Sepenggal Cerita dari Mimbar Pesantren

Ilustrasi (Sumber: https://www.sumber.com)

Oleh: Fathan Zainur R.*

Terakota.id– Dulu waktu di pondok pesantren Darul Huda, atau dikenal juga dengan Pondok Mayak, Ponorogo, mendengarkan dawuh Yai Sami’ itu ibarat anak kecil mendapatkan mainan baru. Senangnya minta ampun. Kyai Abdus Sami’ bagi saya memiliki cara bertutur kata yang khas. Cara bertutur kata beliau teramat lembut dan bahasa Jawanya juga halus. Kadang melebihi santrinya. Hal seperti ini tak jarang membuat banyak santri yang pakewuh.

Tidak sembarang waktu bisa menyimak mutiara-mutiara kalam yang terlontar dari lisan beliau. Kalau mau dengar dawuh beliau, biasanya di saat –saat tertentu. Misalnya, setelah beliau menjadi Imam shalat Magrib. Selain itu juga waktu momen-momen kegiatan besar dan kebetulan beliau bagian mau’idhoh hasanah.

Dalam satu kesempatan, beliau bercerita saat-saat mondok di pesantren Kwagean Kediri asuhan Kyai Hannan Maksum. Kurang lebih Begini ceritanya;

Ketika itu malam telah larut. Kegiatan-kegiatan pesantren telah usai. Kantin-kantin yang biasa melayani santri juga sudah tutup. Kebanyakan santri sudah beristirahat di kamar masing-masing.

“Kang tolong sampean bukakne,” pinta sebuah suara mengiba.

Dengan cuek santri penjaga kantin menjawab, “Wiz jam tutup kang, sesok e.” Karena memang waktu malam kantin harus tutup.

Suara tadi terus mengiba, “Kang nuwun tolong kedap mawon, bade tumbas obat”.

Merasa orang tadi ngeyel, Kang kantin tersulut emosinya. “Jancok’i kandani sesok kok angelmen to”. Bentakannya cukup keras, lengkap dengan kefasihan “jancok” khas Jawa Timur.

Suara tadi bergeming. Seakan ia kebal dengan kemarahan dan umpatan. Ia terus mengetuk pintu. Tak peduli akan ada resiko lebih buruk yang bakal ia terima.

Nuwun tolong kang kulo boten betah niki,” rengeknya.

Karena gregetan, tidak kuat menahan emosi, Kang kantin akhirnya membuka pintu. Dengan kasar ia menarik gagang pintu dan keluar. Ia siap menyongsong orang yang malam itu mengganggu waktu istirahatnya.

Sesosok tubuh berdiri mantap. Ia tak goyah ataupun limbung dengan kemunculan penjaga kantin yang memendam marah dan siap dimuntahkan.

Yang terjadi sebaliknya. Penjaga kantin itu tiba-tiba kehilangan daya. Ia seperti terkena pukulan jarak jauh yang merontokkan segala kesaktian dan melayukan sendi-sendinya.

Ngapurane ya kang, nganggu jam istirahat, bade tumbas obat mules, madarane mboten skeco,” suara itu tetap lembut dan lirih, tak terseret gelombang emosi dari penjaga kantin.

Betapa kikuknya Kang Kantin, wajahnya merah kehitam-hitaman antara malu dan takut. Yang dibentaknya malam itu, tak lain adalah orang yang paling dihormati seantero Pondok Kwagean. Sosok tua kharismatik itu telah berdiri di hadapannya, memaki baju koko putih dan kopyah putih. Yaa, beliau adalah Kyai Abdul Hannan Maksum.

Njeh kyai sekedap,” Kang Kantin dengan cekatan mengambil obat.

Setelah memberikan uang , Kyai Hannan pamit pulang. Sedikitpun beliau tidak mengungkit-ungkit perlakuan santrinya itu sebelumnya.

Sejak saat itu Kang Kantin hari-harinya diliputi rasa bersalah. Ia diliputi rasa bimbang. Ingin sowan sowan tapi malu. Ingin minta maaf tapi takut dimarahi. Setelah lama menimbang, akhirnya ia putuskan memberanikan diri untuk sowan ke ndalem Kyai Hannan.

Sampai di pelataran ndalem, tak disangka Kyai Hannan telah duduk bersila di depan ndalem. Sosok yang pernah ia bentak tempo hari tersenyum manis. Seakan senyum itu mengarah padanya. Kang Kantin pun dibuat gugup tak karuan.

Setelah sungkem, Kyai Hannan mempersilahkan kang santri masuk.

Monggo kang pinarak,” sambut kyai Hannan.

Kang kantin pun menyampaikan tujuannya sowan. Ia minta maaf atas kelancangannya berkata kasar pada Kyai Hannan malam itu.

“ngapunten engkang katah kyai, kolo wingi dalem sampun matur kasar dumateng panjenengan,” pinta Kang Kantin dengan wajah memelas, berharap penuh cemas.

Kyai Hannan menjawab dengan enteng,“Owalah niku, geh kang ampun dibaleni”.

Mendengar jawaban Kyai, Kang Kantin lega. Akhirnya unek-uneknya tersampaikan tanpa dimarahi Kyai Hannan.

Dalam tradisi pesantren ta’dzim kepada Kyai merupakan harga yang tidak bisa ditawar. Saking ta’dzimnya, kadang santri mencoba menirukan tindak-tanduk sang Kyai. Mungkin dalam hal keramahan dan ahlakul karimah ini Yai Abdus Sami’ tafa’ulan pada Kyai Hannan Kwagean. Wallahu’alam.

Penulis (Sumber: http://fathanzr.blogspot.com/)

* Alumni Darul Huda Mayak Ponorogo dan Santri Front Nahdliyin Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) Semarang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini