Siswa Saya Penyintas Kasus Pelecehan Seksual, Berani Bicara!

siswa-saya-penyintas-kasus-pelecehan-seksual-berani-bicara
Ilustrasi : dnaindia.com

Oleh: Elyda K. Rara*

Terakota.id–Rasanya lima tahun mengajar di sekolah ini belum pernah ada kejadian yang begitu menguras emosi saya. Bermula saat saya mengantar sepuluh siswa saya mengikuti kuis cerdas cermat di Surabaya. Sepulang dari acara kami saling mengobrol di dalam mobil. Macam-macam saja yang saya dengarkan dari bangku dekat pengemudi. Di belakang saya tepat tiga siswa cantik saya yang sedang asyik curhat dengan bahasa Inggris. Siswa-siswa lain di belakang terkadang menanggapi dengan selorohan-selorohan sok berbahasa Inggris. Pemandangan yang membuat saya menahan cekikik berkali-kali.

Cukup lama mereka mengobrol, saya mendengar frasa sexual harassment disebut beberapa kali. Saya langsung menajamkan telinga dan mendapati pengakuan yang cukup menyesakkan. Ini adalah pengalaman pribadi siswa saya yang kala itu sedang berbicara. Anak-anak lain yang duduk di deret belakang masih asyik membincangkan ini itu. Saya langsung memotong dengan meminta maaf. Saya ingin memperjelas apa yang baru saja saya dengar.

Dengan berurai air mata ia menceritakan pengalaman pelecehan seksualnya saat masa anak-anak. Perlahan dan terang sekali ia bercerita pernah dilecehkan tujuh kali, salah satunya adalah oleh ayah tirinya sendiri. Namun memori saya bergeser satu tahun silam, saat siswa saya ini masih duduk di kelas X dan mengerjakan tugas materi biografi yang saya berikan. Waktu itu saya meminta siswa-siswa saya untuk wawancara dan menuliskan kisah hidup orang yang menginspirasinya. Harus kepada orang yang bisa ditemui. Salah satu hasil pengerjaan siswa saya yang cukup membuat saya tersentak saat membacanya adalah milik siswa yang sedang saya ceritakan ini.

Ia menuliskan kisah tentang ibunya yang ditinggalkan oleh suami pertamanya, kemudian menikah lagi dan kembali ditinggalkan oleh suami keduanya. Ibu yang begitu berarti bagi siswa saya ini akhirnya harus membesarkan dua anaknya dengan terseok. Anak pertama ibu ini adalah siswa saya, suami kedua ibu ini adalah ayah tiri yang pernah melecehkan siswa saya.

Kembali ke dalam mobil yang saat itu sedang kami tumpangi, siswa saya bercerita bahwa saat kecil ia pernah dilecehkan oleh tidak saja ayah tirinya, pernah juga teman ayah tirinya. Yang membuatnya mengutuki kejadian buruk yang pernah menimpa masa kecilnya adalah bahkan dua tahun yang lalu secara verbal ia dilecehkan oleh orang asing yang ia temui di jalan. Memori buruk yang kembali terulang. Tujuh kali ia menyebut total kasus pelecehan seksual yang pernah dialaminya.

Di tengah kemarahan dan tangisannya ia sempat berucap bahwa ia tahu kalau keperawanannya masih terjaga, namun tujuh kasus pelecehan seksual itu akan menyertainya seumur hidupnya. Ditambah lagi satu hal yang membuatnya resah adalah di tanggal 7 November bulan depan ibunya akan membuatkannya pesta perayaan ulang tahun yang ke-17. Ayah tirinya akan pulang.

Saat itulah saya meyakini kalau saya harus berbuat sesuatu. Saya menghubungi dua teman aktivis dan mereka menyarankan agar saya menghubungi salah satu aktivis di Women’s Crisis Centre. Waktu itu hari Rabu, saya putuskan mengajak siswa saya ke WCC di hari Jumat karena sekolah berakhir lebih cepat. Awalnya ia ragu dan mengatakan takut, tapi saya sampaikan kalau saya akan menemani dan ia tidak boleh dibiarkan sambil lalu dengan membawa trauma sepanjang hayat.

Jumat, di waktu yang telah saya sepakati bersama bu Ine, aktivis WCC, kami hadir. Saya disambut hangat oleh bu Sri, pendiri WCC. Sedang siswa saya langsung diajak mengobrol oleh bu Ine. Di tengah kami mengobrol masuklah beberapa mahasiswa untuk melakukan riset. Bu Ine mengajak siswa saya berpindah ke dalam, sedang bu Sri masih menahan para mahasiswa untuk menunggu karena beliau masih mengobrol bersama saya. Kami mengobrol seputar kasus-kasus pelecehan seksual hingga bu Sri menyodori saya beberapa buku menarik seputar feminisme dan buku saku pendampingan kasus pelecehan seksual.

Pada akhirnya sebelum pamit salat, bu Sri membuka kesempatan apabila sekolah saya menghendaki ada semacam talkshow yang diakhiri dengan sesi curhat tentang pendidikan seksualitas. Ini tentu kabar gembira. Nanti saya harus bicara dengan pihak sekolah tentang kesempatan baik ini, nanti.

Hampir satu setengah jam siswa saya mengobrol dengan bu Ine di dalam. Saya menahan diri untuk tidak mendekat karena beberapa kekuatiran. Akhirnya saya bertahan di ruang tamu dengan membaca. Saat akhirnya siswa saya keluar bersama bu Ine, ia terlihat tersenyum. Beberapa ucapan terima kasih meluncur dari saya dan siswa saya. Kemudian kami pulang.

Di taksi daring yang kami tumpangi, siswa saya berkali-kali bersyukur kalau ia tidak sendiri. Ia menceritakan kasus-kasus pelecehan seksual yang didengarnya dari bu Ine, yang bahkan korbannya ada dari anak-anak dengan kasus yang begitu menyedihkan. Setelah kami berpisah sore itu, saya putuskan untuk tidak bercerita lagi dengan siswa saya. Saya anggap ia sudah lebih berani dan kuat.

Hingga tibalah di saat yang tidak saya duga. Hari ini saya mengajar di kelasnya dengan kegiatan penilaian praktik materi ceramah. Apa yang terjadi? Saat tiba gilirannya ia membawakan topik ceramah tentang kisah pelecehan seksualnya di depan teman-teman satu kelasnya. Hening satu kelas. Antara mereka tercengang dengan kisah pahit salah satu temannya, hingga terlarut emosi menggebu yang begitu kuat yang terasa dari si pembicara.

Ilustrasi : newyorker.com

Siswa saya ini, menyampaikan dengan tak ada satu pun kata tertahan atau jeda. Saya menjadi tegang. Dua tangan saya bertaut menopang perasaan saya yang menjalari seluruh tubuh. Saya pun mencoba menahan tetes air mata. Tapi rupanya di akhir ceramah siswa saya, saya tidak tahan lagi untuk berdiri dan berbicara di samping siswa saya. Saya katakan bahwa ini bukanlah perkara mudah untuk membuka trauma psikologis tentang kasus pelecehan seksual yang dialami siswa saya.

Tapi ia begitu lantang menyuarakan kisahnya dan menggugah dan mengajak teman-teman satu kelasnya untuk menolak kasus pelecehan seksual, untuk menghargai perempuan, untuk tidak secara picik menghakimi fisik atau pakaian korban pelecehan seksual, untuk berani berbicara, dan terutama untuk menjaga kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada posisi inferior.

Hari ini adalah hari paling dramatis di kelas tempat saya mengajar. Saya mengatakan kepada siswa-siswa saya untuk berani, menjaga diri, dan berbicara lantang dimulai dari hubungan di dalam kelas. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana kisah kita berjalan, yang kita tahu adalah bagaimana menjalaninya sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya.

Teruntuk siswa saya yang begitu berani dan kuat, semoga Tuhan selalu menjagamu dengan kasih sayang-Nya yang besar. Kau adalah berkah besar untuk ibu tersayangmu.

Malang, 21 Oktober 2019

*Penulis adalah pegiat seni dan pengajar Bahasa Indonesia

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini