Setahun Dihantui Pagebluk

Terakota.id-Setahun lebih, pagebluk atau pandemi COVID-19 menghantui seluruh penduduk di muka bumi. Termasuk di Indonesia, data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) per 20 Juni 2021, terjadi penambahan kasus terkonfirmasi positif 13.737. Kasus aktif 142.719, sembuh 1.792.529 dan meninggal 54.662 jiwa atau bertambah 371. Sedangkan orang yang diperiksa sebanyak 12.471.031 atau bertmbah 60.229.

Sementara data Satgas COVID-19 Jawa Timur, menunjukkan tingkat kematian pasien COVID-19 di Jawa Timur tertinggi secara nasional. Sampai 20 Juni 2021, total jumlah pasien yang meninggal 12.127 atau bertambah 53. Jumlah pasien yang meninggal tertinggi berada di Surabaya, disusul Kabupaten Blitar, Kabupaten Banyuwangi dan ke empat Kota Malang.

Total jumlah pasien COVID-19 di Kota Malang yang meninggal sebanyak 651. Sedangkan rasio kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sebesar 9,44 persen, lebih tinggi dibandingkan rerata Jawa Timur dengan CFR sebesar 7,41 persen.  Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan perlu diwaspadai tingkat kematian yang tinggi.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan rasio kematian COVID-19 di Indonesia tinggi merupakan indikator terlambat menangani. “Berarti ada kebobolan di deteksinya, di sistem penemuan kasusnya,” kata Dicky seperti dilansir Kompas.com pada Senin 17 Juni 2021.

Penemuan kasus positif COVID-19 , katanya, tak hanya testing. Namun, bisa dilakukan secara aktif, mendatangi dari rumah ke rumah. Selain itu, jika cepat ditangani setelah ditemukan, pasien segera isolasi dan dikarantina akan berperan dalam menurunkan potensi kematian.

“Tapi masalahnya, program deteksi dini cepat dan secara aktif dari rumah ke rumah masih rendah, belum efektif dilakukan,” kata Dicky.

Angka kematian yang meningkat tinggi akibat pagebluk,  katanya, menunjukkan keparahan dari situasi pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini. Selain itu, menunjukkan kegagalan intervensi dan menjadi sinyal serius dari perkembangan wabah.

Untuk menangani COVID-19, Pemerintah Kota Malang pada 2020 lalu mengalokasikan anggaran melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 200 miliar. Anggaran diperuntukkan untuk sektor kesehatan sampai jaring pengaman sosial. Namun sampai tutup tahun anggaran hanya terealisasi Rp 54 miliar dana yang digunakan. Dana yang tak terpakai menjadi Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa).

Sebagian Silpa kembali dimasukkan sebagai BTT penanganan COVID-19 pada 2021 sebesar Rp 56,4 miliar. Penggunaan dana hanya difokuskan untuk sektor kesehatan. Setali tiga uang, serapan penggunaannya pun masih rendah. Sampai 14 Juni 2021 hanya terpakai Rp 19 miliar atau sekitar 33,80 persen.

Anggaran yang terserap Dinas Kesehatan untuk surveilans, imunisasi COVID-19, operasional Labkesda dan pemulasaraan jenazah Rp 8,7 miliar, operasional rumah isolasi Rp 3,1 miliar, operasional RSUD Kota Malang Rp 3, 1 miliar, Dinas Lingkungan Hidup Rp 1,2 miliar, dan dana operasional PPKM Mikro Rp 2,5 miliar.

Bagaimana penanganan COVID-19 dalam setahun terakhir. Tim jurnalis Terakota.id menurunkan laporan jurnalistik dalam tiga laporan berseri. Selamat membaca.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini