti dari musim hujan berganti musim panas. Musim itu selalu setia datang walau  tidak tepat waktu. Bulan rebbe6 dalam kalender masehi April biasanya sudah mulai kemarau. Air dari Nangsokah tidak pernah menjadi masalah warga Kampung Konyik itu. Tapi sudah berbeda dengan musim kemarau tahun ini. Musim tidak tepat waktu dan teratur mengakibatkan resah masyarakat.

Nangsokah biasanya tidak pernah seperti tahun ini, walau musim panas tidak seperti ini. Warga kebingunagan dan bertanya-tanya tentang fenomena kekurangan air ini. Air Nangsokah yang biasanya dalam satu hari masih bisa mengisi tiga kamar mandi, beda dengan tahun ini sumber kecil untuk mengisi kamar mandi Masjid tidak terpenuhi. Santri dan kiayi pada kebingungan. Mak Mbe yang sudah meninggal satu tahun lalu tidak ada lagi warga paling bisa diajak untuk dimintakan solusi mengenai kejadian seperti ini. Anak dari Mak Mbe tak dapat meneruskannya.

Nuralim seorang kiyai di masjid itu merasa bingung, apalagi kalau sudah hari jumat, bagaimana jadinya kalau tidak ada air akan mengambil wuduh kemana para jemaah solat jumat. Mau tidak mau harus ngambil wuduh dari rumah masing-masing, dalam hatinya berkata ini rumah Allah masak tidak ada air untuk orang yang menyembahnya. Dalam pikiranya tidak ada hentinya mencari solusi mengenai hal tersebut.

Pada malam jumat selanjutnya musawarah diadakan oleh Nuralim, selaku tokoh masyarakat. Dalam kegiatan yang biasa dilakukan bergantian disetiap malam jumat, yang dikenal dengan berkumpul membaca yasin. Dan tepat giliran kumpulan tersebut, di rumah almarhum Mak Mbe.

Setalah kegiatan sudah usai. Warga masih berkumpul biasa membicarakan tentang tani, bagi petani, bagi sopir tentag penumpang, bagi yang pedagang bicara keuntungan, pembahasan berwarna dari setiap warga. Tanpa warga lain berpikir tentag solusi mengenai kemarau yang melanda di Kampung Konyik. Mungkin yang lain hanya menganggap hal biasa. Nuralim meluapkan perbincangan nalurinya dengan masalah air yang semakin hari berkurang bahkan sampai kosong kamar mandi Masjid, mengingat esok sudah hari jumat. Maka melontarkan perkataan.

“Begini bapak-bapak, mumpung ingat dan di rumahnya Mak Mbe, bagaimana masalah air di kampung kita ini kok, semenjak Mak Mbe tidak ada. Air di Nangsokah sumber air sepeti tambah kecil. Bukan Nangsokah yang kurang, tapi semua warga yang 25 rumah daerah ini kekurangan air, separuh dari masyrakat Kampung Konyik kekurangan air, saling rebutan juga, dulu walau saling rebutan masih tetap lancar sumbernya dan tidak seperti tahun ini, ayo kita pikirkan ini!”.

“Iya, sauuttnya. Memang saya sendiri yang ada di sini kekurangan air padahal dekat dengan sumber. Untung saja untuk memberi minum sapi masih ada leke7 yang biasa diambil oleh Dek Siseh. Mak tak pernah mesen apa-apa mengenai Nangsokah, sebelum meninggalnya. Cuma pernah berkata kalau Nangsokah mengeluarkan sumber berbeda airnya, seperti air keluar putih kecoklatan tanpa sebab apa-apa kalau air itu di minum dan kalau sampe mandi maka keselamatan bagi orang-orang yang meminum dan mandi air itu. Karena bisa selamat panjang umur dan akan bisa kebal. Dan aku tidak percaya itu”. Ujar Marsukan anak kedua Mak Mbe, menjwab pertanyaan Nuralim.

“Lalu apa ya, penyebab air ini berkurang, tanda-tanda mulai dari Mak Mbe tiada. Apakah dulu sebelum meninggal Mak Mbe berpesan, Kan?”,

“Tidak ada Gus”, jawab dengan singkat Marsukan. Namun saudaranya Marsukan menjawab yang bernana Siseh itu.

“Tidak ada setauku, tapi setiap tahun biasanya melakukan selemetan massak tajin8 setiap Jumat Legi tepat biasa di bulan rebbe tapi hanya Mak yang melakukan doa itu. Aku hanya menyiapkan bubur beras, jajan tujuh warna, lalang, dan daun panggeil. Aku tidak pernah percaya gituan hanya ikut kata orang tua aja. Biasanya kepalan nasi satu piring setelah didoakan beserta dengan kopi satu gelas dibawakan ke Nangsokah. Dan Mak membiarkan di sana berhari-hari.”

“Tunggu dulu, aku pun tidak percaya dengan hal seperti itu”. Ujar Nuralim lalu bergegas dan berpikir.

“Bapak yang lain tidak ada solusi lain, atau pendapat?”

“Itu dilarang di Agama Gus, pecaya hal seperti itu, musrik, sudah ini ujian Allah Swt”. Ubai anak dari ustad kampung sebelah setelah pulang dari pondok di salaf garis keras di Lamongan.

“Kita pikirkan bersama bapak-bapak karena ini masalah bersama sebagai warga”.

***

Nuralim masih berpikir tantang hal itu. Berkumpul pun telah usai, semua bergegas pulang. Setiba dari masjid seorang guru kepada murid sudah biasa meminta pijet. Kedua santri yang biasanya disuruh menyalahkan air namanya Mashudi dan satunya Satikan. Mashudi yang rajin mengaji menjadi andalan di Masjid ini menganai adzan, mengaji, dan bahkan bisa dikatakan juru masjid dan menjadi senior angakatan itu. Satikan pemuda yang setengah gila bawaan sejak lahir itu sering ke masjid berbaur dengan santri walau tidak begitu waras sering kali tenaganya dibutuhkan di Masjid khsusunya urusan mengambil air orang dua itu paling sering menyalakan air ketika musim kemarau tiba, bisa dikatakan paling berhasil kalau menyalakan air ketimbang santri lain, yang selalu gagal menghidupkan air dari Nangsokah itu.

Percakapan sambil mijet guru ngaji itu berlangsung. Keduanya awalnya tiduran, bergegas kala guru ngaji Nuralim menyuruh untuk memijetnya. Perbincangan disampaikan pada saat di rumah Mak Mbe oleh Nuralim, mengenai pembahasan Nangsokah itu yang belum pernah ada titik temunya. Lontaran perkataan itu, kekeduanya, dan pijetan sudah dimulai, dimualai dari memijet kaki lalu ke pinggang guru ngajinya.

“Gimana ini Kan?,, air kok kurang terus”, warga hanya pasrah dengan keadaan semua sepertiya dianggap hal biasa”. Dengan keluh kesah serasa capek memikirkan ini. dengan ketawa mengejek menanyakannya.

“ Iya man, capek semua setiap pagi menyalahkan air, Kak Mashudi samape galau hehe”.

“Gimana Dii?, ada solusi dengan Nangsokah airnya kok kecil, untuk ngisi kamar mandi masjid aja satu malam tidak cukup, sudah mati dari sananya karena sumberkanya kecil”.

“Mungkin minta rokat man Nangsokah itu, dulu masih ingat gak Kan?, pertanyaan ditujukan ke Satikan. Kalau dulu itu kita pernah diceritakan sebelum meninggal, Mak Mbe pernah bermimpi kalau Nangsokah minta di rokati setiap tahun, dia bilang gitu ke kita berdua”.

“Iya Man baru ingat aku!” ujar Satikan.

“Benar Mak Mbe bilang gitu?,” Secara bersamaan mereka menjawab

“Bennar Maann!….”

“Selama Mak Mbe ada kok belum ada rokat?”

”Mungkin ada, tapi Mak Mbe merahasiakan itu Man, karena Mak Mbe tidak ada pesan yang disampaikan ke kita ini menjadi pesan, kalau Mak Mbe telah tiada Man!”

“Sudah jelas tanda-tanda yang disamapaikan Siseh tadi…!”

“Bulan depan kita ada rokat cong, mau kabarkan ini ke Marsukan dan Siseh siapa tahu ini jalan lancarnya air kita ini”. Itulah yang disampaikan guru kepada muridnya.

Memijatpun berlanjut kala semuanya jelas. Seorang guru dipijat sambil tidur pun sudah biasa. Dirasakan seorang santri. Kekesalan dan merasa ngantuk telah menghampiri kedua santri. Meninggalkan guru dalam keadaan yang tertidur bukan sebuah melanggar etika, karena sudah terbiasa sampai tertidur langganan mereka berdua.

***

Matahari belum saja menyinari bumi namun kokok ayam telah ramai, bersamaan dengan kicauan burung di bukit Rongmaron itu, menjadi irama kala pagi di Kampung Konyik. Nuralim dengan santri yang telah usai mengaji subuh bergegas untuk segera pulang, bagi para santri yang tidur di masjid dan mengaji subuh di Masjid. Corong masjid yang berbunyi pagi-pagi bukan adzaan, melainkan tentang pengumuman mengenai rokat yang akan diselenggarakan pada jumat depan bertepatan dengan Jumat Legi.

***

Ubai alumni Pondok Salaf itu yang pintar tidak menghadiri acara itu karena tidak percaya dengan hal itu. Dianggap musrik dan sebagainya. Siseh dan Marsukan termakan dengan ucapannya sebagai darah keturunan Mak Mbe, tidak mengikuti acara rokat tersebut. Dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan hingga menjadi masalah baru.

Semua warga akan menanyakan tentang hal itu. Apa tujuan dari rokat itu?. Berkata Musrik di agama Islam tidak ada-lah. Rokat telah dilaksanakan. Beberapa hari kemudian pasca rokat. Masyrakat tidak sadar akan dampak rokat itu, bahwa sumber dari Nangsokah itu tidak kalah lagi airnya menjadi lancar. Bahkan Niman waktu mendengar adanya Rokat dari desa Kelbung itu dia datang, dengan rambut yang begitu panjang dan lebat lantaran rambut panjang bukan keinginannya melainkan tidak bisa dipotong. Kepada Nuralim Niman bercerita mengapa tidak bisa dipotong, pasca meminum dan mandi di sumber Nangsokah kala airnya itu keluar dengan beda, tidak selayaknya air yang sekarang saya minum.

Setiap warga sudah diundang. Seluruh warga masyarakat Konyik dan kampung sebelah mengikuti acara tersebut. Dan itu bentuk perayaan dengan rasa syukur. Memberikan persembahan isi alam yang terkadang dilupakan.

“Bapak dan Ibu semuanya yang telah hadir pada siang ini. Rokat ini bukan bertujuan menyembah Nangsokah atau memberikan sesaji agar kita menjadi musrik. Tidak ada kebaikan yang dilakukan ini dan hari ini bentuk dari kemusrikan, sebagai makhluk hidup kita harus juga menghormati makhluk hidup lain, yang gaib maupun yang tidak, Mak Mbe kita doakan bisa tenang di alam sana sebagai juru kunci dan Nangsokah ini sebagai sumber air pasti ada yang harus kita rasakan di luar nalar kita sebagai bentuk menghormati satu sama lain ciptaan Allah Swt. Setiap tahun mari kita jadikan agenda rokat ini, setiap Jumaat legi pada tanggal 25 musim panas kita selenggarakan sebagai rutinan”.

Nuralim pada awalnya menganggap musrik acara rokat itu. Setelah menemukan kita primbon walin songo yang konon milik Ki Kanjeng Sunan Kalijogo. Setelah membaca kitab itu arah pemikirannya tidak konservatif. Dan kini menjadi kiyai yang inspiratif mengembangkan Agama Islam. Masyarakat mengakui dengan banyaknya warga datang ke rumahnya meminta hari baik untuk berpergian, mencari ilmu, bahkan untuk mencari rejeki.

Catatan:

  1. Nangsokah: Nang: laki-laki. Sokah: boros. Namun Nangsokah nama sumber mata air di daerah Kampung Konyik, sumur air tertua.
  2. Iyeh cong : iya nak dalam bahasa Indonesia.
  3. Pamor : bentuk ukiran yang ada di dalam pusaka dianggap symbol keramat pada pusaka
  4. Konik : sedikit.
  5. Rokat : sebuah syukuran yang memiliki objek pada suatu tembat di pohon besar karena percaya kalau tempat tersebut memiliki penunggu yang harus kita hormati pula.
  6. Rebbe : bulan sebelum bulan Ramadan.
  7. Leke : sebuah aliran air yang bersumber dari gunung.
  8. Selamtan memasak tajin: berdoa dengan menyuguhkan masakan bubur da nada camilan 7 bentuk, lalu ada ilalalang sebagai symbol kesukaan para nenek moyang yang telah tiada, adat ini masih kental di Kampung Konyik.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini