Sinyal Bahaya, Rasio Kematian COVID-19 di Kota Malang Tinggi Setahun Dihantui Pagebluk (Bagian-1)

Prosesi pemulasaraan jenazah COVID-19 dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. (Foto : Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang).

Terakota.id–Sejak sepekan terakhir, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) kewalahan menangani pasien COVID-19. Jika Pada April-Mei jumlah pasien antara 2-3 orang per hari, sekarang melonjak. Sebanyak 10 kamar tidur di ruang isolasi, telah penuh terisi. Bahkan, sempat menolak pasien karena telah melebihi kapasitas. Rasio kematian COVID-19 turut meningkat.

“Setiap hari menolak 3-6 pasien,” kata Direktur RSUB Profesor Sri Andarini. Untuk itu, ia mengimbau para dokter yang menangani pasien untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) secara ketat. Agar tak tertular dan bisa menularkan ke pasien lain.

Selama ini, RSUB memisahkan antara pasien COVID-19 dengan pasien umum. Pasien yang masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjalani rapid test, jika reaktif akan dipisahkan di ruang isoasi yang berada di gedung A. Terpisah dari pasien umum di gedung B. Pasien juga diperiksa suhu badan dan diobservasi dari gejala COVID-19.

“Jika sesak nafas dilakukan foto rontgen thorax,” katanya. Sebagai rumah sakit type C, RSUB hanya melayani pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Gejala ringan seperti batuk, mual dan panas. Sedangkan gejala sedang berupa batuk, sesak nafas dan saturasi oksigen di bawah 95 persen.

Ruang isolasi COVID-19, dibangun April 2020. Menghabiskan anggaran hingga Rp 1 miliar, dana dari Universitas Brawijaya dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. “Fasilitas belum lengkap. Tak ada ventilator. Tidak menerima pasien rujukan, belum ada alat. Mudah-mudahan tahun depan tersedia,” ujarnya.

Data Satgas COVID-19 Jawa Timur, menunjukkan tingkat kematian pasien COVID-19 di Jawa Timur tertinggi secara nasional. Sampai 20 Juni 2021 total jumlah pasien yang meninggal 12.127 atau bertambah 53. Jumlah pasien yang meninggal tertinggi berada di Surabaya, disusul Kabupaten Blitar, Kabupaten Banyuwangi dan ke empat Kota Malang.

Total jumlah pasien COVID-19 di Kota Malang yang meninggal sebanyak 651. Sedangkan rasio kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 9,44 persen, lebih tinggi dibandingkan rerata Jawa Timur dengan CFR sebesar 7,41 persen.  “Perlu diwaspadai tingkat kematian tinggi,” kata Wali Kota Malang Sutiaji kepada jurnalis 10 Mei 2021.

Kematian tinggi, katanya, lantaran terlambat mendeteksi dan menjalani perawatan di rumah sakit saat kondisi berat. Sutiaji mengklaim, seluruh fasilitas layanan kesehatan cukup dan memadai. Sutiaji juga mengingatkan varian baru COVID-19 yang masuk Jawa Timur, yang susah dikendalikan.  Data Satgas COVID-19 Kota Malang per 20 Juni 2021 total yang terkonfirmasi positif 6.896 atau bertambah 18, meninggal 651 bertambah satu orang, sembuh 6.160 dan pemantauan 85.

Testing Rendah

Pakar virus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Andrew William Tulle menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi case fatality rate (CFR). Cara menghitung CFR, katanya, yakni dengan menghitung jumlah kematian akibat COVID dibagi jumlah seluruh kasus COVID. Sehingga CFR tinggi bisa karena jumlah yang menjalani tes COVID sedikit, sehingga bilangan pembagi rendah dan CFR tinggi.

Jumlah uji usap atau swab test sedikit, katanya, bisa karena fasilitas pemeriksaan yang masih kurang atau tidak maksimal, atau jumlah reagen yakni pereaksi kimia yang terbatas. Bisa juga karena proses tracing yang belum maksimal. Sehingga belum semua kasus terdeteksi. ”Selain jumlah tes yang kurang, bisa juga memang jumlah kematian akibat COVID tinggi,” ujarnya.

Penyebab lain, katanya, bisa karena yang terjangkit COVID adalah populasi yang rentan seperti kelompok lansia yang menyebabkan kondisi klinis lebih berat. Sehingga risiko kematian  lebih besar. Selain itu, jika yang terjangkit orang dengan komorbid atau penyakit penyerta maka risiko sakit berat lebih besar.

“Cakupan vaksinasi untuk lansia yang belum maksimal ditambah dengan masyarakat yang menurut pengamatan saya cukup banyak mulai abai dengan prokes. Sehinga sangat mungkin menjadi penyebab peningkatan kasus COVID, termasuk kasus berat,” katanya. Andrew  menambahkan angka CFR perlu dicermati dengan bijak, dan jangan membuat panik.

“Kunci utamanya dengan menggalakkan kembali pelaksanaan protokol kesehatan dengan baik,” ujar Andrew. Apalagi pada tahun ajaran baru, frekuensi kegiatan belajar mengajar luring di sekolah maupun di perguruan tinggi mulai ditambah. Sehingga kepatuhan protokol kesehatan harus dijaga. Terutama di perguruan tinggi, banyak mahasiswa berasal dari berbagai daerah di luar Malang raya.

Petugas mengambil sampel cairan hidung dan tenggorokan dalam uji usap atau swab test di Labkesda Kota Malang. (Terakota/ Zainul Arifin).

“Untuk kegiatan tracing perlu ditingkatkan,” katanya. Sehingga Langkah utama tetap patuh pada protokol kesehatan, dengan mencegah transmisi akan mencegah penularan dan akhirnya akan mengurangi angka COVID. Harapannya, risiko tertular pada populasi yang rentan dengan COVID berat juga menurun.  Sehingga angka kematian juga menurun.

Proses tracing juga perlu dimaksimalkan dan kebutuhan logistik laboratorium pemeriksa COVID dijaga supaya terpenuhi. Terutama laboratorium yang melayani pemeriksaan rujukan dugaan COVID.

Kepala Dinas Kesehatan Husnul Muarif mengakui belum maksimal dalam melakukan testing atau pengujian. Sesuai standar organisasi kesehatan dunia (WHO) rasio pemeriksaan sebanyak 1/1000 penduduk per pekan. Sedangkan dengan jumlah penduduk Kota Malang 870 ribu jiwa, idealnya pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) sebanyak 870 setiap pekan. “Target belum terpenuhi. Sekitar 75 persen,” kata Husnul.

Kendala rendahnya pemeriksaan, katanya, lantaran hasil tracing atau pelacakan tak ada yang dikategorikan kontak erat. Misal satu pasien kontak erat dengan lima orang, petugas hanya menjangkau lima orang yang kontak erat tersebut. Sehingga pemeriksaan dihentikan.

Husnul menjelaskan jika jumlah pasien yang terkonfirmasi positif di Malang stabil. Tak ada klaster mudik, namun ditemukan klaster keluarga di Lowokdoro akhir Mei lalu. “Penambahan fluktuatif setiap hari 6-10, tak setinggi Desember 2020 sampai Januari 2021,” katanya.

Namun, Husnul mengklaim telah melakukan tracing dengan melacak seberapa jauh pasien melakukan kontak erat. Petugas puskesmas dan Dinas Kesehatan melakukan penyelidikan epidemologi, dan melakukan testing swab antigen. “Penyebaran terkendali, hasil tracing dan testing tak banyak yang positif,” ujarnya.

Husnul menjelaskan jika fasilitas layanan rumah sakit rujukan juga memadai. Bed Occupancy Ratio (BOR) atau rasio penggunaan tempat tidur sekitar 28 sampai 30 persen. Dari total kapasitas hampir 600 tempat tidur di 11 rumah sakit rujukan.

Meliputi RSUD Saiful Anwar Malang (RSSA), RS Soepraoen, RS Lavalette, RS Panti Waluya, RSU Islam Aisyiyah, RSU Universitas Muhammadiyah Malang, RS Islam UNISMA, RS Hermina Tangkubanprahu, RS Universitas Brawijaya, RS Lapangan Ijen Boulevard dan RSUD Kota Malang. Data Satgas Covid Jawa Timur menunjukkan hanya RSSA, RS Soepraoen, RS Lavalette dan RS Panti Waluya yang memiliki ventilator. Total tersedia 77 tempat tidur yang dilengkapi ventilator.

Rumah Sakit Lapangan Idjen Boulevard Polkesma dibuka untuk melayani pasien COVID-19. (Terakota/ Zainul Arifin).

Mengenai rasio kematian tinggi di Kota Malang, Husnul menjelaskan jika banyak pasien yang datang dalam kodisi berat. Tidak cepat dan segera memeriksa diri ke rumah sakit saat mengalami gejala. Selain itu, banyak pasien dengan komorbid atau penyakit penyerta. “Alhamdulilah RS sesuai dengan standar, untuk fasilitas tenaga medis dan logistik sudah dipenuhi sesuai ketentuan,” katanya.

Untuk menekan rasio kematian, Husnul mengaku hanya bisa sebatas menganjurkan kepada masyarakat agar segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan COVID-19. Selain itu, kewaspadaan dini harus ditingkatkan. “Parilaku masyarakat dengan menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Data Satgas COVID-19 Kota Malang 14 Juni 2021, total sebanyak 6.835 yang terkonfirmasi positif COVID19. Sebanyak 6.131 sembuh, 641 meninggal dan 63 dalam pantauan.

Kebobolan Deteksi Kasus Baru

Menurut Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman rasio kematian COVID-19 di Indonesia tinggi merupakan indikator terlambat menangani. “Berarti ada kebobolan di deteksinya, di sistem penemuan kasusnya,” kata Dicky seperti dilansir Kompas.com pada Senin 17 Juni 2021.

Penemuan kasus positif COVID-19 , katanya, tak hanya testing. Namun, bisa dilakukan secara aktif, mendatangi dari rumah ke rumah. Selain itu, jika cepat ditangani setelah ditemukan, pasien segera isolasi dan dikarantina akan berperan dalam menurunkan potensi kematian.

“Tapi masalahnya, program deteksi dini cepat dan secara aktif dari rumah ke rumah masih rendah, belum efektif dilakukan,” kata Dicky.

Angka kematian yang meningkat tinggi,  katanya, menunjukkan keparahan dari situasi pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini. Selain itu, menunjukkan kegagalan intervensi dan menjadi sinyal serius dari perkembangan wabah.

Data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) per 20 Juni 2021, terjadi penambahan kasus terkonfirmasi positif 13.737. Kasus aktif 142.719, sembuh 1.792.529 dan meninggal 54.662 jiwa atau bertambah 371. Sedangkan orang yang diperiksa sebanyak 12.471.031 atau bertambah 60.229.

“Seharusnya, tes COVID-19 di Indonesia sudah berada pada kisaran 250 ribu hingga 500 ribu tes per hari,” katanya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjuk RSUB sebagai laboratorium rujukan untuk uji usap atau swab testpolymerase chain reaction (PCR). Sebagai Rumah Sakit pendidikan menyulap klinik Paru menjadi laboraorium. RSUB memiliki empat profesor yang memiliki keahlian mikrobiologi.

Sehingga menjadi rujukan uji usap dari sejumlah rumah sakit dan dinas kesehatan di Malang Raya, Probolingo, Pasuruan dan Pacitan. Sebanyak lima tenaga analis kesehatan dengan dua alat PCR, kapasitas per hari 200 sampel. “Pada awal Maret 2020, sampai menerima 300 sampel per hari,” kata Direktur RSUB Profesor Sri Andarini.

Layanan pemeriksaan uji usap gratis, lantaran pereaksi kimia atau reagen PCR dipasok BNPB. Sedangkan sampai saat ini belum mendapat anggaran dari pemerintah daerah setempat untuk subsidi alat dan APD. RSUB mengajukan ke Pemkot Malang, Pemkot Batu dan Pemkab Malang. Namun belum disetujui sampai sekarang. Meski tarif normal sebesar Rp 900 ribu. Dampaknya, rata-rata setiap pemeriksaan RSUB merugi sampai Rp 200 ribu.

“Harusnya disubsidi pemerintah. Pengadaan setiap helai APD saja seharga Rp 400 ribu,” katanya.

Pelacakan Pasien Rendah

Salah seorang penyintas COVID-19, Tjahjana Indra Kusuma mengisahkan tiga bulan menjalani isolasi mandiri setelah terinfeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-​2). Saat awal, isolasi mandiri tak ada petugas Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kota Malang yang memantau. Termasuk melacak siapa saja yang kontak erat selama ini.

“Pada Juni 2020 mengalami gejala flu, disertai demam, batuk dan pilek,” katanya. Indra konsultasi kepada temannya yang seorang dokter Heri Kurniawan, lantas diberi resep obat dan diminta menjalani rapid test. Sepekan kemudian sembuh, namun badan masih terasa meriang. Selanjutnya ia keluar kota, saat pulang badan demam dan istrinya mengalami gejala yang sama disertai sesak nafas.

“Inisiatif rapid test, hasilnya reaktif,” katanya. Setelah itu, ia menjalani isolasi mandiri selama dua pekan. Selanjutnya menjalani tes usap PCR di RSUB, hasilnya Indra beserta istri positif COVID-19. Petugas medis di RSUB, katanya, menyampaikan akan ada petugas dari Satgas COVID-19 yang akan menghubungi. Namun, sampai 15 hari menjalani isolasi mandiri tak ada satupun petugas yang menghubunginya.

“Tak ada pengawasan, dan tak diberi obat-obatan. Akhirnya mandiri mencari obat-obatan resep Tiongkok dan herbal untuk meningkatkan imun tubuh,” katanya. Selama isolasi mandiri, Indra dan istri menghindari kontak dengan kedua anaknya dan ART. Bahkan, baju mereka cuci sendiri.

Petugas Satgas COVID-19 memantau, katanya, setelah ia mengabarkan kondisi dirinya kepada temannya yang bekerja di Puskesmas. Lantas Lurah Rampal Claket, dan petugas Linmas kelurahan Rampal Claket dan petugas medis mengawasinya. Setiap pagi mereka mengontrol sampah rumah tangga dengan ditempel stiker khusus. Agar diketahui petugas pengangkut sampah, dan tak terkontaminasi dengan sampah lain.

Salah seorang penyintas COVID-19, Tjahjana Indra Kusuma diangkut ambulans untuk menjalani pemeriksaan PCR di RSUB. (Foto : dokumen pribadi).

“Tak ada tracing, tidak ditelusuri saya kontak dengan siapa dan kemana saja,” katanya. Indra juga menjalani swab test di Surabaya lantaran lebih murah, cukup membayar Rp 120 ribu. Khusus warga luar kota Surabaya harus asal menunjukkan bukti menginap di hotel Surabaya selama tiga malam. Indra berkalkulasi, lebih murah menginap dengan tarif hotel yang jor-joran memberi diskon. Sedangkan tarif normal uji usap sebesar Rp 1,2 juta per orang.

“Hasilnya negatif. Anak-anak juga negatif,” katanya. Pengalamannya menjalani isolasi mandiri diunggah di Facebook dan menginspirasi dan membantu pasien yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Pemulasaraan Jenazah COVID-19 Meningkat

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pemakaman Umum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Takroni Akbar menjelaskan jika selama sepekan terakhir jumlah jenazah yang dimakamkan dengan prokes COVID-19 meningkat. Jika sebelumnya memakamkan 1-2 jenazah per hari, kini saban hari memakamkan 5-6 jenazah.

“Tertinggi Januari 2021, memakamkan 17 jenazah,” kata Takroni. Proses pemulasaraan jenazah yang terkonfirmasi positif COVID-19, menggunakan standar prokes ketat. Setiap petugas menggunakan alat pelindung diri (APD). Sebanyak 12 relawan dan tiga staf DLH yang bekerja bergantian untuk pemulasaraan jenazah.

Prosesi pemulasaraan jenazah COVID-19 dilakukan dengan protokol kesehatan ketat. (Foto : Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang).

“Relawan ini berpengalaman menangani pemulasaraan jenazah. Mereka menggunakan APD dan alat keamanan. Keamanan diri diutamakan,” katanya. Usai pemulasaraan jenazah, para petugas disemprot dengan desinfektan.

Setiap pemulasaraan, katanya, disediakan alokasi anggaran sebesar Rp 1,5 juta. Anggara tersebut digunakan untuk honor penggalian dan pegurukan makam jenazah. Anggaran tersebut merupakan paket melalui DLH. “Anggaran normal, meski kadang terlambat pencairan,” ujarnya.

Tim Liputan

Eko Widianto (Editor), Zainul Arifin (Reporter), Wulan Eka Handayani (Reporter)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini