Sholawat Terbangan Khas Ponorogo Sholawat terbangan adalah sholawat khas dari kabupaten Ponorogo. Ia merupakan tradisi yang lahir dari ekspresi keislaman dan kebudayaan Jawa di Ponorogo.

Penampilan Jamaah Sholawat Terbangan dari Bedingin Kec. Sambit Kab. Ponorogo di acara Riyayan Waskita Jawi di dalem kasepuhan Tegalsari, Ponorogo. (Sumber: screenshot via youtube Waskita Jawi).

Oleh: Ahmad Alwi Mughoffar*

Terakota.id– Ponorogo selain terkenal dengan Reog, yang notabenenya merupakan warisan budaya Hindu, juga banyak menyimpan budaya dari Umat Muslim, yang banyak berasal dari Tegalsari. Khususnya dalam hal bersholawat, masyarakat Ponorogo mempunyai corak yang berbeda dengan Sholawat dari Timur Tengah

Sholawat adalah syair, yang berisi ungkapan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan menurut istilah KBBI, sholawat atau selawat adalah doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sholawatan adalah pembacaan sholawat secara bersama sama dan bersahut sahutan, biasanya diiringi dengan rebana dan alat musik setempat

Dari definisi di atas, tidak ada aturan khusus tentang cara kita bersholawat. Yang terpenting itu berisi doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW, karena tidak ada aturan khusus, maka kita sebagai orang Islam diberi kebebasan dalam hal bersholawat. Dan sebagai orang Ponorogo yang bersuku Jawa, tentu kita juga diperbolehkan bersholawat menggunakan ciri khas keponorogoan yang cenderung berunsur Jawa. Dan hal tersebut disadari dan difahami betul oleh para Ulama yang mengajarkan Islam di Ponorogo.

Para Ulama mengajarkan sholawat kepada masyarakat Ponorogo dengan sholawat yang mudah diterima oleh masyarakat. Maka dari itu, ada beberapa sholawat hasil cipta para ulama Ponorogo zaman dahulu. Ada Sholawat Zamzanen, Sholawat Kencrengan, Sholawat Jros, dan satunya lagi yaitu yang akan kita ulas, Sholawat Terbangan atau biasa disebut Sholawat Dzikir Maulid Nabi.

Asal Mula Sholawat Terbangan

Sholawat terbangan adalah sholawat khas dari kabupaten Ponorogo. Ia merupakan tradisi yang lahir dari ekspresi keislaman dan kebudayaan Jawa di Ponorogo. Ia seperti kebanyakan geliat keislaman di Ponorogo yang hampir selalu identik dengan Pondok Gebang Tinatar Tegalsari atau Ki Ageng Besari. Sholawat Terbangan juga berasal dari Tegalsari. Sayangnya, penulis belum menemukan secara pasti siapa tokoh Kiai Tegalsari yang menggagas dan menciptakan sholawat ini.

Makam Ki Ageng Besari yang berada di depan pengimaman masjid Tegalsari, Ponorogo. (Sumber: singgahkemasjid.blogspot.com)

Kebanyakan tokoh yang masih aktif menggaungkan budaya sholawat ini bisa dikatakan adalah generasi ketiga. Menurut mereka bahwa yang mengajarkan sholawat ini adalah alumni Tegalsari yang menetap di desanya. Seperti yang disampaikan oleh Prapno, salah satu tokoh penggerak dan penguri-uri budaya ini, “nek sejarah pestine kulo mboten mangertos Mas, ngeng nek teng Bedingin mriki sing marai Mbah Kumiran, sing mulangne nalikane sampun boyong saking Tegalsari. (Kalau sejarah pastinya saya tidak tahu Mas. Tapi kalau di Bedingin ini dulu yang mengajarkan Mbah Kumiran sepulang dari Tegalsari.)

Sholawat Terbangan juga biasa disebut Sholawat Dzikir Maulid Nabi. Penamaan ini diambil karena sholawat ini dibaca rutin setiap tahun pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertepatan pada malam tanggal 12 Robi’ul awwal setiap tahunnya. Biasanya diadakan di masjid, musholla atau rumah tokoh masyarakat.

Selain pada momen tersebut, dulunya sholawat Terbangan biasa diadakan setiap malam Jum’at. Ketika zaman mengalami pergeseran dan semakin banyaknya sholawat yang masuk ke Indonesia, sekarang hanya diadakan ketika ada orang yang membutuhkan untuk acara hajatan. Biasanya untuk resepsi pernikahan, khitanan, piton-piton (tujuh bulan kelahiran bayi), dsb.

Menariknya, sholawatan ini juga ditampilkan ketika ada nadzar dari seseorang. Jadi muncul istilah nadzar dalam sholawat. Seperti disampaikan oleh Someto, salah satu tokoh penggerak sholawat ini, “Biasane diundang niku nek wonten tiyang ingkang gadah nadzar, contone wonten tiyang ingkang anggadahi anak sing sakit, trus kepingin anake sehat, trus nadzar mengke nek anakku sehat, tak tanngap sholawat terbangan.(Biasanya diundang kalau ada orang punya nadzar. Contohnya orang yang punya anak yang sakit, terus ingin anaknya sehat. Nadzarnya, nanti kalau anakku sehat akan mengadakan sholawat Terbangan).

Jika tidak dituruti, menurut kepercayaan masyarakat, bisa berakibat buruk bagi yang bernadzar. Karena hal ini dipercaya bahwasannya nadzar tersebut dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karenanya, tidak etis jika tidak ditepati.

Ciri Khas Sholawat Terbangan

Sholawat Terbangan khas Ponorogo ini memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan sholawat lain. Jika sholawatan yang lain dizaman sekarang menggunakan berbagai alat musik kekinian, maka sholawatan Terbangan menggunakan alat musik terbang khusus yang berukuran besar yang biasa digunakan untuk Zamzanen (yang juga merupakan Khas Ponorogo). Alat musik ini berfungsi sebagai bas atau gong. Selain itu juga ada gendang, yang merupakan alat musik utama dalam sholawat Terbangan. Ia berfungsi sebagi pengatur tempo nada.

Mengenai personil, sholawat ini minimal dimainkan oleh 5 orang inti, dan beberapa anggota penyorak. Para personil mempunyai peran dan fungsi masing-masing. Penamaannya pun juga berbeda-beda. Yang pertama dan paling pokok yaitu seseorang yang memainkan peran sebagai Kempyangan. Yaitu orang yang berperan sebagai pengatur vocal dan lagu.

Seseorang yang memainkan peran ini diwajibkan hafal nada-nada yang dimainkan dalam sholawat ini. Rebana (terbang) yang berukuran besar dimainkan sebagai penyeimbang dan penyesuai antara teks sholawat dan nada sholawat.

Selain itu juga ada pengendang. Pengendang berperan mengatur nada utama dan pemberi variasi dalam iringan musik. Orang yang berperan sebagai pengendang juga harus mengetahui dan hafal lagu dan nada di tiap turunan (sebutan untuk pergantian lagu). Karena lazimnya sholawat ini tidak menggunakan speaker atau mikrofon, maka diperlukan juga beberapa anggota penyorak. Mereka bertugas menirukan apa yang dilafalkan oleh Kempyangan,dan menjawab beberapa lafadz sholawat yang membutuhkan jawaban khusus di setiap kalimat.

Sedangkan sholawat yang dibaca adalah cuplikan dari kitab Maulid al-Barzanji. Dan beberapa kitab Arab lain yang berisi sholawat. Kitab tersebut ditulis tangan dengan menggunakan lidi dari pohon aren yang dicelupkan ke tinta dan ditulis di Kertas Gedog atau yang biasa disebut Dluwang.

Kitab ini berisikan 15 lagu yang penamaannya disebut Turunan. Yang dimulai dengan sholawat  Assalamu ‘alaik (baca: Asselam ngalek), dan ditup dengan Sholawat  Asyroqol badru yang lazim disebut Serakalan.

Keunikan lainnya adalah cara membaca kitab sholawat (yang disebut Tuladha). Yaitu mereka membaca teks Arab yang berdasarkan huruf hijaiyyah, dengan metode bacaan Jawa yang berdasarkan aksara jawa Honocoroko. Hingga penulis pun kebingungan karena antara yang dibaca dan dilafalkan banyak terjadi perbedaan. Salah satu yang paling mencolok adalah pembacaan lafad Musthofa, dibaca Mustopa. Dan dalam mahallul qiyam (pembacaan sholat yang mengharuskan berdiri, karena diyakini Nabi Muhammad hadir dalam majelis tersebut) terdapat pula beberapa perbedaan pelafalan.

Di kitab dituliskan lafad “Yaa Nabi Salam ‘Alaika, Yaa Rosul Salam, ‘Alaika Ya Habib Salam ‘Alaika, Allahu Allah, Sholawat Salam ‘Alaika. Karena menurut pakem huruf hijaiyyah dan aksara Jawa ada beberapa perbedaan, maka para personil sholawatan melafalkannya menjadi: “Yo Nabi Salam Ngalaika, Yo Rasul Salam ngalaika. Ngalaika Yo Kabibi Salam Ngalaika, Allahu Allah, Selawat Salam ngalaika.

Kitab ditulis tangan menggunakan lidi pohon aren yang dicelupkan ke tinta dan ditulis di Kertas Gedog atau yang biasa disebut Dluwang.

Menurut Prapno pakem ini telah diajarkan turun temurun dari dulu. Ia merupakan penyesuaian lafadz Arab dengan aksara Jawa. Tujuannya untuk memudahkan masyarakat Ponorogo tempo dulu yang mayoritas tidak biasa melafalkan bahasa Arab. Dengan begitu sholawatan tetap bisa diambil fadhilahnya oleh orang Jawa. Toh, masayarakat meyakini bahwa sholawat itu boleh dilafalkan bagaimanapun caranya. Yang terpenting adalah niat pembacanya.

Pasang Surut dan Regenerasi

Menurut saya keberadaan dan keberlangsungan sholawat ini, kini sulit untuk ditemukan. Salah satu sebabnya adalah terhambat dan terputusnya proses regenerasi. Hal ini bisa terjadi karena banyaknya variasi budaya sholawat model kekinian yang banyak diminati oleh pemuda zaman sekarang. Meski masih terdapat beberapa orang yang bisa memainkan sholawat ini, tetapi kebanyakan mereka tidak memiliki grup. Masalahnya tidak banyak generasi muda yang mau meneruskan. Ditambah, banyak personil yang sudah tua dan bahkan  beberapa sudah meninggal dunia. Akibatnya, sholawatan Terbangan tidak bisa dirutinkan di tiap tahunnya.

Di tengah senjakala sholawatan Terbangan di Ponorogo, kita bersyukur masih ada desa Bedingin Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo. Mereka masih rutin membaca sholawat Terbangan hingga sekarang. Di sana regenarasi terbilang berjalan lancar. Di sana, para sesepuh memperhatikan keberlangsungan sholawat ini, lebih-lebih terhadap anak cucunya. Sehingga di setiap generasi ada beberapa pemuda yang meneruskan tradisi sesepuhnya. Keberlangsungan sholawat Terbangan di Bedingin juga didukung oleh keyakinan bahwasanya inilah yang bisa menolak bala’ dan memperoleh manfaat. Tak lain karena berkah dan syafaat Nabi Muhammad.

Grup sholawat Terbangan di Desa Bedingin masih tetap eksis hingga kini. Selain dibaca rutin setiap momen Maulid Nabi, mereka juga sering diundang di beberapa hajatan warga Bedingin. Bahkan mereka juga kerap diundang daerah lain di luar Kecamatan Sambit dan Kabupaten Ponorogo.

Prapno selaku pimpinan grup sholawat Terbangan di Bedingin ini, terus berusaha mengembangkan, melestarikan dan mengenalkan budaya Sholawat yang katanya kuno ini kepada masyarakat luas. Ia juga mengharap kepada kita sebagai generasi muda untuk tidak melupakan budaya sholawat peninggalan leluhur kita semua. Sekaligus juga turut melestarikan dan mengenalkan sholawat Terbangan ini kepada masyarakat luas. Tak lain agar masyarakat tidak lupa akan budaya leluhurnya.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Penulis adalah santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Mutathowi’in Ngujur Kab. Madiun.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini