Sumber Mata Air Wendit dan Simbol Kemakmuran

sumber-mata-air-wendit-dan-simbol-kemakmuran
Sumber air Wendit 1900 diabadikan fotografer Neville Keassberry

Terakota.idAir jenih mengalir di sebuah kolam seluas lapangan bola voli. Sekeliling kolam bernama sendang Widodaren ini tertutup tembok. Di sini dipercaya sebagai sumber air kuno yang terus mengalir sampai sekarang. Mata air Wendit merupakan salah sumber satu mata air yang berusia ratusan tahun.

Menurut buku “Sejarah Daerah Malang Timur : Mengenal Toponimi Daerah dan Sejarah Desa di Daerah Pakis” karya Devan Firmansyah dan Febby Soesilo, sumber air ini memiliki sejarah panjang. Konon sejak era Majapahit tempat ini merupakan tempat favorit bagi selir Raja pertama Majapahit, Raden Wijaya. Juga tempat Raden Wijaya bersemedi dan ritual.

“Air yang mengalir dipercaya memberi aura dan membuat awet muda,” tulis Devan. Lokasi sumber air Widodaren berada di Desa Mangliwan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Masyarakat Desa Mangliwan melestarian kawasan dan mempertahankan sumber air meski dikelilingi permukiman padat penduduk.

Potensi sumber air yang melimpah sumber mata air Wendit memasok kebutuhan bahan baku air minum warga Kota Malang dan sekitar Mangliawan. Selain bahan baku air minum juga menjadi pasokan utama irigasi untuk persawahan warga setempat. Kawasan ini juga dikelola sebagai tempat wisata dan rekreasi keluarga bernama Wendit Water Park oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Malang.

“Agar Wendit terjaga diberlakukan pengawasan ketat bagi wisatawan agar tak mengganggu kualitas air dan lingkungan,” tulis Devan.

Sumber air Wendit juga menjadi habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis. Selama ini, sebagian mencari pakan dengan memakan lumut, dan buah pohon beringin (Ficus benjamina) dan pohon lo atau loa (Ficus racemosa). Monyet ekor panjang ini dipercaya merupakan hewan peliharaan Mbah Kabul, yang kini dimakamkan di samping sumber Widodaren.

sumber-mata-air-wendit-dan-simbol-kemakmuran
Dua orang dari Eropa menikmati keindahan dan kejernihan sumber air Wendit pada 1900. (Foto : KITLV)

Juru kunci punden Mbah Kabul dan Sedang Widodaren, Mbah Soleh mengaku dipercaya sebagai juru kunci lebih dari 15 tahun. Juru kunci diwariskan secara turun temurun dari leluhurnya. Ia bertanggungjawab terhadap kebersihan dan keamanan punden dan sendang tersebut.

“Menurut Mbah dulu, awalnya Mbah Kabul merawat dua ekor monyet. Kemudian berkembang menjadi satu kelompok,” katanya.  Lantas populasi semakin bertambah seperti sekarang. Mbah Kabul sendiri merupakan seorang brahmana yang diutus Raja Majapahit pertama Raden Wijaya (1293-1309) untuk menjaga sendang suci Widodaren.

Masyarakat adat Tengger juga mempercayai sumber air di sendang Widodaren terhubung dengan sumber air di gua Widodaren Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sehingga setiap tahun dilakukan ritual tirta aji atau pengambilan air suci saat musim tanam. Upacara dilakukan masyarakat adat Tengger di lereng Gunung Bromo, dipimpin dukun atau ketua adat setempat.

Sebagian masyarakat adat Tengger membawa tumpeng, saat hari raya ketupat atau sepekan setelah Idul Fitri. Tumpeng tersebut menjadi santapan monyet yang mendiami Wendit. Bahkan sebagian petani di Tengger membawa hasil bumi seperti kentang, kubis, kambing, ayam dan bawang. Sembari berdoa agar hasil bumi melimpah.

Soleh berharap pedulian sesama, lantaran tak banyak yang memikirkan monyet di Wendit. Yang penting, katanya, monyet bisa makan. “Ayo bagi rezeki untuk sesama makhluk Tuhan. Batin tenang, kalau monyet sudah makan. Kalau lapar, menjadi nelangsa,” ujarnya.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini