Setelah Kemeriahan Penerjemahan

Diskusi kelompok kecil dalam lokakarya penerjemahan karya sastra. Dari kanan ke kiri tampak Gampang Prawoto (penyair), Arum, Sutrisno, Evita, dan Lailul (penerjemah), dan blogger Anda tercinta sebagai penelaah. (Foto: Sandy Balai Bahasa Jawa Timur)

Terakota.id–Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2021 ini punya program yang sekilas terlihat biasa saja tapi ternyata memiliki banyak potensi: penerjemahan karya sastra dari bahasa-bahasa daerah di Jawa Timur ke dalam bahasa Indonesia. Sekali lagi, sekilas tidak ada yang luar biasa dari sebuah usaha penerjemahan. Tapi, kalau kita lihat lebih jauh, kegiatan ini menyingkapkan sebuah proses yang meriah bagi dunia penerjemahan. Dia meriah karena melibatkan banyak proses, banyak orang, banyak refleksi, dan hal-hal lain yang bisa dirayakan setelah kemeriahan ini usai.

Tahap Penerjemahan Berlapis

Sebagai gambaran, program ini punya langkah-langkah yang cukup panjang. Pertama, program ini diawali dengan selesai naskah karya-karya sastra dari penulis di Jawa Timur. Kemudian, setelah seleksi karya-karya sastra selesai (ditentukan ada karya-karya sastra berbahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Osing) dan ditentukan siapa-siapa yang layak masuk, maka dilanjutkan dengan seleksi penerjemah yang dilakukan secara terbuka (siapa saja yang suka menerjemah boleh mengirimkan karya terjemahannya). Ketiga, para penerjemah ini diberi naskah untuk diterjemahkan. Dari 250 pelamar, ditentukan 50 orang, dan kemudian dipilih 15 penerjemah (ditambah penerjemah dari Balai Bahasa Jawa Timur). Keempat, setelah penerjemahan selesai, ada proses penelaahan oleh kelompok lain (penulis, praktisi penerjemahan, dan akademisi). Dan terakhir, semua pihak yang terlibat dalam penerjemahan pun dipertemukan dalam satu lokakarya untuk melakukan pembahasan terakhir sebelum naskah masuk ke tahap penerbitan.

Dari sini saja mestinya sudah terlibat adalah proses yang tidak dialami semua buku terjemahan. Setelah sama-sama melakukan kerja sepi menulis, menerjemah, dan menelaah, semua pihak ini dipertemukan dalam sebuah forum diskusi zoom untuk mempertemukan hasil telaah dengan penerjemah sambil disaksikan oleh penulis yang juga didengarkan unek-uneknya. Kemudian penerjemah melanjutkan revisi atas karya terjemahannya tersebut setelah mendengar pendapat penelaah dan penulis.

Terakhir, pada tanggal 20 dan 21 November 2021, terjadilah pertemuan terakhir. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses penerjemahan ini dipertemukan dalam sebuah lokakarya tatap muka yang bertujuan untuk mempertemukan tali-tali yang mungkin masih berjelai belum tersimpulkan. Di sini, tampak bahwa pertemuan fisik tetap lebih utama dibandingkan pertemuan webinar. Dan, banyak pandangan dari sastrawan yang awalnya tidak bisa tersampaikan bisa tersampaikan. Begitu juga dengan penerjemah, kita akhirnya mendapatkan gambaran tentang hal-hal yang ada di balik penerjemahan yang tidak tersampaikan pada pertemuan secara daring.

Saya kebetulan terlibat sebagai penelahaan yang kebagian tugas membaca dan memeriksa keterbacaan beberapa karya terjemahan, antara lain novel “Srengenge Tengange” dari Pak Narko Sodrun Budiman oleh Mohammad Fajar, kumpulan puisi “Puser Bumi” dari Gampang Prawoto oleh Ignatius Sutrisno Hadi, dan kumpulan puisi “Layang Saka Paran” karya Widodo Basuki oleh Dalwiningsih.

Refleksi Penerjemahan yang Berarti

Dari proses ini, ada beberapa hal menarik yang muncul. Pertama, tidak semua penerjemah ini yang merupakan praktisi. Memang ada beberapa penerjemah yang merupakan praktisi di bidang ini, misalnya Abdul Mukhid, penerjemah dan penulis dari Malang yang terbilang cukup produktif dan banyak memenangkan lomba dengan tulisan-tulisannya. Namun, kebanyakan dari penerjemah lainnya adalah gabungan antara mahasiswa dan khalayak umum yang memiliki kemampuan menulis dan menerjemahkan tapi belum memiliki karya terjemahan. Namun, ada satu fakta penting yang perlu dicatat: para penerjemah ini adalah penutur asli bahasa daerah dan bahasa Indonesia! Orang-orang ini memang sudah memiliki modal paling mendasar yang dibutuhkan sebagai penerjemah.

Hal unik lainnya adalah bahwa para penerjemah ini memiliki passion yang sangat besar dengan ikhtiar penerjemahan yang mereka lakukan. Salah satu penerjemah yang memiliki proses unik adalah Ignatius Sutrisno Hadi. Untuk menerjemahkan kumpulan puisi Gampang Prawoto, Sutrisno yang lulusan Sastra Inggris ini jadi harus mempelajari pendekatan-pendekatan dalam karya sastra dari masa kuliahnya. Dia gunakan pendekatan biografis untuk memahami puisi-puisi dari buku “Puser Bumi.” Yang dia lakukan adalah menelusuri berbagai laku hidup si penyair, tempat-tempat yang menjadi daerah orbitnya, dan berbagai pandangan si penyair sejauh bisa dia tangkap sumber-sumber internet. Dari situlah dia mendapatkan sejumlah yang bisa dia pegang dalam proses penerjemahan yang dia lakukan.

Di antara hal-hal yang dijadikan Sutrisno sebagai pegangan adalah bahwa penyair adalah orang yang selalu ingin menghidupkan Sastra Jawa. Dengan berpegangan kepada hal tersebut, dalam menerjemahkan Sutrisno ingin mempertahankan rasa bahasa Jawa dalam karya terjemahan yang dia hasilkan. Alhasil, naskah terjemahan Sutrisno yang waktu itu saya merupakan puisi-puisi berbahasa Indonesia dengan cita rasa Jawa yang sangat kuat. Selain dari isinya yang seringkali berkisar pada tempat-tempat di berbagai daerah Jawa Timur, pilihan kata yang dipakai oleh Sutrisno dalam menerjemahkan terasa sangat Jawa. Uniknya, saat dilacak lebih jauh, ternyata kata-kata yang bernuansa Jawa itu ternyata ada di dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Dengan perkataan lain, kata-kata itu sebenarnya adalah kata bahasa Jawa yang sudah secara resmi diterima sebagai kata bahasa Indonesia. Di sini, pemahaman penerjemah tentang pandangan berkesenian si penyair membuat si penerjemah memiliki pandangan khusus dalam menerjemahkan. Penerjemah memiliki posisi tertentu dalam menerjemahkan, tidak sekadar mengalihbahasakan. Pembaca pun mendapatkan puisi baru: puisi berbahasa Indonesia yang bercitarasa bahasa Jawa karya Gampang Prawoto.

Mari kita lihat satu puisi dalam kumpulan tersebut:

LELES

Le, tole….coba dipandang
di tengah sawah, panasnya memanggang
orang yang membolak-balikkan damen dan mengurut merang
pipil jumput, daripada dewi sri terbuang

Pandang…..
pandanglah dengan hati terang
hadapi realita keadaan
sesaknya hidup serba kekurangan
hidup nelangsa rakyat pedesaan

Bojonegoro, 06 Juni 1998

Selain perjalanan penejemahan Sutrisno yang mendapatkan persetujuan dari Gampang Prawoto, ada juga temuan-temuan menarik dari penerjemah-penerjemah lain. Penerjemah lain, Mohammad Fajar, mengalami sesuatu yang berbeda. Meski belum memiliki pengalaman sebagai penerjemah, Fajar adalah seorang penerjemah bahasa Jawa yang berbakat. Fajar memiliki pemahaman bahasa Jawa yang sangat bagus bila mengingat fakta bahwa dia lahir pada tahun 2000-an dan tumbuh di masa ketika bahasa Jawa di kalangan muda sudah sangat cair dan tercampur bahasa Indonesia (ingat lagu-lagunya Via Vallen dan Denny Caknan, kan?). Dia bisa memahami dengan baik naskah sumber. Namun, karena baru pertama kali menerjemahkan karya sastra, dia masih sesekali terjebak ke dalam penerjemahan yang sangat literal. Hal ini membawanya ke dalam pembelajaran yang menarik dengan berinteraksi secara langsung dengan Narko Sodrun Budiman yang memberikan banyak pandangan dan ikut membimbing Fajar dalam proses penerjemahannya.

Hal ini disambut dengan sangat positif oleh Fajar. Mahasiswa Jurusan Bahasa Jawa di Universitas Sebelas Maret di Surakarta ini merangkul proses pembelajarannya dan siap menjadikan proses ini sebagai skripsi ketika nanti dia sudah sampai ke tahap penulisan skripsi. Dari sini, kita bisa berharap mendapatkan sebuah kajian yang berarti tentang berbagai proses intelektual yang terjadi dalam proses penerjemahan sebuah karya sastra.

Kelanjutan

Program penerjemahan karya sastra daerah oleh Balai Bahasa Jawa Timur ini memang sudah mendekati akhirnya. Namun, masih ada banyak lagi yang tetap bisa berlanjut dari program ini. Yang paling memungkinkan adalah dokumentasi atau refleksi dari berbagai pihak yang bisa dituliskan. Refleksi tentang proses ini sangat berpotensi menjadi pembelajaran tentang proses penerjemahan bagi para penerjemah sastra (terutama dari bahasa daerah, tetapi tidak menutup kemungkin juga bagi penerjemah dari bahasa asing).

Dan, masih ada satu lagi yang relevan di tengah kemeriahan Merdeka Belajar. Salah satu sorotan dalam Merdeka Belajar adalah turut mendukung terciptanya “profil pelajar Pancasila,” yang merangkul dan mengakrabi keberagaman Indonesia. Program-program seperti Modul Nusantara dan Pertukaran Pelajar antar daerah memiliki cita-cita luhur menumbuhkan kesadaran akan keberagaman di seluruh Indonesia. Nah, 20 buku karya sastra dari bahasa Jawa, Madura, dan Osing ini sebentar lagi tersedia dalam bahasa yang bisa dipahami dari Pulau We sampai tepian Merauke.

Sudah ketemu kan kira-kira satu peran besar yang dimainkan hasil dari Program Penerjemahan di Balai Bahasa Jawa Timur ini?

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini