Sensasi Tahun Baru Imlek di Bekas Loji Freemason

Repro foto lawas bangunan markas Freemason. Tampak bangunan depan terpampang logo Freemason. Kini gedung beralih fungsi menjadi hotel. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.idThe Shalimar Boutique Hotel Jalan Cerme Nomor 16, Oro-Oro Dowo, Klojen, Kota Malang menjadi salah satu bangunan cagar budaya. Gedung dibangun arsitek Ir. Muller pada 1933. Bangunan bergaya arsitektur Niuwe Bowen yang merupakan arsitektur modern Belanda waktu itu. Namun, bangunan beradabtasi dengan kondisi iklim tropis.

Karakteristik arsitektur Nieuwe Bouwen meliputi transparansi, ruang, cahaya dan udara. Konstruksi menggunakan bahan modern, dan bangunan simetris. “Sirkulasi udara bagus, jadi ruangan selalu terasa adem,” kata Manager Affair The Shalimar Hotel Boutiqe Agoes Basoeki.

Bangunan didirikan oleh komunitas masyarakat Freemason, sebagai loge atau loji untuk pengajaran anggota Freemason.  Loji menjadi sekolah bagi menggembleng anggotanya. Mereka menggunakannya sebagai pusat aktivitas komunitas Freemason.

Bukti bangunan itu merupakan markas komunitas Freemason ditunjukkan sebuah foto lawas. Foto gedung masa lalu yang dipajang di dinding lobi hotel. Di bagian tengah di dinding bangunan utama depan terpasang logo Freemason. Logo dengan huruf G diapit sebuah jangka dan mistar berbentuk V.

“Ini foto repro, bentuk bangunan utama tak berubah,” katanya. Bangunan yang kini menjadi The Shalimar Boutique Hotel ini menjadi tetenger jejak Freemason di Malang. Dalam buku berjudul Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1964 karya Dr Th. Stevens terjemahan terbitan Pustaka Sinar Harapan 2004 menjelaskan awalnya beranggotakan orang Belanda.

Manager Affair The Shalimar Hotel Boutiqe Agoes Basoeki menunjukkan foto gedung lawas markas Freemason. (Terakota/Eko Widianto).

Kemudian tokoh ningrat pribumi berpendidikan tinggi ikut bergabung. Mason Bebas menjadi organisasi pembawa dan penyebar pemikiran pencerahan humaniter. Kelompok persaudaraan kemasonan masuk ke Hindia Belanda bersamaan eksodus pegawai serdadu Vereenigde Oost-Indische Compagnie dari Eropa ke Nusantara. Komunitas Freemason di Malang terbentuk 1901.

Tercatat, bangunan loji dibangun mulai di kota dagang besar kawasan pesisir meliputi Batavia, Semarang, Surabaya dan Padang. Lantas setiap ada komunitas persaudaraan kemasonan didirikan loji. Sepanjang 1767-1948, setidaknya 27 loji berdiri di Hindia Belanda. Termasuk di Malang dikenal dengan loge nummer 89.

Menjelang akhir sejarahnya menjadi sebuah tarekat Indonesia. Pergerakan ini lantas dibubarkan Presiden Sukarno pada 1964. Dituangkan dalam Peraturan Penguasa Perang Tertinggi Nomor 7 Tahun 1961 dan Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 dikeluarkan Presiden Sukarno. Seluruh aktivitas Freemason dihentikan.

Alasannya, tujuan lembaga tak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Kabar melekat terhadap tarekat Kemasonan di Indonesia sebagai pemuja setan. Meskipun Presiden Abdurrahman Wahid mencabut pelarangan melalui Keppres Nomor 69 Tahun 2000, kemasonan tak pernah lahir kembali di Indonesia.

Bangunan sempat berubah fungsi menjadi Societeit bagi komunitas Belanda untuk bertemu, makan dan berdansa. “Di sini dulu orang Belanda pesta dan dansa-dansa. Kita sedang menggali sejarah bangunan ini bekerjasama dengan komunitas sejarah,” kata Agoes.

Pertahankan Arsitektur Kolonial

Pada 1964 bangunan beralih menjadi gedung stasiun RRI Malang. Selanjutnya PT Cakra Nur Lestari melakukan tukar guling gedung RRI pada 1993. Gedung berstatus Hak Guna Usaha (HGU) seluas 3.800 meter persegi. Lantas gedung difungsikan sebagai hotel Malang Inn pada 14 Desember 1994. Pada 1995 berganti nama menjadi Graha Cakra dan 2015 bersalin nama menjadi The Shalimar Boutique Hotel.

Bangunan utama gedung tak pernah berubah. Perubahan dilakukan di sejumlah bangian dalam tanpa mengubah bentuk asli. Arsitektur yang mendesain bangunan tambahan di bagian samping dengan gaya yang selaras dengan bangunan utama. Bangunan berlantai tiga ini juga ditambah ornamen tanpa mengabaikan unsur bangunan cagar budaya.

Saat renovasi, pekerja bangunan mengalami berbagai kendala. Lantaran bangunan menggunakan bahan bangunan yang berkualitas. Dinding bangunan tebal termasuk pondasi menggunakan batu kali dan ditanam dalam. “Konstruksi bangunan sangat kuat,” katanya.

Dinding asli dan atap tetap seperti bangunan asli. Lantai dua kayu telah diubah dengan beton cor. Dilakukan perluasan, menambah untuk kamar dan fasilitas pendukung hotel. Total sebanyak 44 kamar disediakan bagi para tamu hotel. “Asli, hanya dekoratif. Struktur bangunan tak pernah berubah,” ujarnya.

Tipe tertinggi Presidential Suite yang dilengkapi ruang tamu. Serta dua kamar tidur. Juga dilengkapi balkon. Dari balkon tamu hotel bisa melihat pemandangan Taman Cerme yang terletak tepat berada di depan hotel. Kamar ini semalam dibanderol seharga Rp 10 juta.

Kamar tipe Presidential Suite seharga Rp 10 juta per malam. (Terakota/Eko Widianto).

“Menteri, pimpinan perbankan, dan TNI pernah menginap di kamar ini,” kata Sales and Marketing The Shalimar Boutique Hotel, Akbar Galih. Sedangkan tipe Royal bertarif Rp 5,5 juta, Eksekutif Rp 2,7 juta, Superior Deluxe 2,5 juta dan Superior Rp 1,8 juta. Ada akulturasi budaya dalam ornament hotel, memadukan budaya Belanda, Jawa dan Cina.

Para tamu juga dimanja dengan aneka koleksi buku di Blibliotheek Library. Sebuah ruangan perpustakaan yang menyediakan koleksi buku sejarah, arsitektur dan fashion. Tamu bisa leluasa membaca buku sembari duduk di kursi dan meja yang nyaman. “Buku koleksi owner,” ujarnya.

Ruang perpustakaan ditata menarik, buku disimpan dalam lemari klasik. Berbagai foto Malang tempo doeloe dipajang di dinding perpustakaan. Tak ketilanggalan, tamu hotel juga bisa berbelanja kain batik, tenun dan cindera mata menarik. Semua tersedia di Soga Boutique.

Hadirkan Suasana dan Kuliner Cina

Setiap sudut bangunan The Shalimar Boutique Hotel dilengkapi ornamen khas Cina. Lampion berwarna merah menyala terpasang di sejumlah bangunan utama hotel. Lampion dan pohon angpao berwarna merah juga terpajang di restoran hotel.

Instrumentalia dan lagu khas negeri bambu juga terus mengalun tanpa henti. Para pegawai yang melayani tamu, juga mengenakan pakaian cheongsam berwarna merah khas Cina. Khusus dikenakan menyambut tahun baru Imlek. Atmosfir khas Cina terpancar, tak ketinggalan harum dupa juga menguar di setiap sudut lobi hotel.

Untuk menyambut para tamu seacra spesial, disajikan makanan khas etnis Cina. Setiap tamu hotel bakal disambut aneka dimsum yang menggungah selera di restoran.Ada tujuh jenis dimsum kukus dan 7 dimsum goreng. Semua tersaji di restoran De Hemel.

Dimsum kukus terdiri dari siomay, bakpau kacang, bakpau ayam, sit kau, udang api li, ikatan sayur dan kaki Ayam. Juga dimsum goreng yakni gigi naga, cakue udang, udang tofu, bitan kwotie, udang tanduk, wuko dan pangsit goreng.

“Khusus disajikan istimewa bagi para tamu,” kata Food and Beverage Supervisor The Shalimar Boutique Hotel, Juwita Putri. Tamu juga bisa mencicipi masakan lontong cap gomeh yang biasa tersaji saat tahun baru Imlek.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini