Spirit Nahdlatul Ulama dalam Melawan Penjajah

Republik Indonesia terancam dikangkangi kembali oleh kolonial. Sekutu bermanuver dengan operasi militer menyerbu Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu elemen terpenting dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Resolusi Jihad NU dimuat media (Koran Kedaulatan Rakyat/Repro)

Resolusi Jihad yang dikeluarkan Roisul Akbar NU ini segera saja menyebar. Koran-koran memuatnya. Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi 26 Oktober 1945 menulis, “Toentoetan Nahdlatoel Oelama kepada Pemerintah Repoeblik Soepaja mengambil tindakan jang sepadan Resolusi.” Resolusi Jihad sejatinya juga meminta ketegasan Pemerintah Indonesia untuk segera mendeklarasikan Perang Suci atau Perang Jihad.

Lahirnya Resolusi Jihad, memunculkan suntikan spirit di tengah bentrokan bersenjata yang berkecamuk. Ia mengilhami solidaritas Umat Islam seluruh Indonesia untuk bersatu. Kebumen menyatakan menyambut Resolusi Jihad.

Kongres Umat Islam Indonesia di Yogjakarta, 7-8 November 1945, juga memberi penguatan terhadap Resolusi Jihad. Pada kongres ini juga dibentuk Barisan (laskar) Sabilillah, yang siap jadi martir kemerdekaan Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di Sumatra. Muktamar Islam Sumatra, 6-9 Desember 1945, juga merespon seruan Resolusi Jihad yang dikumandangkan KH.Hasyim Asy’ari.

Pertempuran semakin sengit. Tiga hari usai Resolusi Jihad NU dicetuskan, 6.000 tentara Sekutu mendarat di Surabaya, pertempuran pun pecah di sana. Brigadir Jendral AWS Mallaby, pemimpin Brigade 49 yang sarat pengalaman perang terbunuh. Perang pun makin berkobar.

10 November yang dikenal sebagai Hari Pahlawan Nasional menyulap Surabaya sebagai medan perang yang membara. Ribuan rakyat berjuang mati-matian mempertahankan kota dan kemerdekaan bangsanya.

Sebagaimana ditulis Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, Bung Tomo,  sebagai salah satu penggerak massa kala itu selalu meminta fatwa atau nasehat KH. Hasyim Asy’ari. Bung Tomo tidak pernah menjadi santri, ikatan emosional kebangsaan lah yang membuat ia dan KH. Hasyim Asy’ari saling berkait.

Para Kiai, santri, dan umat muslim datang membanjiri Surabaya dengan mendirikan markas di rumah KH. Yasin, Blauran Surabaya. Mereka bersatu dengan massa rakyat lainnya. “Resolusi Jihad NU memompa semangat perlawanan rakyat dan memicu terjadinya pertempuran hebat di Surabaya selama 3 minggu. Takbir dan pekik merdeka menggema selama pertempuran berlangsung. 60 ribu tentara, laskar, para santri, sukarelawan, dan rakyat Surabaya gugur sebagai syuhada,” sebagaimana dikutip dalam buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia (2015:134).

Hari ini, penjajahan telah menemukan bentuknya yang baru. Penguasaan ekonomi, politik, sosial-budaya serta sumberdaya alam oleh negara-negara kaya dan segelintir golongan menjadi penanda penjajahan model baru. Memperingati Hari Lahirnya yang ke-91, yang jatuh setiap tanggal 31 Januari, rakyat Indonesia membutuhkan “Resolusi Jihad’ NU untuk memerangi penjajahan model baru.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini