Sukmawati Soekarnoputri : Cintai Seni dan Budaya Leluhur

Sukmawati Soekarnoputri menunjukkan poster Bung Karno yang telah ditandatangani. (Terakota.id/Eko Widianto).

Terakota.id–Mengenakan stelan pakaian berwarna merah, Sukmawati Soekarnoputri mengamati setiap koleksi kaset, piringan hitam dan cakram padat di Museum Musik Indonesia (MMI). Sesekali dia mendengarkan beragam lagu lawas yang terpancar dari pengeras suara. Lagu lawas menggema mengingatkannya dengan kenangan masa lalu.

“Belum lengkap, masih sebatas arsip, penyimpan dan mengoleksi lagu,” katanya saat mengunjungi (MMI), Senin 26 Maret 2017. Pemilik nama lengkap Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri ini menceritakan pengalamannya mengunjungi museum film di Shanghai, Cina. The Shanghai Film Museum ditata dan didesai secara modern.

“Lahannya luas, memadukan dengan teknologi informasi,” kata Sukmawati. Bahkan, setiap wisatawan yang hadir didampingi pemandu yang menjelaskan koleksi, dan beragam fasilitas museum. Bahkan dilengkapi dengan penataan cahaya yang spektakulet.

Dia juga berharap pemerintah setempat ikut memperhatikan kesenian tradisional, dan warisan budaya leluhur. Sehingga MMI bisa berkembang menjadi museum yang memiliki koleksi lengkap dengan instrumen musik nusantara. Seperti gamelan yang menjadi salah satu instrumen musik yang dikagumi bangsa lain.

“Harus studi ke luar negeri. Ini bisa menjadi cikal bakal museum musik. Jangan cepat puas dengan pencapaian saat ini,” kata adik dari Megawati Soekarnoputri ini.

Sukmawati Soekarnoputri mengagumi seni dan budaya tradisional. Mulai dari instrumen, khasanah musik nusantara, lagu, tari dan produk kebudayaan lainnya. Ia mengaku kecewa dan trenyuh karena generasi muda mulai melupakan kesenian tradisional.

“Orang luar belajar bermain gamelan, tapi anak muda di sini justru tak mengenal gamelan,” katanya. Ibu dari pekerja seni GPH Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara ini juga seorang penari sangat mengumi gamelan termasuk instrumen musik tradisional yang lain. Sedangkan MMI telah memiliki sejumlah 35 instrumen musik tradisional nusantara.

“Tapi belum cukup. Seharusnya ada satu set gamelan lengkap seperti di istana mangkunegaran,” ujarnya. Ia mengaku bangga dengan pemuda bali yang akrab dengan seni tradisi mulai tarian hingga pakaian tradisional. Sementara di sejumlah daerah, seperti di Jawa anak muda enggan atau malu berpakaian tradisional.

“Seni budaya merupakan ciri khas sebuah bangsa, perkembangan peradaban,” katanya. Sementara Indonesia memiliki ragam kesenian, mulai musik, tari dan yang tak dieksplorasi para seniman untuk menjawab kemajuan jaman. Sementara sejumlah negara mampu memadukan musik, dan tari menjadi pertunjukan yang menarik.

“India berhasil memadukan itu dalam film dan seni pertunjukan,” ujar Sukmawati. Kini, Korea dengan K-POP mulai mengembangkan industri musik dan pertunjukan untuk mengenalkan ke pentas dunia. Untuk itu, Sukmawati menantang seniman untuk memadukan kreasi antara musik modern dengan tradisional.

“Sementara ini ada Guruh dan Djaduk Ferianto,” katanya. Sukmawati menuntut kepedulian pemerintah untuk memajukan dan mengenalkan seni dan budaya bangsa di forum internasional. Termasuk membantu mengembangkan MMI agar menjadi museum yang layak menjadi tujuan wisata dan pusat studi musik di nusantara.

Seni budaya, katanya, merupakan ciri sebuah bangsa. Seni budaya penting sebagai wujud dari perkembangan peradaban. Sementara Indonesia memiliki beragam kekayaan khasanah musik nusantara. “Kita melupakan. Masyarakat melupakan kultur, mulai musik, fashion hingga kesenian. Tapi bangga dengan budaya asing.”

Seniman Indonesia, katanya, bisa mengkreasi musik memadukan seni tari, dan pakaian tradisional busana.

Musik Ngak Ngik Ngok dan Semangat Patriotik

Sukmawati Soekarnoputri berbincang dengan pengelola Museum Musik Indonesia. (Terakota.id/Eko Widianto).

Dia mengingat Presiden Soekarno yang melarang musisi memainkan musik ngak-ngik-ngok yang kebarat-baratan. Koes Bersaudara harus meringkuk di balik jeruji besi mulai Juni 1965 karena musiknya dianggap kontra revolusioner, dan tak patriotik “Bung Karno melarang agar negara berkarakter. Tak meniru musik barat.”

Waktu itu, katanya, situasi politik tengah memanas dan dilanda konfrontasi dengan Malaysia. Untuk menghadapinya, kata Sukmawati, Presiden Sukarno membangkitkan jati diri bangsa.

“Lagu saat itu harus kokoh, patriotik, dan menggelorkan semangat perjuangan. Seperti karya Ismail Marzuki yang menyampaikan cinta tanah air, dan kebangsaan. Sedangkan Koes Bersaudara hanya cinta-cintaan.”

Pendiri sekaligus Ketua MMI Hengki Herwanto berharap dukungan dari semua pihak untuk mengembangkan museum. Selama ini, MMI dikelola secara swadaya dengan sistem sukarela. “Sudah banyak mahasiswa dan seniman yang melakukan penelitian di sini,” katanya.

MMI berada di gedung kesenian Gajayana Malang, Jalan Nusakambangan Kota Malang.  MMI berdiri sejak setahun lalu, awalnya bernama Galeri Malang Bernyanyi berdiri sejak 8 Agustus 2009. Kumpulan kaset, poster, pin, piringan hitam, sampai foto-foto musisi Indonesia melengkapi koleksi. Tak hanya koleksi musik dari dalam negeri, sejumlah rekaman musik klasik dan country dari luar negeri juga tersedia.

Sampai saat ini dilakukan digitalisasi lagu, dilakukan bertahap. Tahap pertama 14 ribu lagu dan tahap kedua 14 ribu lagu dari total sekitar 180 ribu lagu.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini