Selamat Reuni Pak Prabowo dan Pak Wiranto

selamat-reuni-pak-prabowo-dan-pak-wiranto

Terakota.id–Reuni itu bukan soal anak sekolahan saja. Saat ini pak Jenderal (purn) Wiranto dan pak Letjen (purn) Prabowo Subianto juga sedang reuni. Kedua orang itu sedang reuni karena berada dalam gerbong pak Jokowi. Prabowo sudah diangkat menjadi Menteri Pertahanan sedangkan Wiranto diangkat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpes).

Kedua mantan pejabat militer tersebut juga pernah sama-sama punya kedekatan dan kesamaan. Keduanya sama-sama orang militer. Pak Wiranto pernah menjadi Menteri Pertahanan/Panglima ABRI, sementara pak Prabowo pernah menjadi Panglima Komanda Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Keduanya pernah juga di kepengurusan Golkar dan menjadi pembantu setia pak Soeharto. Jabatan terakhir Prabowo di Golkar sebagai anggota Dewan Penasihat Partai, sementara Wiranto pernah menjadi pemenang konvensi Partai Golkar untuk calon presiden tahun 2004.

Dua orang ini pun sama-sama pemimpin tinggi di sebuah Partai. Setelah “bercerai” di Golkar karena perbedaan kepentingan dan kompetisi keduanya mendirikan partai. Prabowo mendirikan Partai Gerindra sementara Wiranto mendirikan Partai Hanura. Kedua partai ini juga sama-sama kompetitif karena masuk sepuluh besar perolehan suara. Hanya pada Pemilu 2019 perolehan suara Hanura untuk legislatif melorot tajam  (dari 5 persen di tahun 2014 menjadi 2 persendi tahun 2019).

Keduanya juga jarang akur. Terutama soal penculikan aktivis pada tahun 1998. Keduanya juga pernah adu kekuatan saat tahun 1998 itu. Mereka pun juga sama-sama menjadi calon presiden yang gagal.

Saling Sandera

Saat ini, Prabowo danWiranto disatukan kembali sebagaimana zaman militer dan di Golkar. Mengapa keduanya menarik untuk disoroti? Karena keduanya menjadi perbincangan ramai saat bangsa ini membicarakan soal Hak Asasi Manusia (HAM). Keduanya pernah dituduh terlibat kasus penculikan aktivis 98. Keduanya sama-sama aktif di militer.

Perkembangan lebih lanjut,keduanya sama-sama berdiri di dua sisi yang berseberangan. Tidak saja berbeda partai tetapi juga berbeda kepentingan.

Lihat misalnya, pada Pemilu 2014 Prabowo harus menghadapi Jokowi yang didukung Wiranto. Isu HAM pun menjadi gorengan empuk. Karena Wiranto merapat ke Jokowi yang berkuasa, nyaris isu kasus penculikan dan HAM banyak dilekatkan pada Prabowo. Wiranto tentu lebih aman karena duduk sebagai Menteri Polhukam. Siapa bisa menggoyang Wiranto dengan isu kasus HAM sementara ia merapat ke pemerintahan yang sedang berkuasa? Nyaris hanya Prabowo yang bisa tersudutkan. Apalagi saat menghadapi Pemilu 2019.

Sekarang bagaimana? Tentu sangat berbeda. Keduanya sekarang sudah ada dalam gerbong Jokowi. Apakah Wiranto bisa kembali bersuara lantang menuduh Prabowo terlibat HAM dan penculikan? Juga sebaliknya? Bukankah keduanya sama-sama berada dalam kubu sama karena kepentingan kekuasaan Jokowi? Masihkah mereka yang meriakkan HAM menjelang Pilpres sekarang bersuara lantang kembali. Sekarang sudah semakin senyap.

Jadi memang, kekuasaan menjadi sarana aman untuk menyembunyikan diri dari kesalahan yang pernah dilakukan. Itulah kenapa banyak orang sangat ambisius untuk berkuasa. Siapa yang bisa mempermasalahkan kasus-kasus yang menyangkut AM Hendropriyono (pernah menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Negara/BIN) dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, misalnya? Sejak dia merapat di pemerintahan nyaris tak ada lagi yang memprosesnya. Padahal  saat Prabowo berada di luar pemerintahan, Hendropriyono termasuk pihak yang menyudutkan Prabowo.

Reuni Besar

Masyarakat jangan bingung. Mereka sekarang sedang reuni. Tepatnya, para pejabat militer Orde Baru (Orba) dulu sedang reuni di pemerintahan saat ini. Banyak jenderal yang saat ini berperan penting dalam kekuasaan.

Sebagaimana reuni tentu suasananya menyenangkan. Makan makanan enak. Mengenang masa lalu. Saling mendoakan. Saling berkabar. Tidak berkompetisi. Ini suasana saat reuni.

Bagaimana reuni di pemerintahan? Tentu menyenangkan. Bagaimana tidak? Mereka para jenderal itu politisi. Tujuan politisi apalagi kalau tidak untuk meraih kekuasaan politik.  Mengapa Prabowo mau saja merapat menjadi menteri Jokowi? Itu tadi, soal pada tujuan kekuasaan politik. Jokowi tentu ingin aman dan tidak dirongrong.

Sementara Prabowo juga akan merasa aman dari protes dan tuntutan pelanggaran HAM atau bahkan bisnis yang sedang digelutinya. Hal ini tentu tidak banyak masyarakat yang paham. Mereka umumnya hanya tahu bahwa Prabowo merapat ke Jokowi. Padahal tentu ada kepentingan besar di baliknya. Hanya kita semua tidak tahu. Mereka yang terlibat dalam kekuasaan saja yang mengetahuinya.

Wiranto (kiri) dipertahankan oleh Presiden BJ Habibie, sementara Prabowo (kanan) dipecat sebagai Pangkostrad. Foto : Reuters.

Politik itu memang seperti sinetron. Alur ceritanya bisa ditebak arahnya.  Sinetron Indonesia isi cerita biasanya soal percintaan, konflik orang tua dengan anak, atau hamil di luar nikah. Apalagi sinetron remaja, hanya berkisar pada tiga isi cerita di atas.

Sinetron agar menarik juga membutuhkan pemeran yang mumpuni. Mumpuni ini tentu agar sinetron laris dan ditonton masyarakat. Jika penonton banyak maka keuntungan ekonomis akan segera didapatkan. Meskipun ceritanya hanya begitu-begitu saja namun masyarakat menggemarinya.

Para  politisi juga tidak tanggung-tanggung. Mereka menampilkan para pamain sinetron kawanan era sebelumnya. Untuk apa? Agar lakon tetap bisa dimainkan sesuai kehendak yang punya “skenario” Siapa yang punya skenario? Jawab dengan pertanyaan, “Memangnya menjadi kandidat calon presiden itu hanya dukungan parpol murni? Apa tidak ada dukungan dana lain yang didapatkan?” Ini jawaban dengan pertanyaan.

Tentu para “investor” dan “pengusaha” akan ikut bermain. Bagaimana mungkin bisnis mereka akan aman jika tidak ikut bermain politik? Di Amerika saja hal demikian terjadi. Bahkan Mochtar Ryadi (bos Lippo Group) saja ikut mendukung dana dalam kesuksesan Partai Demokrat di Amerika Serikat, bukan?

Apakah cerita sinetron di layar kaca itu tidak membosankan jika temanya hanya itu-itu saja? Tentu sangat membosankan. Tetapi kenapa masyarakat tetap suka? Tentu sinteron tetap  mempunyai pasar penonton sendiri.

Bagaimana dengan politik? Sama saja. Bukankah perhelatan politik di Indonesia sudah bisa ditebak endingnya? Aktor yang bermain ya itu-itu saja? Alur cerita juga soal “begituan” saja? Tetapi kenapa masyarakat tetap mau-maunya menonton “sinetron politik” itu?

Nasib Para Penonton

Masyarakat kita memang masyarakat yang setia. Setia pada janji-janji muluk politisi. Setia pada kondisi ekonomi yang tidak mengalami kemajuan berarti. Intinya masyarakat kita itu toleran. Termasuk toleran dengan kehidupan  politik yang itu-itu saja. Toleran bahwa utang yang makin menumpuk itu biasa. Toleran bahwa negara ini semakin dalam cengkeraman asing tidak masalah.

Apalagi saat ini, dalam politik dihuni oleh para pemain kawakan  dari bintang film era sebelumnya. Mereka masih belum menyerahkan tongkat estafet ke generasi setelahnya. Mereka tentu ikut menikmati jabatan itu. Tentu ini soal kepentingan. Presiden Jokowi tentu juga menikmati suasana ini.

Bahkan pada reuni pak Wiranto dan pak Prabowo yang memberikan hidangan pak Jokowi sendiri. Selamat reuni bapak-bapak semua. Semoga sehat selalu. Jangan lupa  mereka yang sedang menonton reuni bapak-bapak itu juga membutuhkan perhatian. Pak Jokowi bagi juga hidangannya pada penonton yang sudah mulai kedinginan tersebut, ya?

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini