Sisi Romantis Ijen Boulevard Semakin Pudar

Terakota.id–Berderet kursi taman berjajar di sepanjang Jalan Besar Ijen atau popular dikenal dengan sebutan Ijen Boulevard. Kawasan pedestrian ini dipasang kursi taman agar lebih ramah terhadap para pejalan kaki. Wali Kota Malang, Mochamad Anton meresmikan kawasan pedestrian, Sabtu 31 Desember 2016.

Kawasan ini menjadi tengaran atau landmark Kota Malang. Sekaligus menjadi salah satu simbol atau ikon wisata heritage. Menyusuri jalan utama di Kota Malang ini seolah melempar kita ke masa lalu. Deretan rumah bergaya arsitektur kolonial klasik atau art deco masih banyak dijumpai di sini.

Ijen didesain menjadi kawasan nyaman dan romantis sejak kali pertama dikembangkan. Ketua Yayasan Inggil, Dwi Cahyono menyebut kawasan Ijen Boulevard merupakan permukiman elit pada era pemerintahan Kolonial Belanda. Sedikitnya ada 80 unit rumah dibangun di masa itu.

“Kini hanya tersisa 20 unit saja. Banyak rumah di Ijen Boulevard yang sudah berubah bentuk atau bahkan musnah,” kata Dwi Cahyono.

Rumah dan kawasan Ijen Boulevard merupakan salah satu cagar budaya Kota Malang. Sayang, Pemerintah Kota Malang hanya menetapkan kawasan ini sebagai Zona Budaya dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang. Belum ada Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya yang melindungi kawasan ini.

Selain hilangnya rumah-rumah kuno berarsitektur art deco, kawasan ini perlahan mengalami perubahan dari konsep awal. Penataan pedestrian dan penanaman pohon palem raja oleh Pemerintah Kota Malang kurang harmonis dengan tanaman lainnya. Termasuk, sebuah mini market modern dan rumah makan dan aneka usaha yang tegak berdiri di tengah kawasan ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengakui terjadi perubahan bentuk kawasan Ijen, terutama secara fungsi. Namun saat ini tengah disusun Rancangan Pertaturan Daerah tentang Cagar Budaya agar bisa menjaga keaslian kawasan itu.

Kursi taman di kawasan Ijen Boulevard Malang

Ijen, Kawasan Romantis
Dalam sejarahnya, Ijen Boulevard merupakan kawasan romantis. Dirancang sebagai kawasan peristirahatan petinggi pemerintahan Belanda dan kaum ningrat Jawa masa itu. Herman Thomas Karsten, seorang perencana tata kota terbaik Hindia Belanda adalah arsitek pembangunan kawasan Ijen Boulevard pada tahun 1914. Ia dipercaya oleh Wali Kota Malang pertama, H.I Bussemaker (1919-1929) untuk membantu mengembangkan tata ruang kota.

Malang saat itu sedang gencar mengembangkan tata ruang kota, persisnya setelah ditetapkan sebagai gemeente atau kotamadya pada 1 April 1914. Ijen Boulevard, masuk dalam satu dari delapan bouwplan atau rencana perluasan kota yang disiapkan pihak gemeente di masa itu. Handinoto dalam bukunya, Arsitektur dan Kota Kota di Jawa Pada Masa Kolonial (2010;245) menyebut Herman Thomas Karsten menghadirkan sisi romantis kota dalam setiap rancangannya.

Karsten juga dikenal meletakkan kaidah-kaidah berkenaan dengan pengembangan bangunan yang berciri tropis dan perencanaan kota yang santun terhadap budaya lokal. Maka, Ijen Boulevard pun didesain menjadi kawasan yang nyaman sejak dulu.

Antariksa, Rusdi Tjahjono, dan Sigmawan Tri Pamungkas (Staf Pengajar Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya) dalam artikelnya tentang Pelestarian dan Perlindungan Bangunan Kuno di Kota Malang yang dimuat di Jurnal Asosiasi Sekolah Perencana Indonesia (Volume 3 Nomor 2 April 2004) menyebut pola visualisasi kawasan koridor Ijen Boulevard sebagian masih bertahan sampai saat ini.

Terutama tatanan ruang luar, bercirikan jalan lebar, boulevard di median jalan, tatanan vegetasi seperti pohon palem raja, serta setback deretan bangunan terhadap tepi jalan. Namun, jika kawasan ini tak dilestarikan dikawatirkan perlahan akan hilang salah satu kawasan yang membentuk identitas lokal Kota Malang.

Guru Besar Sastra dan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, Joko Saryono saat memberikan orasi budaya dipeluncuran portal Terakota.id 13 Desember 2016 lalu menyampaikan buah simalakama antara merawat tradisi dan keharusan transformasi.

“Ini penting untuk membangun dan merawat identitas lokal sebuah kota, termasuk Kota Malang,” kata Joko.

Bahwa kota yang beradab, kota yang berkembang bahkan kota maju adalah kota yang tidak hanya memiliki warisan tradisi yang kuat. Tetapi juga memelihara tradisi secara kuat. Melakukan perkembangan baru, atau sebuah pembangunan kota tanpa melakukan perubahan substansial yang justru merusak tradisi.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan