Single Perempuan Mati di Bawah Jembatan, Merespons Kekerasan terhadap Perempuan

    single-perempuan-mati-di-bawah-jembatan-merespons-kekerasan-terhadap-perempuan

    Terakota.id–Musisi Yab Sarpote meluncurkan single Perempuan Mati di Bawah Jembatan setelah empat tahun disajikan secara live dari panggung ke panggung. Lagu yang biasa dibawakan dengan gitar akustik ini direkam dengan merangkul Rarya Lakshito (Cello) dan Sheila Maildha (Keyboard).

    “Memperkaya lagu yang proses rekaman, mixing, dan mastering dilangsungkan di Studio Jogja Audio School. Melibatkan Eta, salah seorang engineer studio itu,” ujar Yab Sarpote dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

     

    Karya visual lagu didesain desainer grafis asal Bulgaria, Davey David. Seluruh produksi dan pasca produksi video klip digarap secara mandiri oleh Yab Sarpote. Video klip menvisualkan trauma, depresi, gangguan mental, keterasingan, dan tendensi bunuh diri yang dialami oleh perempuan yang jadi korban kekerasan. Video klip mencoba merepresentasikan salah satu respons fisik dan mental perempuan setelah mengalami kekerasan seksual.

    Lewat lirik, nada, dan komposisi lagu ini, Yap menafsirkan dan merepresentasikan ketertekanan dan ketertindasan perempuan dalam dunia atas kekerasan berbasis gender. Lagu ini dinyanyikan pertama kali di panggung solidaritas untuk para perempuan korban dan penyintas kekerasan seksual pada 10 Mei 2015 di Titik Nol Jogja.

    Empat tahun lalu, aksi solidaritas digelar mengecam perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap E.M., seorang mahasiswi UGM. EM ditemukan tak bernyawa di bawah Jembatan Janti, Yogyakarta. Pelaku kekerasan merupakan pelanggan angkringan milik E.M,

    Data Komnas Perempuan menunjukkan selama 12 tahun kekerasan terhadap perempuan meningkat delapan kali lipat atau setara 792 persen. Sepanjang 2019, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus.

    Kasus ini yang terlaporkan dan tercatat. Kemungkinan besar kasus yang sebenarnya lebih banyak. Data ini menunjukkan betapa perempuan makin hari makin hidup dalam dunia yang tidak aman. Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan ini diperparah dengan cara pandang dan perlakuan mayoritas masyarakat yang bias gender terhadap korban dan penyintas kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

    single-perempuan-mati-di-bawah-jembatan-merespons-kekerasan-terhadap-perempuan

    Para perempuan yang menjadi korban dan penyintas seringkali tak memperoleh pembelaan, perlindungan, dan dukungan. Tetapi justru menndapat tuduhan dan pengambinghitaman (victim blaming). Para korban dan penyintas kekerasan seksual seringkali dipandang tidak dapat menjaga diri, tidak dapat berpakaian yang ‘sewajarnya’, dan tidak dapat memenuhi ekspetasi masyarakat dalam berperilaku. Kekerasan terhadap perempuan seringkali dimaklumi dan dicap bersumber dari kesalahan perempuan sendiri.

    Dalam dunia yang mengancam seperti ini, perempuan, khususnya yang jadi korban dan penyintas kekerasan, harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan. Korban dan penyintas kekerasan tidak hanya menghadapi trauma kekerasan dari pelaku, tetapi juga trauma kekerasan dari masyarakat. Maka, tak jarang para korban dan penyintas kekerasan mengalami depresi dan gangguan mental, bahkan memiliki tendensi bunuh diri.

    Versi live lagu “Perempuan Mati di Bawah Jembatan” menjadi lagu latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Institute bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia. Sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media.

    Audio lagu bisa disimak di iTunes, Spotify, dan platform digital lainnya. Sementara, video klipnya silakan ditonton di kanal Youtube Yap Sarpote.

    Tinggalkan Komentar

    Silakan tulis komentar anda
    Silakan tulis nama anda di sini