Seni Musik di Relief Candi dan Upaya Transformasi

Identifikasi Waditra Berdawai Relief Mahakarmawibhangga

Sebagai candi demikian besar bahkan kolosal, yang di sepanjang dindingnya – mulai dari teras ke-1 hingga teras ke-6 – memuat 1460 buah panil mengenai lima kisah keagamaan berlatarkan Mahayana Buddhisme. Kisah-kisah dalam relief cerita itu berhasil diidentifikasikan oleh: (1) pada tahun 1885 warga Rusia, S.F. Oldenburg, berhasil mengidentifikasikan relief dinding luar galeri pertama sebagai kisah tentang kompilasi kelahiran ulang Buddha, yaitu Jatakamala; (2) pada tahun 1901cendekiawan Belanda, C.M. Pleyte, mengidentifikasi rangkaian relief sebelah atas pada dinding galeri pertama sebagai kisah riwayat Buddha dalam naskah Lalitawistara, (3) pada tahun 1917 N. J. Krom mengidentifikasi rangkaian relief pada galeri kedua dan ketiga sebagai kisah Gandawyuha; (4) pada tahun 1931 cendekiawan Perancis, S. Levi, mengidentifi-kasi relief tersembunyi di balik kaki Borobudur sebagai Mahakarmawibhangga, kemudian (5) pada tahun 1938 F.D.K. Bosch menemukan bahwa rangkaian relief di dinding utama galeri keempat didasari lanjutan Gandawyuha, yang disebut Bhadracari. Bersama dengan relief-relief cerita di Candi Prambanan – yang sama kaya dengannya, relief pada kedua candi kolosil tidak berlebihan untuk dinyatakan sebagai ‘ensiklopedi visual’ mengenai banyak hal untuk masanya (abad X Masehi). .

Salah satu hal yang divisualkan dalam bentuk relief di Candi Borobudur tersebut adalah seni pertunjukan masa lalu, termasuk di dalamnya seni-musik. Sejumlah pengkaji musik, atau lebih luas lagi peneliti seni pertujukan masa Hindu-Buddha, seperti Jaap Kunst, Edi Sedyawati, Peter  Fedinandus, Timbul Haryono, M. Dwi Cahyono, dsb. pernah menelaah tentangnya.

Kendati demikian, bukan berarti bahwa semua hal mengenai musik masa lalu itu beserta tranformasinya untuk masa sekarang telah habis tuntas tertelaah. Sejuah ini, buku yang secara khusus membi-carakan tentang khasanah musik di relief Candi Borobudur atau semacam ‘Musical Sound of Borobudur’ belum pernah diterbitkan, yang padahal buku demikian merupakan referensi yang penting. Bukan saja bagi sejarawan dan arkeolog, namun juga bagi para musisi dan pelaku seni pertunjukan pada masa sekarang.

Berangkat dari cara pandang demikian, berikut hanya ditelaah mengenai dua panil relief pada kisah “Mahakarmawibhangga’ pada teras pertama Candi Borobudur. Relief  Karmawibhangga pada dasarnya berisi naskah Mahakarmawibhangga, yakni hukum sebab akibat. Menurut hu-kum sebab-akibat bahwa suatu perbuatan akan mendapat karma (balasan). Perbuatan yang baik (subakarma) menghasilkan kebaikan, dan perbuatan jahat (asubhakarma) mendapat balasan yang tidak baik. Namun, terlepas dari ‘hukum sebab-akibat’, relief ini melukiskan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat pendukungnya, yang dalam hal ini masyarakat Jawa Kuno pada abad IX-X Masehi.

Ada sepuluh panil pada relief cerit Karmawibhangga yang memuat gambaran tentang berbagai instrumen musik (waditra), yaitu panil relief nomor 1, 39, 47, 48, 52, 53, 72, 101, 102, dan 117. Berdasarkan ketegori umum instrumen musik, yang terdiri atas empat jenis (idiophone, membraphone chordophone, dan aerophone), semua jenis ini hadir di relief Karmawibhangga. Pada dua panil tertelaah itu, divisualkan para musisi yang tengah memainkan waditra berdawai (chrodophone). Untuk memudahakan identifikasi, kedua panil itu disebut dengan ‘panil A’ dan ‘panil B’.

Panil A menggambarkan dua musisi pria memainkan waditra berdawai. Seorang dalam posisi berdiri sambil memainkan waditra berdawai dengan resonator berbentuk gemuk (oval melan-cip ke atas), leher (neck, stang pengetur nada) lurus panjang, namun sayang tidak jelas jumlah tuning peg-nya. Seorang musisi lain dalam posisi duduk memainkan waditra berdawai dengan resonator berbentik gemuk (oval melancip ke atas), neck bagian atas serong ke kanan dan ujung atasnya berbentuk gelung, tuning peg-nya berjumlah empat.

Selain itu ada kemungkinan musisi yang ketiga, yaitu seorang wanita yang kelohatan tengah memukul simbal berdiameter lebar. Ketiga musisi mengenakan kain panjang bawahan (dodot), bertelanjang dada, dengan rambut bersusun dua. Aksesoris berupa kalung (hara), kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana), jamang dan sumping. Penyajian musik ini dimaksudkan untuk memberikan suasana musikal dalam suatu audensi, sehingga musik yang disajikan mustinya bernuansa lembut. Tergambar seorang bangsawan berdiri mengenakan kain panjang sebatas mata kaki, bertelanjang dada, dan bermahkota ramabut yang disanggul tinggi bersusun dua (jathamakuta), Aksesori berupa hara, keyura, kankana, binggel, jamang dan sumping, Ia menghadap ke bangsawan lain yang dalam posisi duduk pada suatu pedestal tinggi dengan seorang wanita duduk di belakangnya. Bangsawan yang disebut terakhir juga ber-jathamakuta, beraksesoris keyura, hara, kankana, jamang dan sumping.

Lingkungan penjajian adalah suatu tempat terbuka, padamana terdapat seseorang membawa payung dan sesorang lain di sampingnya, serta dua orang berada dalam posisi duduk. Menilik adanya pedestal tinggi, penggunaan payung maupun busana-aksesoris yang dikenalan okeh para tokoh peran, tergambar bahwa lingkungan penyajian musik adalah di kalangan bangsawan.

Panil B menggambarkan seorang musisi pria dalam posisi duduk bersila memainkan waditra berdawai. Resonator berbentuk langsing, yang mengarah pada bentuk persegi empat panjang, neck pendek, dan jumlah tuning peg dua buah. Kepala musisi hanya berambut pendek tanpa dianggul, berkain panjang bawahan dan tidak mengenakan aksesori.  Lingkungan penyajiannya adalah di bawah pohon yang rindang, di lingkungan permukiman luar keraton. Tergambar dua orang perempuan dari lingkungan bangsawan, dan pada sisi lainnya menggambarkan beberapa orang yang tengah terlibat dalam pemberian derma di depan suatu rumah tinggal. Areal yang digambarkan adalah lingkungan di luar keraton, di permukiman rakyat jelata.,

Menilik bentuk maupun cara memainkannya, dapat dikategorikan sebagai ‘waditra berdawai (chrodophone)’, yakni suatu jenis instrumen musik yang terdiri atas atu atau lebih dawai dan resonator, yang sumber bunyinya berasal dari dawai yang dipetik, digesek atau meski jarang ada pula yang dipukul dengan tongkat kayu. Waditra berdawai yang diganbarkan pada relief ini masuk dalam kategori waditra berdawai terpadu, yang mempunyai jumlah dawai sebuah atau lebih, dengan letak resonator menjadi satu dengan tempat dawainya.

Waditra berdawai terpadu terdiri atas berragam bentuk lute dan harpa. Lute adalah waditra dengan dawai satu atau lebih, dengan resonator sejajar dan menjadi satu dengan dawainya. Jenis ini dilengkapi dengan leher yang lurus, bengkok atau mematah pada tempat puteran setelan dawai (tuning peg). Bentuk resonatornya ada yang langsing, ada pula yang berbentuk pendek-gemuk. Ada yang dilengkapi dengan fret, namun ada pula yang tidak. Cara memakai dengan atau tanpa alat penyentil dawai (pectrum). Musik yang dihasilkannya bersifat melodis.

Pada relief ini ditampilkan tiga ragam bentuk wadtra berdawai menurut bentuk resonatornya, yaitu, (1) resonator gemuk, dan (2) resonator langsing. Pada resonator gemuk, terlihat bentuk yang oval melancip ke arah atas. Ada dua varian dari waditra dengan rosonator berbetuk gemuk ini ditilik dari bentuk neck-nya, yaitu (1a) neck lurus panjang, namun jumlah tuning peg kurang jelas – Jaap Kunst mengidentikasikan sebagai bar-zither dengan tuning peg yang jelas, namun tidak disebut berapa jumlah dawainya, (1b) neck membengkok ke arah kanan di bagian atas, dengan tuning peg berjumlah empat. Waditra dengan resonator langsing mengarah pada bentuk relatif persegi panjang, neck lurus panjang, dan tuning peg berjumlah dua. Pada ketiga wadtra berdawai itu tidak tergambar jelas apakah dilengkapai dengan fret ataukah tidak.

Mencermati resonatornya yang oval melancip ke atas, waditra jenis ini bisa diidentifikasi sebagai apa yang dalam Bahasa Jawa Kuna disebut ‘ma[n]deli’ atau varian sebutannya ‘medeli, mendeli atau madeli. Istilah-istilah itu dalam susastra Jawa Kuna dan tengahan dijumpai pada kidung Malat (versi A, IX.52a), Tantri Kamandaka (17) dan Smarawedana (14.15a). Menurut musikolog India bernama K.V. Ramachandran, yang pendapatnya diacu Jaap Kunst (1968), mandeli lebih mengarah pada ‘mandali’, yaitu waditra petik yang berjenis wina. Berarti, dapat dimasukkan ke dalam kelompok bar-zither yang mengalami perkembangan.

Salah satu varian waditra dengan resonator gemuk itu, memperlihatkan neck bengkok ke arah kanan, yang ujung atasnya berbentuk gelung. Hal ini mengingatkan kita pada apa yang dalam sumber data tekstual disebut ‘“rawanahasta” – secara harafiah berarti : tangan (hasta) Ravana. Dinamai demikian lantaran lehernya dilengkapi dengan ‘motif gelung (scroll)’ yang berbentuk tangan (Sach, II, 1923:112). Istilah “wina-rawanahasta” dijumpai dalam susastra Wirataparwa (52), Uttarakanda (52), Agastyaparwa (371) mauun prasasti Paradah II (B.46), sebagai widitra pengiring tari dalam acara kesenian tatkala berlangsung acara manusuk sima. Variasi sebutan lain adalah “wina-rawana”, sebagaimana tertera dalam kakawin Arjunawiwaha (XXXI.1).

Besar kemungkinan, widitra ini pernah terdapat di Jawa jauh sebelum tahun 907 Masehi (TBG 67). Terbukti, Prasasti Taji (B.6) yang bertarikh Sanjaya 694 (910 Masehi) menyebut tentang permainan rawana-hasta. Serupa itu, prasasti Ayam Teas (OJO CVIII) memberitakan tentang permainan rawana-hasta oleh si Mandal. Bahkan, prasasti Taji (B.22) menyebut pekriya-nya, yang dinamai “panday arawanasta”. Baik mandeli (mandali) maupun wina-rawana merupa-kan pengaruh waditra India, sebagai konsekuensi pengaruh dominan budaya India di Nusantara antara abad IV-X Masehi.

Untuk waditra berdawai dengan resonator langsing, yang bentuknya reatif persegi panjang dan sedikit menggembung ke sisi samping kanan-kiri pada bagian tengah, belum diperoleh bentuk pembandingnya di India, Asia Timur maupun negara-negara lain di Asia Tenggara. Alih-alih justru memperlihatkan persamaan dengan sampe atau sape, yaitu alat musik tradisional Suku Dayak, yang dimainkan dengan cara dipetik. Suku Dayak di Kalimantan Timur menyebutnya ‘sampe; yang dalam bahasa lokal dapat diartikan “memetik dengan jari’.

Dari artinya diketahui dengan jelas bahwa waditra ini dimainkan dengan cara dipetik. Penamaan alat musik Melayu Dayak ini ternyata berbeda-beda di tiap sub etnis suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur., Nama ‘sampe’ digunakan oleh suku Dayak Kenyah. Adapun 0Suku Dayak Bahau dan Kanyaan menyebutnya dengan ‘sape’. Suku Dayak Modang mengenal alat musik ini juga sebagai sempe, sedangkan orang Dayak Tunjung dan Banua menamai dengan ‘kecapai’. Dahulu dawai sampe menggunakan tali dari serat pohon enau, namun kini sudah memakai kawat kecil. Acapkali di bagian kepala sampe (ujung gagang) dipasang hiasan ukiran menggambarkan taring-taring dan kepala burung enggang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini