Sonjo Kampung: Merajut Indonesia dari Kampung

Budaya masyarakat yang patrimonial, guyub, dari dulu selalu memunculkan ritual-ritual yang menyertakan orang banyak. Jadi cocok dengan apa yang dituju oleh Sonjo Kampung. Akar budaya Sonjo Kampung sudah ada sejak dulu.

Terakota.id–Membaca Indonesia berarti juga membaca kampungnya. Indonesia merupakan perjumpaan kampung-kampung. Ribuan kampung tersebar di nusantara merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Di dalamnya, ada keragaman identitas, budaya, dan tradisi,  yang saling menopang membentuk jati diri bangsa. Di kampung saya, ada Indonesia dan Indonesia terdapat kampung saya.

Mengembalikan Spirit Kampung

Spirit kampung lambat laun semakin memudar. Gotong royong dan solidaritas semakin hari semakin samar. Mentalitas kebudayaan Indonesia seolah ditarik menuju lintasan perlombaan. Mensyaratkan kompetisi dan pencapaian-pencapaian yang sifatnya individual. Iklim perlombaan atau kompetisi ini turut menarik kampung masuk ke dalam sirkuitnya. Padahal, berulang kali Presiden Sukarno mewanti-wanti bahwa gotong royong-lah nafas pembangunan bangsa. Bukan persaingan.

Karena itu lah, pada 2015 di Kampung Celaket, Klojen, Kota Malang, sejumlah orang yang menyebut diri sebagai Pembakti Kampung menginisiasi sebuah gerakan yang dinamai Sonjo Kampung. Diantaranya Priyo Sunanto Sidhy, Kristanto Budi Prabowo, Redy Eko Prasetyo, dan Dwi Cahyono. Sonjo Kampung memiliki makna yang kuat.

Sonjo berasal dari Bahasa Jawa artinya bertemu tetangga, silaturahmi, mbiyodo, untuk ngobrol-ngobrol agar membuahkan hasil yang positif. Sehingga, Sonjo Kampung berarti saling silaturahmi, menjaga kerukanan antar kampung. Bukan kompetitif. Tapi bersinergi. Menjalin hubungan lintas kampung,” kata Priyo Sunanto Shidy, salah seorang pelopor Sonjo Kampung sekaligus pendiri Kampung Cempluk di Desa Kali Songo, Kabupaten Malang.

Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai perajin kostum karnaval ini, Sonjo Kampung tak hanya sebatas menjalin silaturahmi atau persatuan. Melainkan juga menumbuhkan spirit kampung terkait hari raya kebudayaannya. Gotong royong dan solidaritas menjadi nafasnya.

“Karena itu, di dalam Sonjo Kampung terjadi diskusi, musyawarah, saling silang ide budaya. Saya menyebutnya buwuh budaya. Tan hana darma mangruwah, tidak ada kepentingan yang mendua,” tambah Priyo.


Warga Desa Kali Songo bermusyawarah untuk mempersiapkan festival kampung cempluk. (Foto : Dokumen Priyo Sunanto Shidy).

Sementara Kristanto Budi Prabowo mengatakan kampung kaya kreatifitas. Kampung memiliki keunikan yang beragam. Dan selama ini ruang apresiasi terhadap hal itu ia rasa masih kurang.

Sonjo Kampung awalnya rasan-rasan para pegiat seni tradisi dan budaya untuk menciptakan ruang apresiasi bagi kampung. Masyarakat harus bangga dengan kampungnya. Misalnya ada kampung yang tidak ada sama sekali keunikan dan kreatifitasnya, maka hal itu akan digali pada saat Sonjo Kampung,” terang Kristanto kepada Terakota.id.

Kepercayaan diri masyarakat atas kampungnya harus ditumbuh kembangkan. Redy Eko Prasetyo, salah satu Pembakti  Kampung sekaligus inisiator Festival Dawai Nusantara, mendedahkan bahwa Sonjo Kampung merupakan metode, bukan tujuan. Ia digunakan untuk memantik kepercayaan diri dan belajar memulai sesuatu yang menarik dan unik di kampungnya.

“Dengan begitu masyarakat bangga dengan idiom kampung. Anak-anak muda juga akan kerasan di kampungnya. Selain itu, cara berfikir yang terkotak-kotak, terpetak, berdasarkan teritorial juga harus mulai dihapus. Spiritnya saling bersinergi, berbagi,” imbuh Redy.

Kampung memang sesuatu entitas yang kecil. Namun, menurut Bambang Irianto, pendiri Kampung Glintung yang terkenal dengan pertanian urban dan bank air ini, sekecil apapun  satu kampung pasti memiliki sisi positifa. Dengan Sonjo Kampung, Kampung merasa tidak sendirian.

“Selama ini saya melihat jaringan kampung memposisikan diri sebagai pemantik. Teman dari satu kampung untuk menyemangati dan mendorong kampung lain. Sonjo Kampung bukan untuk ngajari atau bahkan kooptasi terhadap potensi kampung, melainkan membangunkan kemandirian untuk berprestasi,” tegas Ketua RW 23, Purwantoro Kota Malang.

Kampung Glintung terpilih dalam International Award for Urban Inovator di Guangzhou, 2016.

Sederhana Tapi Mengena

Kampung Glintung menjadi asri, teduh dan dihiasi beragam tanaman produktif. Dikembangkan urban farming dan water banking movement. (Foto : Muntaha Mansyur).

Sonjo Kampung bukanlah sesuatu yang sulit dikerjakan. Tidak rumit. Sangat sederhana. Kuncinya terletak pada kemauan saling bersilaturahmi. “Silaturahmi ke kampung. Bertemu dengan tokoh masyarakatnya, tokoh agamanya, pemuda dan masyarakatnya. Dari sana dengan sendirinya terjadi diskusi, tukar ide, berbagi pengalaman,” ungkap Priyo Sunanto Shidy.

Selama Sonjo Kampung, masyarakat yang hadir diajak untuk menggali masalah dan potensi kampungnya. Festival, peringatan hari kebudayaan kampung, event serta menghidupkan ikon kampung kadang tidak serta merta muncul di dalam diskusi. Kadang kala ia butuh digali dari sejarah atau cerita kampung, bahkan juga melalui situs atau peninggalan yang ada di kampung setempat.

Proses pendampingan pasca Sonjo Kampung juga penting. Setiap kampung pasti kemudian dicari dan ditunjuk pembaktinya. “Pembakti inilah yang menjadi semacam pendamping sekaligus penghubung jaringan,” tambah Redy.

Antropolog Universitas Brawijaya, Riyanto, menjelaskan bahwa budaya masyarakat yang patrimonial, guyub, dari dulu selalu memunculkan ritual-ritual yang itu menyertakan orang banyak. Jadi cocok dengan apa yang dituju oleh Sonjo Kampung. Akar budaya Sonjo Kampung sudah ada sejak dulu.

“Istilahnya, memunculkan suara kutilang yang pernah ada. Apalagi di tengah masyarakat yang saling berlomba untuk kuat. Masayarakt komoditas. Padahal Pancasila sudah memberi pedoman, adil makmur tidak mungkin ada tanpa kesetaraan dan persatuan,” kata Riyanto.

Sosiolog Universitas Brawijaya, Ahmad Imron Rozuli, menjelaskan  pola menarik dari Sonjo Kampung. Ia melihat Sonjo Kampung secara ideal turut membangun kesadaran diskursif masyarakat untuk bergerak. Rekayasa sosial dengan membangun spirit bersama untuk berubah.

“Budaya Sonjo Kampung memantik dialektika saling pembelajaran atau timbal balik.  Saya melihatnya prinsip yang dibangun yakni semangat bersama dan egaliter,” kata A. Imron Rozuli menjelaskan.

Manfaat dari Sonjo Kampung tidak berhenti pada segi sosial dan budaya saja. Melainkan juga dari segi politik dan ekonomi. Kristanto misalnya menyebut kampung seringkali menjadi wilayah strategis untuk dikapitalisasi atau dipolitisasi. Identitas kampung dicerabut dari identitasnya sendiri. Menjadi yang radikal misalnya.

“Dengan berinteraksi saling menghargai sebenarnya turut melawan radikalisme. Karena kampung diajak menemukan identitasnya sendiri. Dengan begitu tidak sempat berfikir menjadi yang lain,” terang Kristanto.

Dari segi ekonomi, Sonjo Kampung memberi banyak manfaat. Misalnya, Priyo Sunanto Shidy menyebut marchendise yang berbasis potensi dan keunikan kampung. Pemasarannya juga bisa berjejaring dan saling bertukar produk kreatifnya. Festival kebudayaan maupun kegiatan kampung lainnya juga dapat mendatangkan manfaat ekonomi.


Bambang Irianto menjelaskan proses mengembangkan urban farming dan water banking movement kepada para pengunjung. (Terakota/Muntaha Mansyur).

Salah satu contohnya, kampung Glintung yang dinahkodai Bambang Irianto, selama satu periode kepengurusan, sampai memilki kas sebesar Rp 1 milyar. Pemasukan ekonomi sebesar itu diperoleh dengan memaksimalkan potensi ekonomi lokal yang ada di kampungnya. Yaitu Urban Farming  dan Water Banking. Banyak wisatawan yang telah menjadikan Kampung Glintung sebagai destinasi wisata sekaligus sarana edukasi.

Sejauh ini, menurut Kristanto, Sonjo Kampung diikuti sebanyak 13 kampung di Malang yang tercatat atau terjadwal. Meliputi Kampung Celaket, Kampung Ngadipuro, Kampung Glintung, Kampung Cempluk, Kampung Polowijen, Gang Tatto, Kampung Pakis, dan sebagainya. Dan diantara mereka punya kekhasan masing-masing. Namun, yang tidak tercacat menurutnya lebih banyak lagi. Menariknya, Sonjo Kampung ini juga dilakukan sampai luar Malang. Ada Tulungagung, Blitar, dan sebagainya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini