Siasat Ken Angrok Merebut Tumapel

Ken Angrok menyusun strategi, bersiap merebut kekuasaan di Tumapel. Menggalang kekuatan sipil, faksi militer dan agamawan untuk mengakhiri kekuasaan Tunggul Ametung. Kudeta paling rapi di tanah Jawa, di balik mitos Keris Mpu Gandring.

Terakota.id–Angrok bergegas berangkat ke wilayah barat. Menuju sebuah pusat perajin logam khusus yang bisa menerima pesanan senjata. Informasi lokasi didapat dari ayah angkatnya, Ki Bango Samparan yang kenal baik sosok ahli penempa logam itu.

Tiba di lokasi, Angrok bertemu Mpu Gandring sang ahli penempa logam. Ia kemukakan maksudnya, memesan senjata serta kesepakatan batas waktu pengerjaan. Tapi, Angrok datang lebih cepat dari jadwal semestinya, senjata berupa keris itu belum selesai dikerjakan.

Dengan keris yang belum sempurna itu pula, ia bunuh Mpu Gandring. Di tengah ajalnya, Mpu Gandring mengutuk Angrok dan keturunannya akan tewas dengan keris itu. Lama berselang, keris kembali menelan korban. Kali ini, Akuwu Tumapel Tunggul Ametung tewas oleh keris buatan Mpu Gandring itu.

Keris itu terus memakan korban, disusul Kebo Ijo jadi tumbalnya. Ia dihabisi Angrok dengan tuduhan sebagai otak pembunuhan sang akuwu. Ken Angrok kemudian memperistri Ken Dedes, sekaligus menjadi Raja Singhasari. Itu dikisahkan dalam Kitab Pararaton yang ditulis 1631 Masehi, kitab yang tak diketahui siapa penulisnya.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono mengatakan kisah berdirinya Kerajaan Singhasari tidak sesederhana Ken Angrok berbekal sebilah keris bikinan Mpu Gandring. Tapi, ada strategi matang disiapkan untuk suksesi itu melibatkan kekuatan sipil bersenjata, faksi militer hingga kelompok agamawan.

“Itu bukan tentang orang menyingkirkan orang dengan sebuah keris. Angrok itu sosok cerdas yang sangat siap merebut kekuasaan,” kata Dwi Cahyono.

Taktik Angrok Menaklukkan Tumapel

Sejak 1135 Masehi masa pemerintahan Raja Jayabhaya, peta kekuasaan di Jawa berubah. Wilayah timur Gunung Kawi seperti Tumapel yang sebelumnya kawasan independen, jadi jajahan Kerajaan Kediri. Prasasti Hantang mencatat sejarah itu. Dalam perkembangannya, Raja Kediri menempatkan Tunggul Ametung sebagai Akuwu Tumapel.

Gejolak perlawanan muncul dari berbagai kelompok, satu di antaranya adalah pimpinan Ken Angrok. Pemuda ini sanggup mengkonsolidasikan kekuatan antar kelompok itu. Serta merebut hati rakyat yang jengah dengan Kediri. Tak lupa, kelompok rohaniawan turut didekati untuk memperkuat pengaruhnya.

Angrok bisa diterima oleh Dan Hyang Lohgawe, tokoh rohaniawan Buddha. Apalagi kaum agamawan merasa dilecehkan oleh Tumapel saat Tunggul Ametung menculik Ken Dedes, putri seorang pendeta Buddha Mahayana. Lewat rekomendasi Lohgawe pula, Angrok bisa diterima sebagai prajurit Tumapel.

Saat menyusup ke pusat Tumapel sebagai prajurit inilah ia mampu memengaruhi faksi militer pimpinan Kebo Ijo. Jejaring yang sudah dibangun untuk kudeta terhadap Tunggul Ametung pun semakin kuat. Angrok menemui Mpu Gandring untuk memesan senjata untuk sebuah gerakan perebutan kekuasaan.

“Mpu Gandring membuat senjata untuk orang yang ingin merebut kekuasaan. Artinya, bukan hanya sebuah keris, tapi puluhan hingga ribuan senjata,” kata Dwi Cahyono.

Situasi politik di Tumapel yang tiba-tiba berubah, membuat Angrok mengambil keputusan, cepat mengambil senjata pesanannya. Apalagi faksi militer pimpinan Kebo Ijo sudah memulai perlawanan terhadap Tunggul Ametung. Sebelum terlambat, faksi militer itu akhirnya dihabisi pula oleh Angrok.

“Itu semua lebih pada percepatan kudeta kekuasaan. Daripada keduluan, maka kelompok itu dilibas duluan oleh Angrok,” tutur Dwi Cahyono.

Apalagi Angrok sejak awal sudah disokong penuh oleh kelompok rohaniawan. Ken Dedes putri Dyang Hyang Lohgawe dinikahinya, semakin memperkuat legitimasinya. Kemampuan menggalang kekuatan sipil, militer dan agamawan itu menunjukkan kecerdasan Angrok. Memunculkan dugaan sebenarnya Angrok masih keturunan bangsawan.

Ada dugaan Ken Ndok, ibu Angrok masih memiliki darah keturunan bangsawan Kerajaan Kanjuruhan. Kalangan bangsawan yang kalah dan terbuang hingga menjadi rakyat jelata. Tapi, butuh pembuktian mendalam untuk menguji pendapat itu. “Butuh penelitian lebih lanjut untuk melacak garis keturunan leluhur Angrok,” ujar Dwi Cahyono.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini