Sosio-Historis “Keutamaan Ibu” dalam Kultur Jawa Lintas Masa

Para seniman menari memperingati Hari Ibu di Taman Kendedes Arjosari, Sabtu 21 Desember 2019. (Terakota/ Thema Pertiwi).

Yung = iyung = biyung
Lamun to mung sak tembung
Hananging kebak makno adiluhung.

Ragam Sebutan untuk “Ibu”

Terakota.id–Perempuan dewasa atau yang telah “matang (mature) ” — baik matang secara fisik (physical maturation) ataupun matang secara sosial (social maturation) — acapkali diberi sebutan “ibu”, dan disapa dengan “bu” atau bisa juga “buk”. Dalam konteks penyebutan ini, aspek kedewasaan atau kematangan (fisik maupun sosial) menjadi indikator utama. Meski masih terbilang muda, namun jika tampil dewasa dan terkesan matang, maka acap dibilang sebagai “keibuan”, dan sebaliknya.

Terlebih lagi bila telah menikah, memiliki anak, memangku jabatan, atau menempati posisi sosial lumayan tinggi. Wanita yang telah menikah disapa dengan “bu + nama suami”. Misal “Bu Bambang”. Bila telah mempunyai anak, dipanggil dengan “bu” untuk mbasake (membahasakan) anaknya. Berkenaan itu, dalam bahaha Jawa terdapat sebutan “ibuke bocah- bocah (ibunya anak-anak),”.

Apabila berprofesi tertentu, misalnya sebagai : guru, dokter, hakim, dsb., maka dipanggil dengan “bu guru, bu dokter, bu, hakim, dsb.” — kurang pantas bila dipanggil “mbak guru, yu dokter, ning hakim”. Manakala memangku jabatan, seperti : ketua, direktur, komandan, dsb., maka sebutan baginya : bu ketua, bu direktur, bu komandan, dsb. Begitu pula, jika menempati posisi sosial cukup tinggi, seperti : pembina, penasihat, pelopor, dsb., maka disebut dengan ” Ibu pembina, ibu penasihat, ibu pelopor, dsb.

Dalam bahasa Indonesia, sapaan yang lazimnya digunakan terhadapnya adalah “ibu”, yang secara harafiah berarti : (1) wanita yang telah melahirkan, (2 wanita yang telah bersuami; (3) panggilan yang takzim kepada wanita, baik yang sudah bersuami maupun belum; (4) bagian yang pokok (besar, asal, dsb.), misal ” Ibu jari; (5) yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting, misal negeri; ibu kota; dsb.

Kata sifat “keibuan” mengandung arti : bersifat seperti ibu, yakni lemah lembut, penuh kasih sayang, dsb. (KBBI, 2002:416). Demikianlah, ibu menunjuk pada orang tua perempuan seorang anak, baik yang melalui hubungan biologis maupun sosial. Meski bukan orang tua kandung (biologis), namum bisa juga disebut ibu, misalnya “ibu angkat, ibu tiri, ibu asuh, ibu susu, dsb.”.

Hubungan dalam kekerabatan Jawa memakai juga sebutan “ibu” atau “bu” untuk saudara perempuan dari ibu. Adik dari ibu disebut dengan “bulik (lik = cilik, kecil)”, dan kakak dari ibu disebut “bude (de = gede, besar)”. Demikian pula, orang usia tua yang biasa disapa “mbah”, untuk orang usia tua perempuan disebut “mbah ibu”, atau lebih kasar dipanggil “bu wek (ibu tuwek, ibu tua)”. Dalam bahasa Indonesia, kadang panggilan ibu juga dapat ditujukan pada perempuan asing yang relatif lebih tua daripada si pemanggil, ataupun panggilan hormat kepada seorang wanita tanpa mempedulikan perbedaan usia.

Dalam bahasa etnik-etnik di Indonesia ada banyak ragam sebutan untuk ibu, seperti sapaan “enyak” di Betawi, sebuatan “emak, ambu, embi, emak” pada suku Sunda, sebutan “inaq” di Lombok, sebutan “inang” di Batak Toba dan “nande” di Batak Karo, sebutan “ine” di Gayo Aceh, sebutkan “amak, mandeh, bundo” di Minangkabau,  sebutan “umai” di Dayak Ngaju, sebutan “mak, mamak, bonda” di Riau, sebutan “kaina” di Buton, sebutan “indok, mamak” pada suku Bugis, sebutan “adong” pada suku Makasar, sebutan “ebo” di Madura, sebutan “binyang, enyak” di Bali, sebutan “ende” di daerah Manggarai, sebutan “mama-mama, mace” di Papua, dan banyak lagi yang lainnya. Pendek kata, ada beragam sebutan untuk ibu, yang bisa sama, mirip, atau malahan berbeda untuk berbagai etnik yang tersebar luas di Indonesia.

Pada etnik Jawa saja, selain sebutan “Ibu”, juga terdapat sebutan “mak atau emak, mbok atau embok ataupun simbok, biyung, biyang, nyai (nyi), dan juga bibi“. Kata ibu telah digunakan dalam bahasa Jawa Kuna maupun Tengahan, dalam arti : ibu, sapaan untuk perempuan siapa pun. Kata jadian “mebu (ma + ibu), makebu (maka + ibu)” berarti : mempunyai sebagai ibu (Zoetmulder, 1995:376).

Istilah ini disebut di kitab Adiparwa (78, 105), Udyogaparwa (147), kakawin Ramayana (15. 12), Smara- dahana (19.11), Nagarakretagama (3.1, 48.1, 89.1), Tantri Kediri (26), Tantu Penggelaran (81), dan Kidung Harsyawijaya (1.15). Istilah arkhais ni berlanjut pemakaiannya ke dalam bahasa Jawa Baru, dan diserap ke dalam bahasa Indonesia

Kata “mak” atau “emak” acap diartikan : ibu dari seorang anak. Misalnya, sebutan “mak-e thole (ibunya anak laki-laki) “. Seringkali juga kata “mak” diikuti oleh nama sapaan, seperti “mak Jah, mak Yam, mak Ti, dsb. “. Akhir-akhir ini, kata ulang (repetisi) dari “mak”, yakni “mak-mak” sempat viral untuk menyebut para ibu. Hubungan antara kata “mak” atau “mamak” dengan perempuan sampai- sampai ada kata turunannya, yaitu “memek”, yang digunakan untuk menyebut kelamin perempuan.

Istilah ini tak kedapatan dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan. Alih-alij terdapat kata “Uma” atau “Huma” sebagai nama Dewi istri (sakti) Dewa Siwa. Bisa jadi, dari sebutan “Uma atau Huma” tersebut diperpendek menjadi “ma”, dan kemudian berubah sedikit menjadi “mak atau emak”, yang didapati dalam bahasa Jawa Baru. Kemungkinan lainnya adalah pengubahan dari kata “mama” dari bahasa- bahasa di Eropa.

Serupa itu adalah kata “mbok, embok”, yang boleh jadi kependekan dari kata ” Ibu” menjadi “bu” atau “buk”, kemudian menjadi “bok” lalu berubah “mbok” ataupun “embok”. Istilah ini juga tidak terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, namun di kenal dalam bahasa Jawa Baru.

Kata “biyung” diucap lebih singkat menjadi “yung” atau “iyung” didapati dalam bahasa Jawa Baru, yang menunjuk kepada : orang tua perempuan, ibu. Kata jadian “biyungen” mengandung arti : selalu rindu kepada ibunya (Mangunsuwito, 2013:263). Varian sebutan dari “biyung” adalah “wiyung” — pertukaran dari kinsonan “b” menjadi “w”. Dalam bahasa Indonesia terdapat istilah yang mirip dan yang artinya serupa dengan “biyung”, yaitu ” biang”, yang berarti : (1) induk (tentang binatang ataupun tumbuhan) (KBBI, 2003:146).

Dalam bahasa Jawa Baru istilah juga dikenal, yang ditulis dengan “biyang”, dalam arti : ibu, misalnya sebutan kasar “biyang gambreng” dan agak jorok “biangane silit”. Biang (biyang) bersinonim arti dengan ibu. Sebutan “ibu jari” dapat juga diistilahi dengan “biang jari”.

Ada pula istilah “bibi” dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang mempunyai arti : ibu, sayang, sapaan mesra kepada wanita (istri, kekasih, dsb.). Kata jadian “abibi” berarti : beribu, terhadap atau tentang ibunya (Zoetmulder, 1995: 124). Di dalam bahasa Jawa Baru dan bahasa Indonesia, kata ini menunjuk kepada saudara tua dari ibu. Kadang ditempatkan kata sandang di depannya, seperti “sang bibi, ra bibi” atau menjadi kata gabung “bibi haji”, yang berarti :nyonya.

Keutamaan dan Pengutamaan Sang Ibu

Sebagaimana ayah, ibu adalah satu diantara dua pilar yang terintegrasi (loroning atunggal) dalam mengelola maqligai keluarga. Ibarat kendaraan yang berjalan, jalannya “agak terseok” manakala tiada salah seorang diantara keduanya. Memang, ada dalam pengelolaan keluarga apa yang dinamai “orang tua tunggal (sigle perent) “. Namun, tentu akan lebih sempurna bila suatu keluarga dikelola bersama oleh ayah beserta ibu.

Terhadap anak- anaknya, ibu adalah yang paling mencintainya. Pengalamannya dalam mengandung dan ketika melahirkan anak, yang bukan hanya amat berat, namun bisa hingga bertaruh nyawa. Kemudian cobaan yang diaami ibu, mulai dari masa menyusui hingga anak-anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Inilah yang dirasakan oleh semua ibu, yang menumbuhkan “sayang ibu” kepada anak-anaknya srcara utuh-penuh, total. Kalaupun ada ibu yang tega menyiksa, bahkan membunuh anak kandung sendiri, maka kesehatan jiwa dari si ibu itu musti diperiksakan.

Pengorbanan ibu untuk anak-anaknya sungguh luar biasa. Secara dramatik, dalam syair lagunya Iwan Fals melukiskann dengan kata-kata sebagai berikut.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah
……………
Semua letih ibu buat anaknya adalah “ketulusan”.
Sebesar apapun pengorbanan anak terhadap ibu, tak ada bandingan dengan pengorbanan ibu kepada anaknya. Bandingan pengorbanan (ekspresi kasih) dari keduanya dikiasi dengan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak [cuma] sepenggalah”. Tak ada apa-apanya apabila kasih dari anak kepada ibu dibanding dengan kasih ibu terhadap anak. Kasih ibu seperti “udara”, yang menemenuhi seluruh ruang hidup, yang membuat kehidupan menjadi hidup.

Kasih ibu terhadap anak acap melebih kasih ayah. Paling tidak, sama besarnya. Sebagai balasan, hormat anak kepada ibu mustilah “didahulukan” sebelum hormatnya terhadap bapak, sebagaimana termaktub dalam Hadits Nabi, yang meriwayatkan Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu.

Beliau bertanya kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya”
(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

Syaikh Fadhlullah Al Jilani, ulama India, mengomentari hadits ini: “ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada tiga kali bagian dari yang didapatkan ayah”. Demikian utamanya ibu, hingga restu atau ridho Allah tergantung dari restu orang tua, terutama Ibu. Denikian utamanya posisi ibu, sampai-sampai “surga pun berada di bawah telapak kaki ibu”.

Tatkala anak tengah terpuruk, kala itu ibu adalah tempat bersandar. Ibu merupakan “tempat tetirah” yang tepat. Pada pangkuan bunda segala keluh- kesah anak ditumpahruahkan. Dalam syair lagu “Gelas-Gelas Kaca” Nyanyian Nia Daniaty dilukiskan dengan kalimat :
…………….
Gelas-gelas kaca
Bunyikan suara
Di manakah aku kini
Sepi yang mencekam
Menusuk hatiku
Kemana aku melangkah
Aku ingin pulang
Ke pangkuan ibunda sayang.
……………..
Demikian pula yang tergambar di dalam syair lagu “Ibu” kaya Iwan Fals sebagai berikut.
…………
Ingin kudekap
Dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu.
……………
Bagian akhir kakawin Ramayana pun memuat kisah demikian. Ketika Dewi Sital nenjalani “uji kesucian diri” — setelah sekian lama disekap oleh Rahwana di tamansari nagari Alengka — dengan terjun ke dalam pancaka (api unggun), maka bumi pun terbelah, dan tanpa dinyana jatuhlah dirinya ke pangkuan, yang tiada lain adalah pangkuan dari ibunya, yakni Dewi Pratiwi.

Ibu memegang peran sentral di dalam lingkungan keluarga. Kesentralan peran ibu dapat diibaratkan dengan kesentralan dari “ibu” kota di suatu daerah, bahkan di negeri. Tentu bukan tanpa alasan bila digunakan unsur sebutan “ibu” di dalam istilah “ibu kota”, karena terkandung di dalam istilah ini aspek “keutamaan”. Ada pula sejumlah istilah lain dimana kata “ibu” dipakai untuk menggambarkan tentang keutamaan, seperti unsur sebutan “ibu” di dalam metafora “ibu jari, ibu suri, bahasa ibu, dsb.”

Kata yang bersinonim arti dengan ibu, misalnya “biang (bilang)” acap juga dipakai untuk menggambarkan keutamaan, induk atau babonan, sari (pati), jenis tulen, seperti dalam perkataan “biang wangi, biang cuka, biang sapi, biang keladi (searti dengan “biang kerok”), biang kemelaratan, dsb.

Ibu adalah sosok yang “sakti. Dalam bahasa Jawa disebut dengan “malati“. Doa ibu untuk anaknya acap memiliki kemujaraban. Terhadap perjalanan anak, restu ibu ibarat pembuka sekaligus pelapang jalan bagi anak untuk mencapai cita. Ada beragam bentuk restu ibu. Salah satu bentuknya adalah apa yang dalam bahasa Jawa Baru diistilahi dengan “digemboki”.

Adapun kegiatannya adalah : si anak berada dalam posisi berbaring menghadap ke atas. Lalu sang Ibu melangkahinya, bolak-balik hingga tiga kali. Hal demikian konon dilakuan ketika anak hendak pergi merantau. Kata jadian “digemboki” memiliki kata dasar (linggo) “gembok”, yang boleh jadi muasal katanya adalah “mbok”, dalam arti : ibu.

Sebaliknya, sepoto (sapata, sumpah serapah, kutuk) dari ibu seperti tak terelakkan bakal jadi kenyataan. Legenda Minangkabau mengenai kutukan Bundo terhadap Malin Kundang yang menjadikan anak kandung, kapal mewah dan seisinya menjadi batu lantaran durhaka kepada ibu kandungnya adalah suatu gambaran mengenai kekuatan tuah (sapata) ibu. Demikian pula sosok Joko Budheg berubah menjadi batu juga akubat terkena kutukan embok, lantaran Joko tidak menyahuti panggilannya. Masih banyak legenda lain perihal “magi kata” seorang ibu, yang seolah menjadi tokoh “sakti”.

Itulah kiranya mengapa sebutan Sanskrit, Jawa Kuna atau Jawa Tengahan bagi perempuan yang berstatus “istri (berstatus ‘Ibu”) adalah “sakti”. Terdapat konsepsi tentang kedewataan, yang mengemukakan bahwa “tanpa saktinya (Dewi), maka pasangan (suami)- nya bagaikan “bangkai”, sebab daya magi justru terletak pada diri sakti-nya.

sosio-historis-keutamaan-ibu-dalam-kultur-jawa-lintas-masa
Ilustrasi. Perempuan Jawa menari. (Foto : ugm.ac.id)

Salah seorang tokoh sejarah perempuan yang mendapat predikat sebagai” Wanita (istri) Utama” adalah Ken Dedes, yang di dalam kitab gancaran “Pararaton” dinyatakan sebagai “strinaneswari (stri- nara-iswari). Keutamaannya bukan hanya karena merupakan parameswari dari raja Sri Rsnggah Rajasa Sang Amurwabhumi (Ken Amerika), namun sekaligus menjadi ” ibu sekalian raja”, baik raja-raja di Kerajaan Tumapel maupun raja-raja di Kerajaan Majapahit — sebagai kerajaan “pelanjut” Tumapel (Singhasari)”.

Ibu utama Ken Dedes menjadi “orang model” Masa Hindu- Buddha, yakni model tentang “wanita [sekaligus] ibu utama”, yang cantik (ahayu, sulistya), baik wadag (fisiografis)-nya — diibaratkan sebagai melebihi kecantikan dari Hyang Sasadara (Rembulan), dan sekaligus cantik kepribadiannya (inner beauty) — diibaratkan dengan mendapatkan “karmamadangi (perilaku yang tercerahkan)”. Ken Dedes adalah sosok “wnitotomo (wanita utomo)” dari masa lalu.

Hatur Agung Kagem Biyung

Bagi yang beruntung, yang berkesempatan untuk mengenyam serial Sandiwara Radio tahun 1990-an, yang berjudul “Ibuku Malang Ibuku Tersayang”, nah barangkali masih ingat akan syair lagu tayangan sandiwara itu.

Ibuku malang ibuku tersayang
Tatap matamu satu
Seakan kasih sebening kaca.

Nasib tidak pernah kau ratapi
Kau terima dengan tabah
Kehidupan kau olah
Bagaikan menggarap sawah.
Dengan keringat sendiri
Kau tumbuhkan rasa harga diri.

Tersirat dalan syair lagu ini, bahwasanya ibu tidak hiraukan “nasib dirinya” semata demi kebahagiaan anak-anaknya. Hal demikian juga tergambar pada kisah mitologis mengenai Men Brayut (Dewi Hariti), yang digambarkan tak berkesempatan mengurus penampilan rapi diri karena perhatiannya tercurah kepada abak-anak asuhnya.

Kemalangan sekalipun siap disandangnya, asalkan buah yang dipetik dari kepedihan itu mampu memberikan kefaedahan bagi kelangsungan hidup anaknya. Walau begitu besar pengorbanan ibu, namun tak senantiasa mendapat balasan setimpal dari anaknya. Memang, ibu tidak pamrih, tak mengharap balas terhadap apa yang telah dilakukannya untuk anaknya, seperti tertulis dalam syair lagu anak “Kasih Ibu” karya Ibu Sud berikut ini.


Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

 Meskipun ibu “tak pernah meminta balas” kepada puteranya akan segala pengorbanan (bhakti) yang telah diberikannya terhadap anaknya, namun adalah suatu “kewajiban’ bagi anak untuk berbalas bhakti kepada ibunya.

Bahkan hadits Nabi mengajarkan lewat kisah yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab ‘Ya, masih.” Beliau pun bersabda kembali “Kepada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al- Bukhari dan Muslim].

Hadits ini menegaskan perihal kewajiban bagi anak untuk berbakti pada ibunya. Suatu kewajiban yang acap dilewatkan, meskpuni oleh anak kandung yang konon ibunya telah total membaktikan dirinya buat anak-abaknya. Dalam hal bhakti anak kepada ibu, relief cerita “Garudeya” di candi Kidal, Kedaton dan Sukuh dengan jelas menghadirkan kisah teladan mengenai bhakti Sang Garuda untuk membebaskan bundanya (Dewi Winata) dari perbudakan Dewi Kadru. Oleh karena bhakti ibu terhadap anaknya adalah bakti yang besar (hangeng, agung), maka bhakti anak kepada bundanya pun semestinya juga berupa “bhakti agung”, atau bisa diistilahi dengan “hatur agung kegem Biyung”.

Relief cerita “Garudeya” di candi Kidal, Tumpang Kabupaten Malang. Menjelaskan kisah bhakti Sang Garuda membebaskan bundanya (Dewi Winata) dari perbudakan Dewi Kadru. (Terakota/Eko Widianto).

Tulisan mengenai ” Keutamaan Ibu” yang bersahaja ini dipungkasi dengan mengutip suatu simpulan dari para ulama, yang mengatakan “الأم أحق الناس بحسن الصحبة (Ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang paling baik)”. Semoga kita termasuk orang-orang yang tahu dan mau menghargai Ibu. Begitu mulianya ibu, sampai- sampai “surga pun berada di bawah telapak kaki ibu”.

Nuwun.

Sangkaling, 20 Desember 2019
Griya Ajar CITRALEKHA

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini