Selamat Jalan Pelopor Jurnalisme Warga, AM. Errol Jonathans

Terakota.id–Dunia radio siaran kehilangan seorang pelopor jurnalisme warga atau citizen journalism. CEO Suara Surabaya Media, AM. Errol Jonathans meninggal pada Selasa, 25 Mei 2021 pukul 11.06 WIB. Setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya karena sakit. Berita duka itu diunggah di beranda Facebook E100, akun resmi Radio Suara Surabaya (SS).

“Selamat Jalan Mas Errol Jonathans, doa kami keluarga Besar Suara Surabaya Media menyertaimu. Karya dan cinta kasihmu melekat dalam hati kami sepanjang masa. We love you.” tulis E100.

Gubenur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga mengucapkan turut berbela sungkawa dalam akun media sosialnya. “Jawa Timur kehilangan tokoh pers yang terkenal memiliki integritas dan reputasi yang baik. Selamat Jalan Pak Errol Jonathans, CEO Suara Surabaya. Doa kami, semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Selasa (25/5).”

Managing Director and Co-Founder KATADATA Indonesia, Ade Wahyudi mengenang Errol Jonathans sebagai orang baik, lembut dalam menghadapi siapapun. Ade bertemu Errol di Kedai Utan Kayu saat Ade bekerja di KBR68H. “Saya mengenal Pak Errol Jonathan. Orang baik dan lemah lembut, tidak pelit berbagi ilmu kepada siapapun juga. Selamat jalan Pak Errol, seperti saya, banyak orang kehilangan bapak.”

Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto menyampaikan kehilangan sosok panutan dan guru dalam ilmu jurnalistik. “Selamat jalan Mas Errol Jonathans, sahabat, guru, dan panutan kami. Di setiap langkah, kami akan selalu mengingat ceritamu yang tumbuh menjadi inspirasi. Bersyukur pernah mengenalmu dan bisa menikmati ketulusanmu dalam berbagi ilmu dan persahabatan.”

Errol lahir 27 April 1958 , meninggalkan istri Bernadette Nunung Jonathans dan dua anak, Matthieu Jonathans dan Damien Jonathans.

Turut Merintis Radio Suara Surabaya

Errol Jonathans tercatat turut mendirikan Radio Suara Surabaya (SS) bersama pemilik Soetojo Soekomiharjo sejak 11 Juni 1983. Saat itu, Errol juga merangkap penyiar dan bekerja sebagai jurnalis di koran Pos Kota Koresponden Jawa Timur (Sekarang Harian Surya). Seperti di kutip laman suarasurabaya.net, Errol memulai sebagai penyiar di radio yang nyeleneh. Lantaran radio memulai siaran bertepatan momen gerhana matahari total Juni tahun itu mengudara di saluran frequency modulation (FM). Padahal kebanyakan radio populer saat itu ada di saluran amplitudo modulation (AM).

Pagi sampai petang Errol meliput dan menuliskan repotasenya untuk Pos Kota. Petang sampai dini hari siaran beragam informasi dan berita seputar Surabaya dan nasional untuk Suara Surabaya. Karir ganda itu dia tekuni setelah dirinya menjawab tantangan dari mendiang Soetojo Soekomiharjo, pendiri Suara Surabaya yang ingin “radio nyeleneh” tidak berjalan di atas jalur yang dipilih kebanyakan radio saat itu.

Hingga tahun kedua hanya ada beberapa iklan yang masuk, para kru harus bergiliran menerima gaji. Errol jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) yang masih merangkap di Pos Kota hingga tiga tahun pertama bekerja di Suara Surabaya lebih sering mengalah. Penulis buku Suara Surabaya bukan Radio, Arifin BH menulis jika pada 1986, Errol lebih memilih menekuni dunia penyiaran radio.

Sejak berdiri Radio Suara Surabaya berformat siaran jurnalisme radio di tengah dominasi radio musik dan sandiwara radio. Pada 1994, berkat tangan dingin Errol, dikembangkan siaran interaktif berbasis jurnalistik. Kemudian diformulasikan sebagai jurnalisme warga atau citizen journalism. Pendengar sukarela menjadi reporter, pada 2009 jumlahnya mencapai 330 ribu orang. Pada 1999 mengaplikasikan konvergensi media melalui suarasurabaya.net.

Judy Djoko Wahjono Tjahjono dalam buku Suara Surabaya bukan Radio mengisahkan saat dia dan Errol mengikuti Short Cource for Radio Broadcasting Management International Journalsim and Media Management Program di Western Kentucky University medio November 2001.

Saat itu Errol menjelaskan perkembangan SS sebagai radio lokal Surabaya dengan siaran berbasis berita. Serta program interaktif masyarakat saling berdialog, berkomentar dan bertukar informasi. Serta mengembangakn konvergensi media melalui suarasurabaya.net dengan layanan radio daring atau online.

Romo Alphonseus Boedi Prasetijo memimpin misa arwah di persemayaman Adi Jasa, Surabaya untuk jenazah CEO Suara Surabaya Media Errol Jonathans pada Selasa, 25 Mei 2021 pukul 19.00 (Foto : Suarasurabaya.net).

“Para dosen mencecar dan sebagian tak percaya, ketika pendengar bukan jurnalis bersiaran di radio. Yang berbicara bukan jurnalis bagaimana bisa dipercaya kebenarannya. Kalau berbohong bagaimana? Risikonya tinggi, radio bukan tempatnya jurnalistik jalanan,” tulis Djoko.

Lantas Errol menjelaskan, bagaimana SS dibangun saat represi Orde Baru. Awalnya tak ada reporter, diawali dengan menulis ulang jurnal hingga memproduksi karya jurnalistik sendiri. Ada gatekeeper yang menyeleksi. Semua informsi dilakukan check and recheck. Mengecek kepada para pihak terkait menyangkut layanan publik. SS menjadi ruang publik, melatih publik berani menyampaikan pendapat.

Beberapa waktu berselang panitia Short Cource for Radio Broadcasting Management International Journalsim and Media Management Program berkunjung ke studio SS.

Jurnalisme Warga

Pendengar SS telah menjelma menjadi pedengar yang militan. Setiap hari, setiap pekan , minimal sebulan sekali mereka berbagi informasi. Awalnya informasi pendengar dicatat gatekeeper di atas kertas dan dibacakan penyiar. Pada 1994 Surabaya dilanda banjir, penelepon membludak. Gatekeeper kewalahan mencatat informasi. “Ya sudah pendengar ngomongo sendiri,” kata Errol dalam buku Suara Surabaya bukan Radio.

Kemudian program interaktif berkembang, bahkan sampai bisa menggagalkan pencurian mobil hanya melalui sarana telepon yang disiarkan SS. “Gak kebayang. Terus terang saya tak punya gambaran. Gara-gara interaktif lalu punya potensi jadi besar lagi, terus terang gak pernah membayangkan,” kata Errol.

Pada 19 Mei 2008, pengemudi Taksi Blue Bird bernama Gumarang menelepon SS melaporkan mobil taksi Pusaka WE 044 yang dikemudikan rekannya dirampas penumpang. Mobil dirampas di jembatan timbang Troboso, Sidoarjo dan kendaraan dialirkan ke arah Krian. Selang 30 menit, seorang pendengar yang tengah berkendara ke arah Malang melihat kendaraan yang dicuri melaju dengan kecepatan tinggi lewat Gempol, Pasuruan.

Sekitar 10 menit kemudian pendengar lain melaporkan kendaraan melaju ke arah Malang. Gatekeeper SS menghubungi kepolisian setempat yang diduga menjadi lokasi pelarian. Malam hari, Kepala Kepolisian Sektor Nongkojajar, Pasuruan AKP Bambang menghubungi SS mengenai akhir drama pencurian armada taksi tersebut. Mobil ditemukan, tetapi pelaku melarikan diri.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini