Suatu Hari dalam Sejarah Hidupmu!

Terakota.id – Saya berlari-lari kecil, mencari-cari keringat dan guyuran sinar mentari sambil bermasker. Agak ribet juga – tapi ini telah mendorong suatu kebiasaan baru.

Dan, ketika kemudian duduk-duduk di kursi goyang, meraih buku Arnold J Toynbee Change and Habit, The Cellenge of Our Time (1966/1992), mendadak muncullah judul tulisan saya di atas: apa yang kau lakukan hari-hari ini ialah bagian penting dalam sejarah dalam hidupmu. Kau sedang berada di hari-hari ketika tulisan-tulisan diberi garis bawah!

Hari-harimu ialah sejarahmu. Kalau kita tak jeda sejenak, barangkali kita tak ketemu kalimat itu. Karena, hari-harimu rutinitas. Dalam rutinitas, sering tidak kau sadari bahwa, hari-harimu ialah sejarahmu. Itu tak salah. Sebab, dalam rutinitas, yang ada kebiasaan. Tapi, bukankah hari ini kita sedang jeda? Kita banyak diam di rumah masing-masing. Dan itu, justru tindakan herois!

Sejarah bergerak dalam perubahan – sekecil apapun ia. Ketika kebiasaan terinterupsi kekuatan besar, yang biasanya, yang usang terdesak yang baru, mau tak mau. Kebiasaan lama bergeser. Sejarah bergerak. Seringkali tak terduga.

Kalau Toynbee, sang sejarawan agung masih “sugeng”, barangkali dia akan mencatat bahwa pandemi ialah kekuatan besar yang menuntut, kalau bukan memicu, perubahan besar. Pandemi, dalam hal ini, bukan sekadar penyakit yang bisa dijelaskan penularannya secara saintifik dan medis, berskala antar-benua.

Ia fenomena sejarah. Sejarah sering terpicu kekuatan besar yang kehadirannya mendadak, tak terduga – nyaris tak tampak sebelumnya. Banyak hal tak tampak yang lazim disadari belakangan. Inilah yang seringkali membuat penentu kebijakan, tak bisa mendahului kehendak. Ketidaktampakan dan ketidakpastian, bahkan seringkali memperoleh respons yang salah – pada awalnya.

Pandangan bahwa pandemi ialah kekuatan besar barangkali terlampau politis – tapi perubahan ialah politis, tak terelakkan lagi. Sejarah memerlukan politik. Bahkan sejarah, seringkali ialah politik itu sendiri. Toynbee termasuk sejarawan yang tak mengelak dari konteks pertarungan-pertarungan besar yang mengemuka dalam sejarah, tetapi dia selalu optimis, sebagaimana disebutnya: “The only real struggle in the history of the world … is between the vested interest and social justice.” Kepentingan terbatas, tak lebh baik dari keadilan sosial.

Sejarawan mutakhir Yuval Noah Harari menulis artikel di The Financial Times (21/3/20), “The World After Coronavirus”. Menurutnya, kemanusiaan dalam era generasi kita kini, menghadapi krisis global terbesarnya. Keputusan yang diambil, bisa sangat berpengaruh ke depan. Dunia macam apa yang bakal kita huni setelah badai berlalu? Kemanusiaan akan bertahan, sebagian besar dari kita tetap hidup. Tetapi, kita akan menghuni sebuah dunia yang berbeda.

Dunia yang berbeda? Dunia macam apakah ia? Segi-segi apa yang berubah? Pertanyaan-pertanyaan ini mempersyaratkan imajinasi. Sejarah masa depan memerlukan basis imajinasi yang kokoh. Inilah yang membedakannya dengan sejarah masa lalu yang memerlukan kecanggihan interpretatif. Kini kita membutuhkan keduanya, baik interpretasi – sebagaimana banyak disebut Toynbee – maupun imajinasi, yang banyak mengemuka dalam buku-buku Harari, terutama Homo Deus.

Kita bisa mencandra dunia pasca-Covid-19 dari imajinasi filosofis yang berkonteks kemanusiaan. Dunia macam apakah pasca-Covid-19 dari sudut pandang yang berbasis manusia?

Jawabnya tercermin dari apa yang kita lakukan hari-hari ini. Sejarah kita hari ini. Kelak, apa yang kita lakukan, akan terus diinterpretasi dan reinterpretasi. Ketika banyak negara melakukan karantina wilayah (lockdown), membatasi pergerakan manusia dari dan ke berbagai tempat, bumi juga “ikut istirahat”. Beberapa pantauan dari antariksa menunjukkan pemandangan yang berbeda di bumi kita. Langit cerah, polusi tertekan. Pandemi memberi kesempatan bumi “bernafas”. Kendati demikian, bukan berarti itu jaminan bumi akan terus lebih segar. Semua tetap tergantung perilaku manusianya.

Perilaku manusia pasca-Covid-19 berubah. Yang positif, kebiasaan menjaga kesehatan, disiplin dan hati-hati. Yang dianjurkan semasa pandemi, ialah referensi bagi perubahan kebiasaan itu. Kebiasaan berekonomi juga berubah. Ekonomi “tujuh sapi gemuk dan tujuh sapi kurus” dalam kisah Nabi Yusuf, semakin disadari relevansinya. Intinya, menabung dilakukan untuk berjaga-jaga, manakala paceklik dan wabah (pagebluk) terjadi.

Solidaritas sosial juga menemukan referensinya semasa pandemi. Manusia ialah makhluk sosial, satu sama lain berjuang menghadirkan pola-pola hubungan yang lebih baik. Kerjasama ialah tindakan yang lebih utama, ketimbang konflik. Kendati demikian, bukan berarti tidak akan ada konflik dan perang. Paling tidak ada satu pelajaran berharga, perang manusia melawan penyakit memerlukan gotong royong.

Di masa pandemi, kita dipaksa belajar lebih berempati dalam berkomunikasi sosial secara digital. Satu sama lain, saling mengingatkan agar etika komunikasi ditegakkan. Barangkali kelak, dampak dari berkembangnya empati kemanusiaan semasa pandemi, begitu berbekas dan satu sama lain semakin saling membutuhkan untuk kerjasama. Basisnya kemanusiaan.

Tindakan-tindakan dalam masyarakat, tak akan bisa lepas dari itu. Pandemi Covid-19 telah memberi pengalaman baru yang sama antarpenduduk di muka bumi. Mereka sama-sama merasa “senasib sepenanggungan”, bahu-membahu melalui strategi yang memerlukan kerjasama semua pihak, berperang melawan Covid-19. Ini akan menumbuhkan nasionalisme yang baru yang bersifat global, atau nasionalisme global yang melibatkan emosi segenap warga dunia.

Kesadaran untuk menjadi warga dunia yang baik, juga akan terus mengemuka digencarkan oleh para tokoh agama. Mereka punya peran penting dalam mensosialisasikan bagaimana harmoni terbentuk dan dijaga, sebab pada hakikatnya satu sama lain ialah entitas yang saling membutuhkan. Agama, yang tidak bertentangan dengan sains, akan memperteguh keimanan dan solidaritas antarsesama.

Filsafat humanisme atau kemanusiaan punya peluang populer kembali. Namun, ia tidak sekadar pandangan yang mengandalkan kemampuan manusia, tetapi dikolaborasikan dengan aspek spiritualisme. Spiritualitas tak akan tergusur oleh dominasi pemahaman pentingnya sains. Semasa pandemi, spiritualitas melengkapi sains. Tanpa spiritualitas, dan sekadar sains saja yang dipatuhi, kondisi manusia sekadar akan timpang semata-mata. Kekayaan batin dan khasanah spiritual, justru dibutuhkan semasa pandemi. Dan, itu akan berbekas kelak.

Pasca-pandemi, akan ada perubahan-perubahan besar dalam strategi politik global, nasional, dan lokal. Akan ada kesetimbangan baru menyusul adanya ragam kebutuhan baru dalam tata kepolitikan global. Juga, tak terelakkan, para saintis sosial akan meredefinisi isu-isu kepemimpinan, dan merumuskan aksioma-aksioma baru yang akan menjadi populer.

Namun demikian, kita juga bisa mempertimbangkan dunia pasca-Covid-19, tak terlalu jauh berubah. Kebiasaan-kebiasaan lama muncul kembali. Yang berkonflik, tetap saja lanjut. Bahkan, akan ada pola-pola konflik lanjutan yang lebih kompleks. Dunia semakin berkembang ke tradisi digital yang semakin canggih. Kapitalisme pengawasan (surveillance capitalism) akan bangkit kembali.

Negara-negara akan berjuang, dan satu per satu bangkit dari kondisi perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19. Pola kepemimpinan pasca-kondisi darurat akan mengemuka kembali. Masyarakat telah mencatat betul, gaya kepemimpinan yang dibutuhkan, justru karena memperoleh referensi langsung ketika pandemi terjadi.

Kalau diringkas, dunia pasca-Covid 19 ialah dunia baru yang terbentuk dari perjuangan manusia menyelamatkan peradabannya. Dunia yang terbentuk ialah dunia yang terbangun dari sejumlah pelajaran berharga, ketika umat manusia bersolidaritas dan bersinergi melawan musuh yang tak tampak.

Akan ada pola-pola ekonomi baru. Juga perubahan perilaku politik. Ilmu kebijakan publik juga akan merumuskan hal-hal baru. Produk-produk hukum akan lebih antisipatif merespons kondisi darurat. Produk kebudayaan juga akan lebih variatif dalam mengeksplorasi tema-tema kemanusiaan dan peradaban.

Karena tema sentral perlawanan terhadap Covid-19 ialah manusia, maka tema pembangunan yang berbasis manusia mengemuka kembali. Kendatipun, digitalisasi dan otomasi tak terelakkan, para pemangku kepentingan tetap menempatkan dimensi manusia, di posisi nomor utama. Kita berharap, dunia yang berbeda pasca-Covid-19 ialah dunia yang lebih baik, suatu peradaban yang lebih bermartabat.

Uraian ini bisa diperpanjang. Tapi, tetap saja imajinasi kita tentang masa depan, kejadian persisnya, terbatas. Asumsi-asumsi bisa bergeser cepat, membuyarkan ragam prediksi.

Hari ini, ialah hari bersejarah dalam hidupmu. Hari ketika, kita “terdesak”, terkapar, terkepung. Dan lazimnya hari-hari sejarah lainnya, hari-hari ini ialah catatan, dan kelak menjadi bahan penting bagi sejarawan untuk melakukan interpretasi, bagaimana kau ialah satu dari seluruh penduduk dunia yang tengah mengalami masa pandemi.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini