Si Manis, Jeruk Keprok dari Kungkuk

Sumarlan menunjukkan jeruk keprok Punten yang dirawat secara rutin. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Sekeliling rumah Sumarlan, 63 tahun, warga Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dipenuhi rerimbunan tanaman jeruk. Kebun seluas 250 meter tersebut khusus ditanam seribu pohon jeruk Punten, jeruk asli daerah Punten. Ia merupakan petani tulen, sejak awal kebun ditanami jeruk punten.

Namun, pada 1977 menjadi bencana bagi petani Punten. Tanamannya sempat terkena virus, akar rusak seperti penyakit kulit. Berbagai cara dilakukan untuk mengobati jeruk, namun  gagal. Pohon jeruk mengering dan berangsur-angsur mati. Sampai seluruh tanaman mati, tak tersisa.

Ia lalu mengganti dengan tanaman apel, saat itu tanaman apel menjadi primadona. Biaya produksi murah sedangkan harga apel kompetitif. Namun, sampai 2000-an harga apel murah dengan biaya produksi mahal. Petani tak menjangkau membeli pupuk dan pestisida. Ia merugi, tanahnya tergadai dan dijual untuk menutup kerugian.

“Bahkan menyisakan utang,” ujarnya. Lantas ia kembali menanam jeruk Punten. Belajar secara otodidak untuk menanam dan merawat jeruk Punten. Awalnya dia mendapat bibit tanaman yang disortir dari teman sesama petani. Lantas, ia belajar okulasi untuk memperbaiki kualitas tanaman jeruk.

“Belajar sendiri, dari pengalaman tak ada yang mengajarkan,” ujarnya. Termasuk belajar mengatasi beragam masalah, mulai penyakit hingga virus yang menyerang tanaman. Kini, jeruk itu dikenal dengan Jeruk Batu 55. Kulit jeruk kuning mengkilat, daging lembut, rasanya manis dan airnya banyak.

Buah jeruk Punten juga tergolong besar, setiap satu kilogram berisi sekitar empat sampai lima buah. Selain itu, buah jeruk tahan lama. Bertahan sampai 10 hari di udara bebas tanpa lemari es. “Dipasarkan ke Yogyakarta, Solo, Bandung dan Jakarta,” katanya.

Sejak 11 tahun terakhir, 300 pohon jeruk memenuhi kebun yang menjadi sumber kehidupannya. Sejak pukul 7.00 WIB Sumarlan keluar rumah, berkeliling kebun jeruk memangkas ranting pohon yang kering. Sekaligus membersihkan rumput, dan seresah daun kering yang menumpuk di bawah.

Kebun jeruk keprok Punten Batu terhampar luas mengitari rumah Sumarlan. (Terakota/Eko Widianto).

Mulai usia tanaman tiga tahun, dibutuhkan perawatan ekstra. Termasuk untuk perawatan buah agar menghasilkan buah berkualitas. Setiap tahun, ia membelajakan sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Biaya itu tak temasuk ongkos perawatan yang dikerjakan sendiri. Sedangkan setiap panen menghasilkan sekitar 10 ton per tahun.

Harga jeruk Punten sempat menembus Rp 14 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram. Namun, dua tahun terakhir anjlok menjadi Rp 7 ribu. Jeruk dipanen para tengkulak dari Batu. “Tak tahu kenapa harga jeruk turun. Sekarang pas-pasan,” katanya.

Namun, ia tetap akan mempertahankan tanaman jeruk yang dirawat sendiri sejak 2007. Ia berharap harga jeruk kembali bagus. Sehingga kembali menguntungkan para petani jeruk Punten. “Bisanya menanam itu. Membibit sendiri,” ujarnya.

Usia tanaman tiga tahun, dibutuhkan perawatan ekstra. Termasuk untuk perawatan buah agar menghasilkan buah berkualitas. Setiap tahun, ia membelajakan sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Biaya itu tak temasuk ongkos perawatan yang dikerjakan sendiri. Sedangkan setiap panen menghasilkan sekitar 10 ton per tahun.

Harga jeruk Punten sempat menembus Rp 14 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram. Namun, dua tahun terakhir anjlok menjadi Rp 7 ribu. Jeruk dipanen para tengkulak dari Batu. “Tak tahu kenapa harga jeruk turun. Sekarang ya pas-pasan,” katanya.

Lalat buah menjadi salah satu masalah yang dihadapi petani jeruk Punten. Lalat buah menyebabkan buah jeruk cepat membusuk. Namun, sejauh ini tak ada pembinaan dan pendampingan untuk mengatasi masalah para petani. “Dibiarkan, belajar sendiri. Tak ada bantuan dan pelatihan,” ujar Sumarlan.

Petani, katanya, belajar dan memikirkan sendiri masalah yang dihadapi. Pernah seorang petugas datang dan mencatat keluhan petani. Tapi taka da solusi dan usaha untuk mengatasi penyakit jeruk Punten yang dialami petani.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Batu jumlah tanaman jeruk Punten sebanyak 182.890 pohon. Sedangkan tanaman yang dinilai produktif sektar 140 ribu pohon. Produktivitas tanaman secara keseluruhan mencapai 67.408 kwintal atau setiap pohon menghasilkan 48 kilogram.

Kualitas buah jeruk Punten yang bagus diharapkan bisa menandingi dan menggantikan jeruk impor dari Cina. Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan Muhammad Taufiq Ratule menjelaskan jeruk 55 merupakan jeruk keprok terbagus saat ini.

Terbukti selalu menang dalam berbagai kontes atau lomba buah secara nasional.

Jeruk keprok 55 menghasilkan 35-50 ton dalam setiap hektare. Sedangkan di daerah lain produksinya hanya sekitar 15-20 ton. Pemeliharaan jadi masalah utama merosotnya produksi.

Memilih bibit yang bagus dan bebas penyakit menjadi salah satu alasan produksi buah di Batu bagus. Para petani menggunakan bibit yang bebas penyakit. Untuk mempertahankan kualitas dan keunggulan jeruk keprok 55, Balijestro bakal melakukan berbagai inovasi. Termasuk memperbaiki varietas yang sudah ada,

“Ada inovasi salah satunya jeruk keprok tanpa biji,” katanya.

1 KOMENTAR

  1. […]         Sumarlan adalah salah satu pemilik kebun di desa Punten, kebun yang dimilikinya seluas 250 meter. Kebunnya khusus ditanami seribu pohon jeruk Punten yang merupakan jeruk asli daerah Punten. Sayangnya pada tahun 1977 terjadi musibah dimana banyak tanaman terkena virus yang mengakibatkan akar rusak. Berbagai cara sudah dilakukan untuk mencoba mengobati tanaman Jeruk namun nihil hasilnya. Pohon jeruk pun berangsur-angsur mati hingga semua tanaman mati tak tersisa. Sumarlan mengganti pohon Jeruk dengan pohon Apel yang pada saat itu menjadi primadona. Biaya produksinya murah tapi harga apel sangat kompetitif. Sayangnya pada tahun 2000 situasi terbalik, harga produksi mahal sedangkan harga Apel dijual murah. Para petani tidak sanggup untuk membeli pupuk dan pestisida. Sumarlan pun merugi, tanahnya digadaikan dan dijual untuk menutupi kerugian. “bahkan menyisakan utang” ujarnya pada Terakota.id. […]

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini