Serpihan Kaleidoskop  Perempuan di Masa Pandemi  

Ilustrasi : dreamstime.com

Terakota.id–Apa saja yang berseliweran di beranda media sosial? Dan juga layar-layar WA Group selama pandemi Covid-19 berlangsung sungguh mencengangkan. Berbagai ekspresi masyarakat, komunitas, maupun perorangan dalam berkutat dengan kondisi yang menyedihkan ini. Namun, siapa sangka di tangan sebagian para perempuan “penghuni internet”, Work From Home, daring activity, dan virtual meeting melahirkan ekspresi luar biasa.

Berbagai karya disebarkan. Hasil dari kolaborasi dan kerja jaringan yang menumbuhkan kegembiraan. Walau kadang tampak sebagai hal-hal yang ringan, namun efek dominonya tidak bisa disepelekan dalam menjaga perahu Indonesia dan perahu lingkungan sosial tidak oleng.

Seperti Minggu 20 Desember 2020, setelah acara keluarga di enam jam pertama hari itu, saya mengikuti acara daring Peluncuran Buku Antologi Cerpen Misteri oleh 25 Penulis – semuanya perempuan. Mereka adalah para peserta kelas menulis yang diselenggarakan oleh penulis perempuan.

Peluncuran Buku Antologi ini menghadirkan tiga reviewer yang semua adalah perempuan penulis yang memiliki karya-karya buku cerita yang luar biasa. Menjelang sore, saya mengikuti kembali peluncuran buku Kumpulan Puisi yang ditulis para dosen sebuah Perguruan Tinggi di jakarta, dimana penggagasnya adalah perempuan dan penulisnya juga mayoritas para perempuan.

Jadi flash back dengan pengalaman sendiri. September lalu, tepatnya 26 September 2020 saya bersama 18 perempuan dosen dari 15 Perguruan Tinggi juga meluncurkan Buku Antologi Corpus Puisi Pandemi. Buku setebal 174 halaman itu merupakan kolaborasi selama empat bulan dalam ruang-ruang virtual. Peluncuran buku dikelola sendiri oleh para perempuan yang juga sebagai penulisnya.

Sebelumnya, sebagian besar  para penulis Buku Antologi Corpus Puisi Pandemi juga berkolaborasi dalam Kampanye Anti Hoax Covid-19 dengan penyebaran pesan-pesan digital menggunakan poster 43 bahasa daerah, dan dua bahasa asing. Tidak main-main, kampanye ini dilakukan selama enam bulan sejak Maret-Agustus 2020.

Koodinator kampanye seorang perempuan, koordinator jaringan juga seorang perempuan. Sementara jaringan ini anggotanya tersebar dari Aceh hingga Papua dengan 164 anggota yang tersebar di 30 kota di Indonesia, Malaysia, Inggris, Austria, dan Australia. Mereka berasal dari 78 Perguruan Tinggi di Indonesia.

Semua proses kerja tim kampanye dilakukan secara daring, dan mendapatkan respon secara luring oleh masyarakat daerah-daerah. Jaringan tersebut kini sedang menunggu peluncuran buku setebal 500 halaman lebih yang sedang proses cetak. Isi buku merupakan hasil riset, pengalaman pribadi, dan pengalaman tim kampanye anti hoax covid-19 tiga editor dan desainernya para perempuan.

Hari ini tepat pada Hari ibu, 22 Desember 2020 masih pagi ketika kubaca pesan di WAG, Undangan Peluncuran Buku Antologi Kita Bukan sekedar Angka – Puan Indonesia menulis Pandemi. Penulisnya adalah 56 perempuan dari beragam profesi dan latar belakang, datang dari Aceh sampai Papua. Mulai dari pengusaha, guru, dosen, jurnalis, aktivis, pegiat komunitas, dan pejabat negara sekelas menteri. Hasil penjualan  buku setebal 450 halaman ini akan didonasikan kepada kelompok perempuan yang terdampak covid-19.

Dan tentunya masih banyak karya perempuan disamping penulisan yang diterbitkan dalam bentuk buku. Bertebaran di sosial media dokumen-dokumen kiprah parempuan untuk saling mendukung untuk bertahan dalam situasi pandemi melalui gerakan filantropi atau kedermawanan sosial. Sehingga jika itu semua ditulis, entah akan berapa juta halaman bisa disediakan untuk kiprah para perempuan di masa pandemi ini.

Fungsi Menulis Bagi Para Perempuan

Situasi serba daring dan virtual ternyata merupakan energi sendiri bagi para perempuan untuk menulis. Situasinya juga sangat kompatibel bagi mereka untuk memaksimalkan jaringan sosial. Setidaknya memangkas waktu untuk mobile jika harus melakukan perjalanan ke tempat-tempat pertemuan para penulisnya. Virtual meeting benar-benar suatu situasi yang pas dalam memperbincang gagasan-gagasan yang menyatukan para perempuan dari berbagai penjuru.

Menulis memliki banyak manfaat bagi para perempuan. Pertama, sebagai katarsis (penyaluran)  atas pikiran dan hati yang gelisah secara intelektual. Proses ini mengasah perempuan dalam proses intelektual. Sebagai katarsis, menulis juga membuat perempuan bahagia.  Kedua, sebagai dokumen atau jejak yang bisa mencatat kehadiran perempuan di dunia ini yang sungguh berarti.

Hal ini bisa menginspirasi setiap orang yang membaca. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Ketiga, sebagai refleksi dan kontemplasi bagi perempuan maupun laki-laki dalam memandang keberadaan  perempuan. Tulisan yang dipublikasikan juga berfungsi edukasi (pendidikan) bagi masyarakat tentang keseteraan dan inklusivitas.

Tidak bisa dipungkiri, perempuan memiliki pengalaman batin yang luar biasa di tengah-tengah kehidupan besar dunia ini. Sejarah panjang perjuangan perempuan global dalam mendobrak dominasi budaya patriakhi bukan lagi rahasia. Maka narasi tentang perempuan yang sebagian masih “muted” perlu mencari ruang sendiri. Penerbitan tulisan-tulisan secara mandiri sangat memungkinkan. Apalagi di era digital seperti saat ini. Ruang bagi perempuan untuk bersuara semakin terbuka.

Tidak ada lagi alasan  sistem yang membungkam suara perempuan. Sosial media dan masyarakat berjejaring adalah channel dan “pasar” yang besar untuk mempromosikan suara perempuan. Apalagi tulisan-tulisan itu bukan hanya buah pikir perempuan, namun juga merekam pengalaman nyata kiprah perempuan di ranah domestik maupun ranah sosial yang lebih luas.

Pengalaman mengikuti dunia kepenulisan di masa pandemi ini, menjelang 22 Desember 2020 sebagai hari peringatan kebangkitan perempuan, saya sedikit memiliki catatan. Sayang sekali dalam dunia sastra di Indonesia, perempuan seperti belum dianggap pantas diatas panggung. Terus terang, seperti kisah saya mengawali tulisan ini. Pada Minggu 20 Desember sebenarnya tidak hanya dua webinar yang saya ikuti. Melainkan ada tiga.

Satu lagi adalah saya mengikuti Perayaan Hari Puisi Indonesia 2020. Penyelenggaranya Yayasan Puisi Indonesia. Disana banyak penyair besar. Setiap tahun HPI menyelenggarakan Lomba Puisi dan Buku Puisi. Namun, sangat minim pemenangnya penyair atau penulis puisi dari pihak perempuan. Begitu juga kepanitiaannya, sepertinya perempuan juga sangat minim mendapat posisi penting.

Saat acara Penganugerahan Pemenang sebagai Puncak HPI 2020 yang megah, saya menyaksikan kehadiran perempuan dipanggung cukup sebagai pembawa acara dan dirigen saat menyanyikan lagu nasional. Entahlah, seraya bagi saya itu paradok dengan berseliwerannya buku-buku yang digagas para perempuan, ditulis oleh para perempuan, dan dirayakan oleh para perempuan di ruang-ruang digital.

Selamat hari Perempuan.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini