Situs Pendem Diduga Candi Masa Mataram Kuno

Arca Siwa Trisirah ditemukan di Dusun Sekarputih, Desa Pendem, Junrejo, Kota Batu. (Foto : Kemendikbud).

Penulis : Wulan Eka*

Terakota.id–Situs Pendem diduga sebuah candi pra Majapahit. Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho memperkirakan candi tersebut berdiri pada masa Mataram kuno. Temuan sumuran dan peripih memperkuat hipotesis struktur bangunan tersebut merupkana bangunan sisa candi.

“Posisi peripih menandakan bangunan candi bergaya Jawa Tengahan,” kata Wicaksono. Selain itu, Februari 2020 BPCB Jawa Timur menemukan arca Siwa berkepala tiga atau Arca Siwa Trisirah. Arca ditemukan di area persawahan dusun Sekarputih, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Berjarak sekitar 500 meter barat laut Situs Pendem.

Arca Siwa berkepala tiga, satu badan, dan empat tangan berukuran tinggi 50 centimeter, lebar 24 centimeter dan ketebalan 20 centimeter. Arca Siwa Trisirah ini dalam posisi duduk di atas padmasana berbentuk persegi. Arca Siwa dalam posisi lalitasana yakni kaki kiri arca ditekuk ke samping di bawah paha kanan, dan kaki kanan menjuntai ke bawah di depan padmasana.

Saat ditemukan kondisi arca rusak dan aus. Tangan kanan belakang membawa aksamâlâ, tangan kiri belakang memegang camara. Tangan kanan depan bersikap varamudra, tangan kiri depan di atas pangkuan dalam sikap diaramudra. Arca ini memakai vaijayanti (kalung), dan jatamakuta (mahkota).

Identifikasi arkeolog BPCB Jawa Timur menyebutkan Arca Siwa Trisirah merupakan ciri dominan Siwa Mahadewa (The Supreme God). Artinya menjalankan tugas Trimurti sekaligus, sebagai pencipta, pemelihara, dan pengembali alam semesta ke asalnya (perusak).

Tiga kepala Siwa Trisirah digambarkan terdiri dari dua kepala laki-laki dan satu kepala perempuan. Ketiganya menggambarkan tiga aspek Siwa. Kepala yang kanan menggambarkan aspek Siwa Aghora, kepala tengah menggambarkan aspek Siwa Saumya dan kepala kiri menunjukkan aspek feminin dan merepresentasikan istri Siwa.

Asumsi lain menyebutkan ketiga kepala Siwa dalam Trisirah terkait erat dengan tiga tattwa Siwa di dalam sekte Saiwa Siddhanta. Ketiga tattwa, masing-masing Paramasiwa, merupakan tattwa tertinggi yang tidak berwujud dan berada di alam kehampaan. Tattwa kedua adalah Sadasiwatattwa, yaitu tattwa yang bentuknya mantra yang diucapkan para yogin. Tattwa ketiga adalah Maheswaratattwa, yaitu tattwa yang terkait tiga kejadian alam semesta yang menjadi tanggungjawab tiga manifestasi Paramasiwa.Yaitu Iswara sebagai pengembali alam semesta ke dalam asalnya, Brahma sebagai pencipta, dan Wisnu yang bertindak sebagai pelindung alam semesta.

Arca Siwa Trisirah tertua ditemukan di Candi Dieng, berasal dari abad ke-7 Masehi.  Arca siwa digambarkan dalam posisi duduk lalitisana, sangat jarang dijumpai pada arca gaya jawa timuran. Penemuan Arca Siwa Trisirah menjadi penting karena mendukung hipotesis hubungan antara candi di Situs Pendem dengan bangunan candi yang disebut dalam Prasasti Sangguran abad ke-10 Masehi.

Arca Nandi dan Yoni berbahan batu andesit. Yoni berpasangan dengan Lingga simbol Dewi Parvati, istri Dewa Siwa. Lingga simbol Siwa. Sehingga, Yoni dan Lingga menyimbolkan kesuburan dan kelahiran (kehidupan baru). Adapun Nandi sendiri merupakan kendaraan Dewa Siwa. (Terakota/Wulan Eka).

Apalagi di Situs Pendem terdapat Yoni dan Arca Nandi berbahan batu andesit. Yoni berpasangan dengan Lingga. Yoni menyimbolkan Dewi Parvati, istri Dewa Siwa. Lingga simbol Siwa. Sehingga, Yoni dan Lingga menyimbolkan pertemuan antara laki-laki (Purusa) dan perempuan (Pradhana). Keduanya bertemu melambangkan kesuburan dan kelahiran (kehidupan baru).

Adapun Nandi sendiri merupakan kendaraan Dewa Siwa. Penemuan Arca Siwa Trisirah yang tak jauh dari Situs Pendem melengkapi konsep candi di Situs Pendem sebagai candi beraliran Siwaistis.

Tim eskavasi BPCB Jawa Timur melakukan meneliti dan menganalisis luas dan ukuran candi di situs Pendem. (Foto : Wulan Eka).

Struktur batuan bata di Situs Pendem berdimensi 35-36 centimeter, lebar 25-26 centimeter, dan tebal 9-10 centimeter. Menunjukkan kategorisasi pewaktuan benda purbakala berasal dari masa sebelum kerajaan Majapahit.  “Masa Pra Majapahit dimensi batuan bata berukuran lebih besar. Panjang 35-40 centimeter, lebar 23-25 centimeter tebal 10 centimeter,” ujar Wicaksono.

Sehingga semakin menguatkan hipotesis Candi di Situs Pendem berasal dari abad ke-10 Masehi. Kemungkinan berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah.

*Reporter magang, tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini