Semangat Beribadah Saja Tidak Cukup di Masa Pandemi

semangat-beribadah-saja-tidak-cukup-di-masa-pandemi

Terakota.id–Ada sebuah kisah menarik.  Pada suatu saat Rasulullah mau memasuki masjid dengan agak terkejut karena ada iblis di samping pintu masjid. Di dalam masjid itu ada dua orang. Yang satu sedang melaksanakan sholat, sedangkan seorang lainnya sedang tertidur. Iblis gusar antara masuk masjid atau tidak.

Rasulullah SAW pun bertanya pada iblis, “Wahai iblis apa yang kamu lalukan di sini?” Ibllis menjawab, “Aku hendak masuk  masjid dan ingin merusak shalatnya orang itu. Tetapi aku takut dengan orang yang sedang tidur”

Rasulullah tentu heran lantas bertanya lebih lanjut, “Mengapa engkau lebih takut pada orang yang sedang tidur tetapi tidak takut pada orang yang sedang sholat?” Iblis dengan cekatan menjawab, “Ya Rasulullah, orang yang sedang sholat itu orang bodoh. Ia tidak tahu syarat hukum orang sholat tuma’ninah. Sholatnya juga tidak khusyuk. Sementara orang yang sedang tidur itu orang alim. Jika aku merusak sholatnya orang bodoh itu aku khawatir akan membangunkannya. Kemudian orang yang tidur itu mengajari dan membetulkan sholat orang bodoh tadi”.

Apa kaitan cerita di atas dengan fenomena aktual kita akhir-akhir ini? Kita tahu, pemerintah dan sebagian besar pemimpin umat beragama menghimbau untuk  tak melaksanakan sholat berjamaah bahkan Jumatan, beribadah di Gereja dan tempat ibadah lain. Ini salah satu cara untuk membatasi jarak fisik satu sama lain.  Juga, himbauan tak melaksanakan sholat Idul Fitri di masjid atau di lapangan.

Namun apa yang terjadi? Himbauan itu banyak yang dilanggar yang membuat penyebaran virus covid-19 semakin merajalela. Sudah pemerintah tidak tegas dalam mengambil kebijakan, dihadapkan pada masyarakat yang memang tidak patuh pula.

Modal Semangat

Saya ambil contoh lebih kongkrit. Masjid Muhammadiyah di samping rumah saya tetap melaksanakan sholat Jumat dan Taraweh. Meskipun sudah ada himbauan pemerintah dan juga Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) untuk melaksanakan sholat jamaah mandiri di rumah. Masjid Ulil Abshar itu hanya sekali tak melaksanaan sholat Jumat pada awal-awal himbauan physical distancing.

Masjid yang terkenal dengan bacaan suratnya yang panjang-panjang saat sholat berjamaah itu seolah abai dengan himbauan pemerintah dan PPM.  Ini hanya salah satu contoh kasus. Kasus yang lain tentu masih banyak.

Kasus di atas hanya sebagian kecil dimana masalah kebijakan anjuran untuk sholat di rumah memang tidak dipatuhi oleh sebagian ta’mir masjid. Bahkan oleh organisasi sosial kegamaan di tingkat bawah. Salah satu kasusnya adalah pelaksanaan shalat taraweh dan jumatan yang tetap dilakukan di masjid meskipun sudah dihimbau sedemikian rupa dengan perkembangan wabah pandemi covid-19 semakin mengkhawatirkan.

semangat-beribadah-saja-tidak-cukup-di-masa-pandemi
Ilustrasi : Lombok Post

Bahkan di daerah Jabalsari, Sumbergempol, Tulungangung ada sekitar 6 ribuan warga satu desa itu harus dikarantina karena takut ketularan virus. Ceritanya, mereka habis menghadiri acara tahlilan kematian warga desa.  Bukan soal pelaksanaan tahlilnya, tetapi “semangat” berkumpul di tengah pandemi itulah  yang menjadi masalah.

Mengapa hal demikian tetap dilakukan oleh masyarakat kebanyakan? Alasannya tentu macam-macam. Ada yang percaya bahwa hidup matinya manusia ada di tangan Tuhan. Bahwa yang menciptakan virus itu Tuhan. Maka Tuhan sendiri yang akan memusnakannya. Pendapat itu tidak salah hanya tidak seratus persen benar.  Bahkan teman saya yang tidak sholat berjamaah di masjid diolok-olok takut corona.

Tafsir Sepihak

Fenomena “pembangkangan” kebijakan ulama tentu menjadi keprihatinan kita semua. Para ulama yang memutuskan itu tentu tidak sembarangan memberikan fatwa. Juga bukan karena takut sama pemerintah. Mereka tentu punya dasar keagamaan kuat dan sudah “berijtihad” mempertimbangkan plus minusnya.

Seandainya masyarakat merasa “berdosa” tidak melaksanakan sholat Jumat maka biarlah para ulama itu menanggungnya. Masyarakat bisa mengatakan hanya mengikuti pendapat para ulama tersebut. Sebetulnya jika sudah bisa berpikir rasional seperti ini permasalahan menjadi mudah. Pelaksanaan ajaran agama seringkali  menjadi ruwet justru oleh masing-masing individu.

Persoalan lain yang bisa kita amati dari para “pembangkang” tersebut di atas bisa digolongkan sebagai kelompok yang hanya punya semangat beribadah saja. Sebenarnya semangat beribadah saja dengan tiadanya ilmu yang mumpuni dengan tak melihat dari berbagai sudut pandang tidaklah cukup. Semangat beragama tanpa dilandasi ilmu yang mencukupi bak melaksanakan ibadah hanya di kulitnya saja.

Kelompok ini bisa dikatakan egois dalam beragama. Mengapa? Mereka cenderung mementingkan kepentingan diri dan kelompok dekatnya. Bagi kelompok ini yang penting beribadah. Mereka tidak peduli apakah pelaksanaan ibadah berjamaah itu punya dampak buruk bagi orang lain. Memang dalam hal ini kita jadi diingatkan pada sebuah diktum yang mengatakan; bahwa manusia itu tak jarang bisa sadar setelah ditimpa musibah. Apakah kelompok itu ingin terkena virus covid-19 baru sadar? Apakah kelompok itu tidak berpikir bahwa terbuka peluang penularan virus pada orang lain meskipun sehat? Apakah ada jaminan bahwa para jamaah itu hanya ada di rumah itu lalu pulang dan seterusnya?

Tidak Cukup

Jadi, semangat beribadah saja tentu tidak cukup. Sama saja dengan orang yang hanya dengan keberanian maju perang menghadapi musuh yang membawa anak panah atau senapan. Sementara ia tidak membawa senjata atau pelindung apapun. Ini tentu tindakan konyol. Boleh mereka berpikir bahwa takdir di tangan Tuhan. Tetapi bukankah kepercayaan pada takdir juga harus diimbangi dengan berpikir jernih? Kalau tidak begitu kenapa Tuhan sering kali mengingatkan manusia dengan kata-kata, “Apakah kamu tidak berpikir?”

Sekali lagi, semangat  beribadah saja kadang tidak cukup. Ia membutuhkan ilmu yang mumpuni untuk membentengi ibadahnya tersebut. Dengan kata lain, ibadah yang memperhatikan tidak saja kepentingan dirinya tetapi juga orang lain. Apalagi ibadah di tengah pandemi tahun 2020 ini.  Tentu saya tidak menganalogikan mereka yang ngotot melaksakanan sholat jumat dan taraweh berjamaah di masjid itu bodoh, sementara masyarakat yang hanya berjamaah di rumah sebagai orang pintar. Bukan itu. Ini analogi yang sangat mungkin terlalu sederhana.

Namun demikian, kita melihat orang-orang yang  tidak peduli pada kehidupan dan kepentingan orang banyak itu bisa dikatakan beribadah dengan egois. Mereka punya semangat beribadah tetapi tidak dilandasi ilmu yang mumpuni. Jika tidak mempunyai kemampuan cukup dan ilmu beribadah dengan memadai, mereka perlu menjadikan pendapat ulama sebagai rujukan. Dalam persoalan sholat berjamaan makmum itu ikut apa yang dilakukan Imam. Apalagi jika tempat ibadah dan pengurusnya mempunyai ikatan dengan organisasi keagamaan tertentu.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini