Suara Minangkabau, Merekam Budaya melalui Bunyi

Banyak hal mengenai sejarah dan kebudayaan yang ternyata tidak bisa didapatkan dalam literasi buku Minangkabau konvensional. Rani menemukan keberagaman aksen bahasa tiap nagari atau desa dan kekayaan alam mulai dari pegunungan hingga lautan.

Musisi Rani Jambak meluncurkan komposisi "Suara Minangkabau" di d'Caldera Coffee, Medan, Senin 29 Maret 2021. (Foto : dokumentasi Rani Jambak).

Terakota.idMusisi Rani Jambak meluncurkan komposisi “Suara Minangkabau” di d’Caldera Coffee, Medan, Senin 29 Maret 2021. Suara Minangkabau merupakan komposisi unik, merekam langsung berbagai bunyi-bunyian khas Minangkabau. Sebagai seorang sound recordist Rani Jambak melibatkan Evi Ovtiana seorang videografer yang merekam secara audio visual.

Mereka berburu suara seperti aktivitas di pasar, berkebun, berburu babi, melaut, rumah gadang, pemain musik tradisi, makanan tradisional, randai, sawah, perbukitan, transportasi umum, pembuatan sampan, lembah, air terjun, danau, mesjid, hewan, alat musik talempong batu, air terjun, dan laut. Rani melakukan perburuan bunyi di kota Padang, Pariaman, Ampek Angkek, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Tabek Patah,  kota Medan, dan Kisaran.

Setelah tuntas berburu bunyi dengan merekam di lapangan, Rani dan Evi mengaransemen komposisi musik dan video editing di studio. Proses komposisi, Rani menggunakan teknik sampling, eksplorasi bunyi, dan soundscapes, mengolah menjadi suguhan karya inovatif.

Rani Jambak berburu suara di pantai, sawah, pegunungan, dan pasar. Foto : dokumentasi rani Jambak).

Rani Jambak dalam siaran pers yang diterima Terakota.id menjelaskan teknik sampling merupakan proses mengambil sumber suara yang diolah menjadi suara instrumen baru. Bisa berupa melodis atau perkusif. Sedangkan soundscapes adalah suara apapun yang ada di sebuah wilayah yang dapat didengar oleh manusia. “Studi mengenai soundscapes pertama kali dipopulerkan Murray Schafer sekitar 1960-an,” kata Rani.

Suara Minangkabau dalam episode Darek disiarkan secara live streaming diikuti seniman, budayawan, dan berbagai komunitas pelaku industri kreatif dari berbagai daerah.

Rani Jambak menuturkan karyanya ini merupakan perjalanan spiritual personal. Untuk mengenal diri dan asal-usul, serta tanah leluhurnya. “Saya lahir di Medan, namun saya berasal dari etnis Minangkabau, dari suku Jambak,” katanya.

Mengenal Budaya Minangkabau

Rani mengaku banyak hal mengenai sejarah dan kebudayaan yang ternyata tidak bisa didapatkan dalam literasi buku Minangkabau konvensional. Ia menemukan keberagaman aksen bahasa tiap nagari atau desa dan kekayaan alam mulai dari pegunungan hingga lautan. “Saya pun menjumpai sistem pendidikan Minangkabau yang ada sejak dulu. Surau. Kini mulai hampir tidak bisa ditemukan lagi,” kata rani.

Menurut Rani surau dan pendidikan silat masih sangat relevan dan penting untuk generasi Minangkabau. Agar kuat secara fisik, mental, dan spiritual. Rani merasakan yang dituangkan dalam karya musik ini, sangat subyektif, dan mungkin belum sepenuhnya merepresentasikan Minangkabau.

“Itulah perspektif yang memang saya tangkap secara personal. Terutama dalam hal-hal yang selama ini belum saya temukan dalam berbagai literasi kebudayaan tentang Minangkabau,” ujar Rani.

Evi Ovtiana mengaku visual atau video yang diproduksinya mengikuti hasil komposisi suara yang dibuat Rani. Gambar mengikuti suara. Ia mengaku menemui kesulitan di lapangan lantaran bukan orang Minangkabau, dan tidak berdarah Minangkabau.

“Tantangannya saya harus bisa masuk dalam ke atmosfer Minangkabau. Sebelum turun ke lapangan, sebulan lebih saya berusaha mempelajari dan merasakan atmosfer Minangkabau,” katanya. Sehingga saat di lapangan ia turut merasakan menjadi orang Minangkabau.

Rani juga berburu suara Telempong Batu sebuah lempengan batu. Talempong Batu merupakan situs cagar budaya. (Foto : Rani Jambak).

Video seniman dan budayawan yang mengapresiasi karya Rani mengawali peluncuran komposisi Suara Minangkabau. Lantas Rani Jambak membawakan lagu Kampuang Nan Jauh di Mato dalam versi kemasan musik elektronik.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendukung Suara Minangkabau melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2020.

Atmosfer Minangkabau dalam Suara

Budayawan Minangkabau Viveri Yudi alias Mak Kari menyampaikan telah menangkap atmosfer Minangkabau melalui suara. Pencarian Rani berawal dari pemikiran tentang Minangkabau selama belasan tahun tidak ketemu.

“Jadi membaca Minangkabau tidak bisa dengan teori-teori barat dan buku teks, akan keliru. Minangkabau tidak bisa didekati dengan pikiran, tapi membaca orang Minangkabau bisa saja dengan membaca apa yang mereka pikirkan. Menemukan Minangkabau adalah dengan pendekatan rasa,” katanya.

Orang bisa saja menjadi “Minangkabau” meski bukan keturunan Minangkabau tapi ketika dia bisa menemukan filosofi dan rasa ke-Minangkabau-an.  Pola pendekatan Rani benar, katanya. Meski masih ada lapisan-lapisan yang harus ia selami lebih lanjut.

“Rani merekam Suara Minangkabau tidak saja adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Bahkan ua menangkap jauh sebelum itu. Seperti tergambar dari munculnya suara-suara alat musik sampelong dan talempong batu,” ujarnya.

Sebagai seorang Minangkabau, Mak Kari bangga dengan Rani. Meski Rani lahir di rantau tapi ia telah bisa merepresentasikan Minangkabau dengan rasa.

Randai perpaduan seni beladiri dengan tarian warisan seni dan budaya Minangkabau. (Foto : dokumentasi Rani Jambak).

Seniman tari Didik Nini Thowok mengapresiasi karya Rani Jampak. Menurutnya generasi muda mengerti kearifan lokal dan kekayaan budaya tradisi yang menyebar seantero Nusantara memiliki keunikan dan ciri khas. “Semoga seniman lain juga ikut mendukung, dan bisa menjadi character building bagi bangsa Indonesia. Bangga menjadi orang Indonesia,” katanya.

Komposer dan musisi eksperimental Nova Ruth mengaku sekitar dua bulan mengikuti karya Rani Jambak yang kreatif dan inovatif. Nova menuturkan jika dunia musik di Indonesia tidak mudah bagi musisi perempuan.

“Tapi jangan khawatir kita punya supporting system yang cukup di antara perempuan-perempuan yang sedang berkarya. Mari terus berinovasi dengan sound-sound yang mengejutkan. Tapi tetap berpijak kepada tradisi dan kearifan lokal,” tutur Nova Ruth.

Penyanyi Trie Utami mendukung Rani Jambak terus berkarya demi musk Indonesia. Musik, katanya, merupakan reinterpretasi bunyi yang terjadi di dalam ruang lingkup kehidupan manusia. “Seperti budaya itu sendiri, musik berjalan selalu dinamis, dan beda tangan bisa beda hasilnya. Beda pikiran bisa beda juga hasilnya,” katanya.

Rabab Pariaman. (Foto : dokumentasi Rani Jambak).

Vokalis dan gitaris band J-rocks Iman mengucapkan selamat. Serta berharap Rani Jambak menginspirasi generasi muda untuk turut berkarya. “Selamat Kak Rani Jambak dengan Suara Minangkabau. Semoga menginspirasi generasi muda. Karyanya keren dan unik,” katanya.

Mendokumentasikan Warisan Budaya Leluhur

Ketua Museum Musik Indonesia Hengki Herwanto mengucapkan selamat atas karya Rani yang bagian dari dokumentasi dan pengarsipan warisan budaya leluhur di tanah Minang. Hengki berharap karya serupa hadir dengan dokumentasi bunyi-bunyian di seluruh pelosok Nusantara. “Jangan lupa untuk mengirimkan karyanya ke Museum Musik Indonesia,” katanya.

Pegiat pariwisata dan budaya dari pergerakan Hiduplah Indonesia Raya (HIDORA), Bachtiar Djanan mengaku meski sebagai keturunan Minang yang lahir di Jawa Timur namun belum terlalu mengenal Minangkabau. Ia menilai karya Rani Jambak berhasil “menggelitik jiwa ke-Minangkabau-an.” Khususnya bagi orang Minang yang tidak lahir di tanah Minang. Mereka sedang mencari jejak-jejak leluhurnya.

Rani Jambak juga berburu bunyi perajin songket di Minangkabau. (Foto : dokumentasi Rani Jambak).

“Metode merekam suara-suara khas merupakan pendokumentasian ke-khas-an suatu daerah. Semoga bisa menginspirasi lahirnya banyak karya suara-suara indah dan khas dari berbagai penjuru nusantara,” katanya.

Pakar cultural studies dan ilmu budaya Universitas Indonesia Profesor Melani Budianta mengakui sangat menyukai karya Rani Jambak. Mulai Sound of Medan maupun Suara Minangkabau. “Di kota kelahiran saya, banyak sekali suara-suara pada masa kecil itu yang saya masih ingat. Namun kini mungkin sudah tak ada lagi,” katanya.

Sehingga gagasan membuat soundscape suatu daerah sangat menarik. Lantaran suara-suara khas akan berubah dari masa ke masa. Belum lagi, di kota besar suara-suara yang terdengar  hampir sama antara satu kota dan kota yang lain. “Tantangan Rani Jambak untuk menampilkan suara-suara khas untuk dapat mengungkapkan ada apa di balik suara-suara tersebut,” katanya.

Kelok sembilan. (Foto : dokumentasi Rani Jambak).

Koreografer dan penari Suwarsono mengaku menikmati karya Suara Minangkabau. Meski ada beberapa bebunyian ritmik elektronik yang mungkin belum familiar. Suwarsono menilai secara keseluruhan karya Rani merepresentasikan bunyi-bunyian khas Minangkabau.

“Saya sengaja memejamkan mata untuk mendapatkan atmosfer audio. Karya Rani Jambak cukup berhasil. Saya nikmatinya,” katanya.

Facebook : Rani Fitriana Jambak

Instagram: ranijambak

YouTube  : Rani Jambak

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini