Selamatan di Candi Badut, Demi Kesuburan dan Kejantanan

Terakota.id–Puluhan warga RW 5 Kelurahan Karangbesuki, Kota Malang keluar dari mulut gang. Mereka berjalan beriringan, masuk ke area Candi Badut. Selemparan batu dari rumah warga. Pria dewasa mengenakan batik, surjan lurik Jawa, baju koko, lengkap dengan udeng, peci hitam dan putih.

Anak-anak kecil berlarian menguntit di belakangnya. Masing-masing menenteng tumpeng berisi nasi, lengkap dengan sayur dan lauk pauk. Satu per satu tumpeng diletakkan berderet di jalan setapak, tepat di depan pelataran Candi Badut.

Mbah Suwardi, berada di antara mereka. Ia merupakan orang yang dituakan atau sesepuh warga. Pria berusia 85 tahun ini mengenakan batik, bersarung dan peci. Perlahan ia menapaki tangga, masuk ke dalam ruangan Candi Badut. Dua orang warga mendampinginya, masing-masing membawa sebuah tumpeng.

Masyarakat Karangbesuki menggelar selamatan bedah kerawang di pelataran Candi Badut. (Terakota/Zainul Arifin).

Tumpeng diletakkan di depan lingga dan yoni yang terdapat dalam ruangan dalam candi.  Kemenyan dibakar, bau harum menyengat menguar di antara ruangan candi seluas sekitar 15 meter persegi. Duduk bersila, mulut Mbah Suwardi komat-kamit, merapal mantra selama beberapa menit. Doa dipanjatkan kepada Tuhan, suaranya lirih nyaris tak terdengar.

“Doa untuk keselamatan seluruh warga agar lancar rezeki, dijauhkan dari marabahaya. Ini, selamatan bedah krawang,” kata Mbah Suwardi usai berdoa.

Lingga dan yoni itu sendiri adalah simbol kejantanan dan kesuburan dalam masyarakat Hindu kuno. Lingga adalah simbol kejantanan pria, sedangkan yoni sebagai simbol kesuburan perempuan. Candi Badut dipilih untuk meletakkan tumpeng dan memulai ritual bersih desa, berharap kemakmuran dan keselamatan untuk seluruh warga desa.

Selamatan bedah krawang untuk menghormati para tokoh yang diyakini pembabat alas sebelum menjadi desa. Bisa jadi, mereka adalah tokoh pembaharu di desa itu. Keyakinan warga RW 5 Karangbesuki, tokoh pembabat alas desa adalah Joko Dolog, Mbah Umbul Geni, Mbah Nganten, Mbah Suku Bali Domas, Mbah Singo Barong dan Den Bagus Sapu Jagad.

“Mereka itu wali, yang penjaga desa ini. Selamatan desa ini untuk menghormati mereka dan mengingatkan kita pada leluhur,” ujar Mbah Suwardi.

Upacara selamatan desa ini rutin digelar tiap Senin Wage bulan Selo dalam kalender Jawa. Meski tiap tahun, Mbah Suwardi tak tahu persis sejak kapan ritual bersih desa ini mulai dilaksanakan.

Masyarakat Karangbesuki menggelar selamatan bedah kerawang di pelataran Candi Badut. (Terakota/Zainul Arifin).

Ia hanya mengingat pesan para orang tua desa agar tetap menjalankan tradisi ini. Seluruh warga juga tetap memegang teguh adat istiadat terdahulu. Kalau pun sekarang ada warga yang tak mau datang ke Candi Badut, tapi tetap mengirim tumpeng juga tak dipersoalkan.

“Kalau soal keyakinan, silahkan masing-masing. Tapi ini tradisi yang diwejang orang tua agar selalu digelar pada tanggal tertentu,” ucap Mbah Suwardi.

Usai berdoa sendirian di dalam ruangan Candi Badut, Mbah Suwardi turun ke pelataran. Puluhan warga duduk bersimpuh di depan tumpeng. Doa bersama pun dilakukan dengan dua bahasa. Mbah Suwardi membuka doa dengan bahawa Jawa. Selanjutnya, giliran tokoh agama Islam membaca doa secara Islam.

Usai doa bersama, sebagian tumpeng dimakan beramai-ramai. Banyak pula yang membawa kembali pulang tumpeng tersebut. Prosesi upacara bersih desa di area candi itu sendiri berlangsung tak terlalu lama. Dimulai sekitar pukul 15.45 dan selesai sekitar pukul 16.30. Tapi, bersih desa di area candi ini hanyalah pembuka.

“Boleh dimakan bersama di sini, bisa dibawa pulang lagi. Terpenting, sudah berdoa bersama di sini,” ucap Joko Santoso, seorang warga setempat.

Sore itu, seluruh warga yang datang ke area candi adalah kaum lelaki. Malam harinya, kembali digelar tumpengan di balai RW. Saat itu, tiap warga beserta seluruh keluarganya ikut memeriahkan selamatan desa. Wayangan juga disiapkan sebagai hiburan malam hari.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini