Suciwati : Almarhumah Tenang dan Sedang Diskusi dengan Cak Munir

Terakota.idDionysius Utomo Rahardjo mengantar jenazah Genoveva Misiati Oetomo ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman umum Ngujil Kota Malang. Kedua pasangan suami istri ini selalu bersama untuk menuntut keadilan.

Menagih janji mengungkap kasus penghilangan paksa putra ketiganya, Petrus Bima Anugrah alias Bimo Petrus (Bimpet). Aktivis mahasiswa anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang menjadi korban penghilangan paksa pada Maret 1998.

Berdua, selama 20 tahun mencari keadilan sampai melaporkan kejahatan kemanusiaan yang dialami Bimo ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Berulangkali menyambangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, DPR, Kementerian Hukum dan HAM, dan Markas Besar TNI. Namun, sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Suciawati dan pegiat aksi kamisan di Malang menghadiri pemakaman Genoveva Misiati Oetomodi pemakaman umum Ngujil Kota Malang. (Foto : Julia Rachmawati).

Utomo tetap menyuarakan untuk mencari keadilan bersama dengan Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI). Bimpet sempat berjanji kepada Misiati akan pulang ke rumah di Jalan Tumenggung Suryo Gang II, Malang pada perayaan Paskah 1998. Setelah tak bisa merayakan Natal 1997 bersama keluarga besarnya. Namun, hingga kini Bimpet tak juga kembali.

“Ibu selalu memanjatkan doa untuk Bima,” ujarnya. Sepanjang hidupnya Misiati terus memanjat doa agar ditemukan pelaku penghilangan paksa. Dipertemukan jika masih hidup atau ditunjukkan makamnya jika telah meninggal. Hingga akhir hayatnya, Misiati menanti janji penuntasan kasus penculikan Bimo Petrus.

Misiati juga aktif dalam IKOHI serta berulangkali melakukan aksi Kamisan di depan Istana Merdeka Jakarta. Namun, sejak tiga tahun terakhir tak aktif lantaran kesehatannya terus menurun. Saat awal berdiri IKOHI, Utomo Rahardjo menjadi Ketua IKOHI.

“Ibu sudah tak berharap banyak, janji Presiden Joko Widodo juga tak dibuktikan,” kata Utomo. Apalagi, katanya, pelaku pelanggaran HAM berat berada di sekeliling Presiden Joko Widodo. Misiati meninggal Senin 6 Agustus 2018, pukul 05.30 WIB. Genap berusia 76 tahun, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Panti Nirmala.

Sejak Mei, Misiati menjalani perawatan selama enam kali di Rumah Sakit, tanpa pengetahui penyakit yang dideritanya. Sejak Mei mengeluh sakit di perut sebelah kiri dan mual. Sebelumnya, Misiati memiliki riwayat penyakit jantung.

Utomo menjelaskan selama menjalani perawatan, Utomo menyuapi Misiati dengan air minum. Hanya beberapa tetes, kemudian kedua mata Misiati memejam. Sadar, istrinya meninggal Utomo mengaku ikhlas, “selamat jalan ibu. Saya ikhlas.”

Sejumlah perawat dan dokter memeriksa dan menyatakan Misiati meninggal. Keluarga, saudara, dan teman-teman Misiati di gereja dan guru berdatangan memberikan doa terakhir untuk mendiang. Termasuk teman-teman Bimpet mengantarkan jenazah sampai ke liang lahat di pemakaman Ngujil Kota Malang, Selasa 7 Agustus 2018.

Suciwati, istri pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib di antara para pelayat.  Munir memiliki kedekatan dengan para keluarga korban orang hilang. Munir sampai akhir hanyatnya yang mendampingi keluarga korban mencari keadilan. Saat Munir meninggal, kata Suciwati, keluarga korban sangat kehilangan. Termasuk Misiati.

“Kehilangan Cak Munir pukulan berat bagi mereka. Kepada Cak Munir selama ini mereka bersandar,” kata Suciwati.

Ia menilai sosok Misiati merupakan ibu yang luar biasa, bersama Utomo harus bolak balik Malang-Jakarta untuk menuntut keadilan. Selama 20 tahun, katanya, waktu yang tak sebentar. Selama ini keduanya konsisten bersama keluarga korban lain terus menyuarakan dan menuntut keadilan.

“Dari sekian keluarga korban, satu per satu meninggal. Almarhumah tenang berdiskusi dengan Cak Munir.” Presiden Jokowi, katanya, beberapa waktu lalu bertemu dengan Ngantiwani, anak penyair dan aktivis PRD Widji Tukul. Dalam pertemuan Jokowi berjanji untuk mengungkap pelaku penghilangan paksa pada zaman Orde  Baru.

“Tapi janji tinggal janji. Hampir empat tahun, tapi nol besar.”

Menurutnya, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tinggal mendorong ke pengadilan HAM. Tapi sepi, tak ada perkembangan sampai sekarang. Untuk itu, ia mengajak masyarakat kritis, tak mudah dimanfaatkan pihak tertentu dengan menumpangi isu HAM untuk mendapat kekuasaan.

Setelah mendapat kekuasaan, katanya, mereka lupa dan menikmatinya. Namun tak membawa rasa keadilan kepada keluarga korban. Penting, kata Suciwati, kedepan untuk sadar banyak politisi yang memanfaatkan isu HAM.

“Jokowi naik menjadi Presiden menggunakan isu HAM, Setelah berkuasa, kita ditikam dengan mengangkat penjahat HAM.” Untuk itu, ia berjanji untuk menagih janji peradilan bagi pelanggar HAM siapapun Presidennya. Menjelang tahun politik, katanya, banyak yang memanfaatkan isu HAM.

Selain itu, anak muda perlu mengetahui sejarah bangsa Indonesia. Bahwa, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dinikmati saat ini karena  pengorbanan aktivis pro demokrasi yang berani saat itu. Mereka menjadi martir. Aksi mereka dianggap berbahaya bagi Negara otoratarian zaman Soeharto sehingga mereka diculik dan dihilangkan paksa.

Foto pernikahan Dionysius Utomo Rahardjo dan Genoveva Misiati Oetomo 7 Agustus 1971. (Foto : Repro Julia Rachmawati).

Ratusan orang terdiri dari keluarga, dan sahabat berdiri di atas pusara Misiati di pemakaman umum Ngujil. Hari ini, Utomo Rahardjo melepaskan dan mengikhlaskan Misiati. Hari ini pula tepat 47 tahun, peringatan pernikahan keduanya. Diperingati dengan haru.

Sampai saat ini, Utomo menyimpan foto pernikahan dan undangan pernikahan 7 Agustus 1971. Semua tersimpan rapi di rumahnya. Sekaligus menyimpan kenangan di rumah yang ditempati bersama Misiati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini