Seputar Identitas dan Kipkop   Oleh : Dono Sunardi*

seputar-identitas-dan-kipkop

Terakota.id–Sebagai seorang penikmat sastra Indonesia yang kurang sistematis, saya tidak tahu kedudukan para sastrawan. Salah satu dari banyak yang saya tidak tahu kedudukannya itu adalah Pamusuk Eneste (lahir Padang Mattingi di Sumatera Utara, 1951). Oleh Wikipedia, pekerjaan Pamusuk disebutkan sebagai sastrawan dan pengajar. Namun, mungkin karena karya-karyanya tidak pernah diperkenalkan pada saya di sekolah dan kampus saya dulu oleh guru dan dosen saya (saya sendiri bukan siswa kelas Bahasa ketika di SMA dan juga tidak belajar di jurusan Sastra Indonesia di kampus), Pamusuk lebih saya kenal karena buku-buku “pegangan” penyuntingannya. Sebagai seorang penerjemah dan editor, saya membaca karya-karyanya yang digolongkan terakhir ini.

Maka, ketika ada kesempatan bagi saya untuk membaca kumpulan cerita pendek (cerpen) Pamusuk Eneste yang dibukukan di bawah judul Orang-Orang Terasing (1984), saya lumayan antusias. Dan, antusiasme saya kiranya terbayar. Lima belas cerpen yang terhimpun dalam kumpulan cerpen itu nikmat, menggelitik, unik, dan usil. Cerpen-cerpen Pamusuk menceritakan kisah-kisah manusia biasa yang umumnya tak terekam oleh laporan jurnalistik aras utama atau buku sejarah, karena tokoh-tokohnya adalah orang kebanyakan, yang dipandang rendah oleh orang-orang di sekitar mereka, yang merasa terasing atau diasingkan oleh sesamanya. Kesan yang kurang-lebih sama kadang saya rasakan saat membaca cerpen-cerpen Budi Darma. Di mana persisnya kurang-lebih samanya dan mengapa bisa begitu, saya tidak dapat menjelaskannya dengan gamblang sekarang ini.

Wolfgang Kipkop

Kelima belas cerpen dalam Orang-Orang Terasing kesemuanya memiliki judul nama orang yang jadi tokoh sentralnya. Dan nama-nama tersebut bisa jadi terdengar asing di telinga sebagian besar dari kita. Demikianlah, muncul nama-nama seperti Dodeskaden, Wolfgang Kipkop, Bildog, Pikobelo, Biggie, Jenderal Gantole, Barbarosa, Dondelon, dan semacamnya. Mungkinkah itu mengapa kumpulan cerpen ini mengambil judul Orang-Orang Terasing, kita tidak tahu pasti.

Saya sendiri sangat tertarik saat membaca cerpen Wolfgang Kipkop. Tokoh sentralnya adalah ‘aku’ dan, tentu saja, Wolfgang Kipkop. Si ‘aku’ dikisahkan sedang belajar di Universitas Hamburg; di jurusan apa kita tidak tahu, tetapi yang kita pasti akan tergoda untuk mengaitkan ‘aku’ ini dengan Pamusuk sendiri, yang pada 1978-1981, juga kuliah di Universitas Hamburg. ‘Aku’ dan Kipkop, yang dipanggilnya Pak Kipkop karena keterpautan usia mereka yang jauh, bertemu pertama kali secara tidak sengaja di Mensa, semacam kantin mahasiswa. Aneh, bahwa Kipkop yang selalu bersetelan perlente, dengan jas dan sepatu mengkilat, makan siang bersama para mahasiswa dan menyapa ‘aku’. Kalau tidak merupakan orang yang sangat low profile, apa lagi, demikian kita menduga.

Apalagi, di pertemuan pertama itu, Kipkop menyebut kepada ‘aku’ bahwa dia kenal dengan sangat baik serta memiliki relasi yang intim dengan beberapa nama tenar, mulai dari Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Sarbini Somawinata, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Juwono Sudarsono. Sangat mengesankan sekaligus intimidatif.

Beberapa kali setelahnya, ‘aku’ bertemu ‘secara tidak sengaja’ dengan Kipkop. Sekali, Kipkop mendatangi ‘aku’ di kamarnya dan mengajaknya mengobrol sambil mencomot begitu saja sebatang rokok gudang garam dari meja kerja ‘aku’. Bagaimana Kipkop tahu tempat tinggal si ‘aku’ padahal yang disebut lebih kemudian ini tidak pernah menceritakan di mana dia tinggal, tidak disebutkan. Mereka juga bertemu di bioskop di mana Kipkop meminjam uang dari aku sebanyak 5 frank, yang tentu saja tidak dikembalikannya.

Lagi-lagi, ‘secara tak sengaja’. Mereka kembali bertemu di acara perayaan peringatan kemerdekaan RI di Konsulat Jenderal. Kali ini, Kipkop semakin menjadi. Dia makan dan minum banyak sekali, dan tidak lupa mengisi kantong plastik yang disimpan di saku dalam jasnya. Dia bercerita betapa dia suka sekali mendatangi pesta, baik pesta orang Indonesia di Jerman maupun pesta orang Jerman sendiri tanpa diundang, agar dia dapat makan dan minum sepuas-puasnya.

Keingintahuan si ‘aku’ tentang Kipkop, latar belakangnya, keluarganya, pekerjaannya, statusnya di Jerman tidak terjawab bahkan sampai akhir cerita. Kipkop menemui si ‘aku’ kapan dia mau, tetapi yang sebaliknya tidak terjadi. Si ‘aku’ bahkan tidak tahu di mana Kipkop tinggal agar dia bisa mencarinya.

Mencantolkan diri pada orang lain

Kipkop adalah representasi dari kita. Representasi, menurut definisi Stuart Hall (2005, 18-20), adalah kemampuan untuk menggambarkan atau membayangkan melalui makna dan bahasa. Tentu saja, sebagai representasi, Kipkop tidak dapat sepenuhnya sama dengan kita, karena tidak ada representasi yang bisa menangkap realitas yang direpresentasikannya dengan sepenuhnya.

Paling banter, beberapa aspek dari representasi itu memang mewakili realitas atau, dalam kasus lain, berpretensi sebagai realitas. Demikianlah, diri dan sifat Kipkop merepresentasikan diri dan sifat-sifat kita, yang dalam hal ini bertindak selaku realitas. Sebagai representasi, Kipkop menggambarkan makna yang kiranya, beberapa dari antaranya, selaras dengan realitas.

Saya sadar bahwa siapa ‘kita’ di sini pun sangat beragam dan tidak monokrom. ‘Kita’ adalah kata ganti orang kedua jamak yang inklusif, mencakup Anda dan saya. Seberapa Kipkop merepresentasikan diri saya kemungkinan besar berbeda dengani seberapa akurat Kipkop yang sama merepresentasikan diri Anda. Meskipun ada yang namanya sesuatu yang universal, tetapi kadarnya beragam antara satu orang dan orang lain.

Walaupun begitu, bagaimana pun mesti ada irisan yang sama dalam bagaimana Kipkop merepresentasikan kita semua, terlepas dari kadar atau tingkat keakuratannya. Di wilayah inilah, percakapan yang meaningful di antara kita dimungkinkan terjadi.

Salah satu irisan yang penting dan menarik untuk dilihat di sini adalah pada bagaimana Kipkop mengidentifikasi dirinya sendiri. Ketika pertama kali bertemu, untuk membuat si ‘aku’ terkesan dengannya, Kipkop menyebut nama-nama top. Itu adalah cara termudah yang bisa dipikirkannya. Dan, ‘aku’ pun sempat terkesan oleh nama-nama besar yang disebut sebagai kawan dekat Kipkop tersebut. Kipkop, dengan cara ini, menempatkan identitasnya dalam kaitannya dengan tokoh-tokoh besar. Dia tidak hadir sebagai Kipkop secara mandiri, karena kalau dia melakukannya mungkin itu tidak akan menarik minat si ‘aku’ atau kita sebagai pembaca.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pertemuan-pertemuan ‘tak sengaja’ di antara Kipkop dan ‘aku’, nama-nama top tersebut ternyata tidak bergema atau berarti lagi dan digantikan oleh kesan lain yang dibangun dan terbangun di seputar Kipkop. Kipkop ternyata adalah orang yang suka membual, berbicara besar, berpenampilan perlente, namun tidak malu untuk hadir dalam pesta-pesta, baik pesta yang diselenggarakan orang Indonesia yang tinggal di Jerman maupun dihelat oleh orang Jerman, sekadar untuk mengisi perutnya sendiri.

Identitas, dengan melihat pada contoh Kipkop, adalah sesuatu yang sangat problematis dan gampang sekali berubah, bisa jadi sesuai kebutuhan dan kepentingan orang yang melakukan identifikasi diri. Identitas Kipkop tidak mandeg dan selesai.

Memang tidak seluruh bagian dari identitas seseorang akan terus berubah sepanjang waktu, sebagaimana mungkin diyakini para penganjur dari kajian budaya yang melihat identitas sebagai sebuah arena pertarungan ideologis yang terus-menerus. Mereka melihat identitas sebagai sesuatu yang plastis dan tidak menetap. Akan tetapi, pengamatan dan penelaahan yang lebih mendalam menemukan bahwa keduanya ada dan beroperasi. Baik bagian dari identitas yang terus-menerus berubah maupun yang tak berubah ada. Tetap ada bagian-bagian dari identitas diri seseorang yang terlampau pokok dan menukik untuk dibuang.

Kipkop, sekali sebagai salah satu representasi dari kita, pun begitu. Identitasnya berubah dan berkembang seiring waktu dan, terutama, selaras dengan kepentingannya. Tetapi, ada pula yang tak berubah, dan itu menyangkut urusan perut dan kebutuhan dasarnya. Apakah ini pertanda determinasi kebutuhan-kebutuhan subsisten? Barangkali. Identitas tidak bisa menyentuh urusan-urusan semacam itu.

*Dono Sunardi adalah dosen di Sastra Inggris Universitas Ma Chung, penerjemah buku, dan pembaca yang giat.

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini