Sosok Dibalik Tomboan Ngawonggo

Tomboan Ngawonggo menyediakan aneka kuliner rumahan kas pedesaan, tak ada tarif khusus pengunjung membayar seikhlasnya. (Foto : Restu Respati).

Terakota.idNamanya Yasin, awal bertemu saat ditemukan Situs Ngawonggo di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, April 2017. Kami dari Komunitas Jelajah Jejak Malang secara rutin ke lokasi situs untuk membuat laporan temuan situs ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Saat itu Yasin sedang pulang kampung, bekerja di Bali. Entah apa yang ada di benak dan pikiran Yasin yang kemudian memutuskan tidak kembali lagi ke pulau Bali. Yasin lebih memilih untuk merawat Situs Ngawonggo dan meninggalkan pekerjaannya di pulau Bali.

Tanpa digaji, Yasin dan beberapa warga yang peduli merawat situs dengan tulus ikhlas. Saat BPCB Jatim datang untuk meninjau dan melakukan ekskavasi, Yasin dan beberapa warga turut terlibat. Setelah proses ekskavasi selesai, Yasin tetap saja menjaga dan merawat situs.

Rahmad Yasin berpakaian serba hitam dan berambut gondrong. (Foto : Restu Respati).

Seperti halnya situs-situs yang lain, Situs Ngawonggo yang awalnya ramai banyak pengunjung lambat laun menjadi sepi. Berbagai upaya Yasin lakukan. Yasin menggerakkan warga dengan mendorong menghasilkan produk-produk hasil kerajinan masyarakat.

Komunitas Jelajah Jejak Malang juga tidak tinggal diam. Secara rutin membawa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, siswa dari berbagai SMA/SMK, dan masyarakat umum untuk mengunjungi Situs Ngawonggo. Komunitas Jelajah Jejak Malang juga sering kali berkolaborasi dengan sejarawan Dwi Cahyono untuk mengadakan kegiatan ajar sejarah di Situs Ngawonggo.

Bukan itu saja, salah satu anggota Komunitas JJM yang mempunyai usaha di bidang kerajinan batik tulis kami minta untuk mengajari warga Dusun Nanasan membatik. Tempat belajar membatik berada di rumah Yasin.

Bang Nando teman kami yang bergerak di bidang pariwisata tergerak dan mengenalkan kami dengan Tim Percepatan Pariwisata Kementerian. Dua kali kami membawa Tim Kementerian ini ke Ngawonggo. Berbagai program kunjungan wisata kami buat untuk mengangkat dan mengenalkan Situs Ngawonggo dibantu oleh Tim Kementerian. Tetapi rupanya keberuntungan belum berpihak pada Situs Ngawonggo. Hasilnya belumlah seperti yang kami harapkan.

Dua bocah bertelanjang dada mengenakan udeng bermain dakon di Tomboan Ngawonggo. (Foto : Restu Respati).

Yasin tidak pernah putus asa. Yasin tetap merawat Situs Ngawonggo. Dua jembatan bambu dia bangun bersama warga untuk lebih memudahkan menuju lokasi situs. Setiap hari dia membersihkan lokasi situs agar tidak ditumbuhi semak belukar. Sebuah pondok kecil dari kayu dia bangun di seberang situs untuk lebih memudahkan pengawasan situs, karena malam hari pun ada saja orang yang datang ke situs untuk keperluan tertentu.

 Jaladwara Raib

Tetapi niat jahat dari orang tertentu tetap saja ada. Orang ini mengamati jadwal rutinitas Yasin. Di saat Yasin selalu pulang ke rumah antara maghrib sampai isya, orang ini mencuri satu-satunya jaladwara (arca pancuran) yang ada di Situs Patirtaan Ngawonggo. Yasin sangat terguncang terdengar dari suaranya ketika mengabari saya lewat telpon.

Yasin tidak larut berlama-lama dengan peristiwa ini. Yasin semakin giat menata lingkungan di sekitar situs. Pengunjung dan teman yang peduli seringkali mampir dan mengunjungi pondok kecil Yasin. Yasin seringkali menyuguhkan kopi dan jajanan seadanya. Beberapa gubug dari bambu dia dirikan. Beberapa warga mencoba berjualan makanan dan minuman. Tetapi tidak bertahan lama.

Entah ide dan kekuatan dari mana yang mendorong Yasin. Yasin mulai membuat meja dan kursi dari kayu di sekitar pondok kecilnya. Dapur seadanya dia bangun juga. Mulailah pelan-pelan terbentuk tempat singgah Tomboan. Yasin enggan Tomboan disebut dengan café atau semacamnya, karena Tomboan tidak menetapkan tarif makanan dan minuman.

Semuanya diganti (dibayar) dengan seikhlasnya. Tidak ada yang ta

Pintu masuk Tomboan Ngawonggo, klasik yang seolah melempar kita ke masa lalu. (Foto : Restu Respati).

hu berapa besar uang diberi oleh para pengunjung karena pengunjung langsung memasukkan ke dalam kotak ‘Kasir Asih’ yang tertutup.

Pengunjung bebas mengambil dan makan minum apa saja. Tidak pernah dibatasi. Asalkan yang diambil harus dikonsumsi habis. Jika tidak habis wajib dibawa pulang. Saya terkaget-kaget, sistem ini baru beberapa saja yang menjalankan, dan semua adalah restaurant waralaba dari luar negeri. Istilah yang sedang trend adalah “all you can eat”.

Bedanya di restaurant modern ini menerapkan harus bayar ratusan ribu per orang untuk makan apa saja dengan dibatasi waktu, dan jika waktu telah habis dan masih ada makanan akan terkena denda sejumlah uang. Akan tetapi sistem ‘kearifan lokal’ yang Yasin terapkan bikin saya geleng-geleng kepala.

Suasana Tomboan Ngawonggo tampak asri, teduh dan menikmati pemandangan alam pedesaan dan mengenal sejarah melalui situs Ngawonggo. (Foto : Restu Respati).

Tomboan yang di launching per bulan Maret 2020 benar-benar viral. Pengunjung sampai antri untuk makan minum disitu, sampai diterapkan reservasi dahulu. “Reservasi bukan untuk maksud membatasi pengunjung, tetapi kami tidak mau membuat pengunjung kecewa. Yang tidak reservasi pun kami terima, asal mau sabar menunggu,” ungkap Yasin.

Keberhasilan Yasin mengelola Tomboan banyak diminati oleh teman-teman yang lain. Banyak yang datang untuk belajar atau Yasin diundang ke tempat mereka untuk mengajarkan ‘manajemen’ pengelolaan Yasin. Dengan senang hati Yasin selalu membagikan pengalamannya.

Salut untuk Yasin…sosok yang masih muda yang sangat konsisten dan tak pernah menyerah.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini