Seni Membahagiakan Diri Sendiri

Ilustrasi : Jackson Gibbs

Terakota.idSetiap orang memiliki ragam cara membahagiakan diri sendiri. Ada orang serupa petapa menanti jatuhnya isyarat langit, rela duduk anteng sampai larut malam di atas jembatan, menunggu kail pancingnya disambar moncong ikan di kedalaman sungai. Dan hatinya akan melompat bahagia jika ada ikan tersangkut, sekalipun itu sebesar jari kelingking anak usia lima tahun.

Banyak pula orang memperoleh kebahagiaan dengan memandangi ikan cupang berjam-jam, seolah-olah ikan cupang itu sedang menceritakan gosip menarik baginya. Teman saya membahagiakan dirinya dengan membeli mobil mini mainan sebanyak mungkin, menjajarnya di atas meja bersanding dengan lintingan tembakau dan kopi, dan sesekali menggerak-gerakkannya seperti konvoi mobil saling berkejaran di jalan tol. Kalian tahu berapa usianya? Ia hampir 30 tahun, dan berprofesi sebagai seorang guru.

Tapi tak apa. Itulah seni membahagiakan diri. Apa pun caranya, terserah. Sepanjang cara-cara membahagiakan diri sendiri itu tidak merugikan dan membahayakan keselamatan orang lain, ia pantas dijalani. Meskipun kadang kala terasa tak masuk akal.

Saya pun punya banyak cara untuk merengkuh kebahagian. Di antara sering saya lakukan adalah, menyeduh kopi, membawanya ke tempat nyaman— biasanya di kolam mungil dekat kamar— lalu mengambil buku dan membacanya (seringkali cukup saya bolak balik halamannya dan menikmati aromanya). Jikapun tidak membaca buku, saya akan berselancar di dunia maya, memburu tulisan atau cerita-cerita menarik dari para penulis yang sadar betul bahwa waktu para pembaca itu mahal.

Beberapa hari lalu, sambil menatap gerimis Desember jatuh di atas kolam, saya mengulang kebahagian itu. Buku tipis Juan Pablo Villalobos berjudul “Pesta di Sarang Kelinci” menyempurnakan kenikmatan secangkir kopi dan sebungkus kretek yang dilingkupi hawa hujan. Itu kali kedua saya membaca buku ini. Buku yang bagus memang membuat kita ketagihan untuk menengoknya ulang.

Dan beberapa detik kemudian, saya yang saat itu tengah berada di dekat kecipak ikan-ikan, seakan telah berada di Meksiko dan menjadi seorang bocah jenius berada di antara para mafia. Sebagai seorang bocah tanpa mama, aku merasa kesepian dan bosan dengan kehidupan sangat terbatas. Aku seperti hidup di dalam sangkar: dikelilingi jeruji sekaligus penuh tatapan penjagaan.

Aku tak punya teman sebaya yang bisa kuajak main tinju-tinjuan, playstation,  atau mobil-mobilan. Aku memang mempunyai teman, itu pun jika layak disebut teman. Mereka sebenarnya adalah orang-orang dewasa yang bekerja untuk papa, jumlahnya tak lebih 14 orang. Dan kami menyebut diri kami adalah geng terbaik dan pemberani. Bahkan, sebagai latihan menjadi pemberani, aku harus menyaksikan seseorang berlumuran darah disiksa di depan mataku, dan mungkin berakhir sebagai mayat.

Sejujurnya, aku tak pernah kekurangan apapun secara materi. Aku mempunyai koleksi topi terbaik dari seluruh dunia, punya PS termutakhir, dan makan apapun kusuka. Tapi itu tadi, aku tak punya teman. Dan aku tak punya dada seorang ibu untuk menyembunyikan kesedihan.

Namun, aku belajar banyak hal dari para geng di rumahku. Bahwa seorang realis haruslah realistis. Bahwa seorang penakut adalah banci. Bahwa orang-orang berpendidikan tahu banyak hal soal buku tapi tidak tahu sama sekali soal kehidupan. Bahwa geng adalah soal solidaritas, kepercayaan, dan kesetiaan. Bahwa para politikus adalah mereka yang membuat kesepakatan rumit. Bahwa sebagian hasil bisnis para geng digunakan untuk memodali para bajingan, Pak Gubernur yang makan malam di rumahku, misalnya. Dan tentu saja, aku juga belajar membisu untuk menjernihkan pikiran.

Begitulah. Sebagai pembaca, kita bisa mengalami seribu kehidupan, bergantung apa yang kita baca— merasakan kehidupan seperti bocah jenius, anak seorang Mafia Narkoba, misalnya.

Penulis-penulis bagus memang cerdas membangun cerita, dan menyedot pembaca tenggelam dalam pusarannya. Mereka melahirkan tokoh-tokoh yang membuat perasaan kita hanyut kepada mereka; perasaan marah, kecewa, bahagia, benci, cinta, dan sebagainya. Bahkan tak jarang perasaan itu campur aduk sekaligus, antara kekaguman dan kengerian, cinta dan kecewa, hormat dan simpati, dan sebagainya. Kalimat-kalimat yang mereka tulis juga begitu nikmat dilahap. Entah itu diksinya, metaforanya, maupun retorika yang mereka gunakan.

Sebagaimana masakan yang tak kekurangan maupun kelebihan bumbu, semua terasa pas dicerna.

Sayangnya, tidak semua buku koleksi saya cocok untuk menemani secangkir kopi yang nikmat. Sebagai pembaca, seringkali saya dikecewakan dengan buku yang saya baca. Sangat kecewa. Dan jengkel. Dan timbul keinginan untuk meloakkannya saja.

Karena bagaimanapun, buku itu saya beli dengan uang yang saya sisihkan dari pendapatan setiap bulan, bukan dari daun singkong, daun bayam, atau daun kelor yang saya robek di kebun belakang rumah. Bagi seorang pemilik kedai kopi mungil di Kota Madiun, uang lima puluh ribu untuk sebuah buku yang buruk, sama artinya dengan membuang uang hasil menunggu berjam-jam datangnya 15 orang pengunjung, mubadzir itu namanya.

Ilustrasi : friendlystock.com

Maka dari itu, wahai penulis, penerbit, dan penjual buku, hargailah kami para pembaca yang membeli buku kepada kalian. Sebagai pembaca— seperti halnya komentar terhadap rasa rendang di Nasi Padang, meskipun tak bisa memasaknya sendiri— saya berhak berkomentar terhadap buku yang saya beli dan baca.

Mula-mula, saya melahap cerita apapun dan menganggapnya perfecto. Belakangan, setelah saya mengikuti kelas penulisan, menghadiri workshop menulis, mengikuti perbincangan sastra, menyimak diskusi karya, dan merekam bedah buku, hal itu tak terulang lagi. Dari pembaca lugu, saya beranjak naik level ke pembaca selektif dan banyak mau. Menjadi pembaca yang baik: mampu menyelami tekstur tulisan; mengerti ketaklogisan tulisan; mengenali perangkat-perangkat literer; dan parameter tulisan baik lainnya,  ternyata juga butuh proses.

Percayalah, bagi penikmat, pembaca, maupun penulis sastra, perbincangan sastra itu sama halnya dengan makanan sehat bagi tubuh. Ia kebutuhan primer. Jorge Luis Borges, dalam esainya berjudul “Siapa Memerlukan Para Penyair?” mengatakan:

“Saya tahu bahwa saya membutuhkan banyak hal karena berada dalam suatu atmosfer sastra —ayah saya adalah seorang yang terlibat aktif dalam kliesusastraan. Namun itu saja belum cukup. Saya membutuhkan sesuatu yang lebih, yang akhirnya saya temukan dalam persahabatan dan perbincangan sastra. Apa yang akan diberikan oleh suatu perguruan tinggi besar kepada seorang penulis muda adalah: perbincangan, diskusi, seni-pengakuan, dan mungkin yang paling penting, seni penolakan.

Meski saya belum berhasil menjadi penulis, setidaknya saya berupaya menjadi pembaca yang baik. Dan bagi kesehatan dunia sastra, pembaca yang baik sama pentingnya dengan menjadi penulis yang baik. Para maestro seperti Haruki Murakami atau Gabriel Garcia Marquez, mustahil mereka adalah pembaca yang buruk. Mereka sebelum jadi penulis bagus, telah melewati fase menjadi pembaca rakus sekaligus jeli.

Dalam autobiografinya “Living to Tell the Tale” Gabriel Garcia Marquez mengaku tersihir dengan karya Franz Kafka, Metamorfosis. Ia menganggap pembuka cerita yang ditulis Kafka itu adalah pembuka cerita terbaik dalam literatur sastra dunia. Begini bunyinya: “Saat Gregor Samsa terbangun pada sebuah pagi dari mimpi yang merisaukan, ia mendapati dirinya berubah menjadi serangga raksasa di atas ranjangnya.”

Dan setelah mendapatkan ilham dari Kafka itu, besoknya Marquez telah tenggelam di surga yang asing— di depan mesin tik, menggarap cerita yang mirip Metamorfosis dan membolos kuliah karena takut kehilangan gairah. Di hadapan pembaca yang baik, Marquez, kalimat pembuka Kafka diapresiasi dan menemukan ledakannya.

Sebalikinya, pembaca buruk akan berpengaruh pada keberlanjutan semesta karya yang bakal tercipta. Mereka akan memberikan nilai terlalu tinggi, puja puji, dan komentar bombastis untuk sebuah karya biasa. Jika itu berlangsung cukup lama dan masif, maka akan memundurkan kualitas karya ke depan. Itu pasti.

Karena penulis-penulis pengidap megalomaniak, star syndrome, dan halusinasi, akan hidup dan bertunas dalam gelembung fatamorgana penilaian. Gelembung yang melambungkan mereka seolah telah mencapai level optimal dalam berkarya. Padahal belum. Dan itu akan celaka.

Mereka bakal memenuhi sampul-sampul buku, majalah, dan media sosial dengan wajah mereka beserta komentar-komentar pretensius tak berakar: sastrawan go internasional, penyair multitalenta, novelis penggugah jiwa, dan sebutan-sebutan serupa. Padahal, jika kita mau sedikit saja menaikkan level pembacaan kita, karya mereka jauh dari kata bagus. Bahasa halusnya: jelek saja belum!

Mereka butuh meresapi jawaban Haruki Murakami ketika diwawancara tentang gaya menulisnya. Murakami berkata, “Saat menjelaskan sesuatu kepada pembaca, saya harus pelan-pelan dan menggunakan kata-kata yang tidak sulit dicerna, metafora yang masuk akal, alegori yang baik. Itu pekerjaan saya. Saya harus menyampaikan cerita dengan hati-hati dan bahasa yang jelas.” Saya mengagumi Murakami, karena tulisannya sangat menghargai pembaca dan penikmat sastra seperti saya. Entah dengan Anda.

Beginilah cara saya membahagiakan diri sendiri— selain menikmati kopi dan buku di sisi kolam, sesekali saya melantur dalam tulisan. Tabik.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini