Sugeng Tindak Mak Yem, Emak bagi Para Pendaki Gunung Semeru  

Mak Yem. (Foto : Toni Artaka).

Terakota.id—Para pendaki Gunung Semeru kehilangan kedua “Orang tua” mereka. Pak Toemari dan Mak Yem dikenal sebagai salah satu pasangan suami istri di Ranupani, Lumajang yang akrab dengan para pendaki. Kabar lelayu tersebut disampaikan Trianko Hermanda di group Facebook Sahabat Gimbal Alas, 3676 mdpl.

“Pada hari ini tgl 20 juli 2021, mak yem menyusul kepergian pak tumari. sugeng tindak mak …,” tulis Trianko. Pak Toemari meninggal usia 93 tahun pada  9 Januari 2021 pukul 16.31 WIB. Para pendaki, biasa makan dan menginap di rumah Toemari. Sedangkan Toemari tak memungut biaya. Atas kebaikannya itu, ia dianggap legenda hidup Semeru. Serta dianggap sebagai orang tua sendiri bagi para pendaki.

Bahkan, aktivis mahasiswa Soe Hok Gie sempat singgah di rumah Pak Toemari sebelum naik ke puncak. Soe Hok Gie merupakan aktivis mahasiswa dan tercatat sebagai anggota mahasiswa pecinta alam (Mapala) Universitas Indonesia yang meninggal di puncak Semeru karena keracunan.

Ungkapan kehilangan atas kepergian Mak Yem juga disampaikan pegiat lingkungan Andik Iskandar yang lebih kenal disebut Andik Gondronk. Ia menyampaikan keramahan kedua pasangan suami istri ini. Keduanya selalu menawari Andik makan, saat ke Ranupani.

Mangana ndik (pak tumari) atau mangana pak andik (mak yem)”… Sudah tidak akan terdengar lagi di telinga saya…. Tugas njenengan sebagai ” Bapak dan emaknya pencinta alam dan pendaki Semeru sudah selesai di dunia sehidup semati…..Insyaallah swargi  ingkang ngerantos njenengan sedoyo…. Aamin….” tulis Andik.

Sementara pemilik akun Nora Oya’ menuliskan kisah perjalanan hidup dan interaksinya dengan Pak Tumari atau akrab disapa Pak Ri dan Mak Yem. “….Januari 2021 pak Tumari juga berangkat setelah sakit beberapa waktu. Pak Tumari yg selalu berperan sbg ayah buat kami bertiga. Pak Ri yg memang selalu sebagai ayah di hati saya yg terdalam.  Lelaki tua legendaris dari kaki gunung Semeru ini pula lah yg berperan sbg orang tua saat pemberkatan perkawinan kami dilaksanakan secara adat Hindu Tengger pd tahun 1992. Mak Yem yg adalah istri pak Ri adalah ibu bagi penduduk asli Ranupane ini juga yang menangisi Bondhan, saat Bondhan sempat menyambanginya dan pak Ri di Tumpang dan Ranupane, pada November 2020. Mak Yem yang penyayang dan penyabar ini lah yg terpatri sebagai ibu kami di Ranupane. Lalu secara mendadak sore ini kabar kepergian mak Yem sampai pada saya dan Bondhan. Kini, tinggal saya dan Bondhan yg masih harus menapaki jalur setapak kehidupan seperti setapak disekitaran Ranupane, turun – naik, kadang penuh belukar tapi juga kadang lapang dan bersih. Selamat berkumpul di surga buat kalian. Doakan kami yg masih harus berjuang di dunia ini ya.  Kenangan akan langit biru dan dingin menusuk Ranupane  akan selalu ada dalam hati kami. Kini Ranupane tidak akan pernah sama lagi,” tulis Nora.

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), Toni Artaka juga menyampaikan kehilangan dalam beranda Facebook. Bahkan, ia sempat berkomunikasi dengan Mak Yem sehari sebelum meninggal.

“…………Sungguh beliau adalah sosok emak yang mboisss, yang bisa menjadi emak bagi siapa saja. Bahkan sehari sebelum meninggal, beliau masih sempat video call dengan sedulur Tarpin Mboysh Lop yang sedang sakit, untuk menyemangati dan mendoakan kesembuhannya……………,” tulis Toni dalam akunnya Ki Aksara.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini