Selamat Datang di Tanah Para Pesilat

Terakota.id-Terlibat obrolan hangat saat bertemu bersama teman sebaya pada akhir pekan lalu.  Obrolan makin hangat, dan suhu malam Kota Malang saat itu seolah membeku. Waktu terasa begerak cepat, saat membincangkan kondisi negeri ini. Tepat setelah kehabisan kata-kata tentang hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus penyiraman Novel Baswedan. Tetiba sebuah poster muncul di berada Facebook, dan membelokkan arah obrolan.

Poster bersumber dari laman grup Facebook Madiun Magetan Kotaku Kotamu Kota Kita. Laman ini menjadi pengobat rindu saat kangen kampung halaman, yang seringkali datang tanpa sebab. Saya pikir banyak orang di perantauan mengalami hal yang sama. Bisa jadi Anda juga begitu, diam-diam menguntit kabar tanah kelahiran yang lama ditinggalkan.

Kita patut bersyukur teknologi makin canggih. Setidaknya, tak perlu lama  untuk sekadar berkomunikasi orang yang kita cintai di kampung halaman. Berkomunikasi dengan orang tua, pasangan, anak, kerabat, dan sebagainya. Videocall memungkinkan itu semua terjadi.

Ketika Madiun disebut, yang acap terlintas dalam ingatan orang adalah tragedi kelam PKI dan pecel. Tidak salah memang, dua hal itu kerap mendominasi perbincangan mengenai Madiun sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Jika tak percaya, silahkan ajukan pertanyaan kepada 10 orang yang baru Anda temui: “Apakah yang terlintas di benak Anda tentang Madiun?” Saya yakin, minimal tujuh  dari mereka bakal menjawab PKI dan pecel.

Kali ini saya tidak akan mengulas sedikitpun tentang PKI Madiun ataupun pecel Madiun. Entah itu soal peristiwa Madiun 1948 dilihat sebagai konflik di dalam tubuh militer Indonesia muda. Sehingga Madiun sebagai palagan imbas pertentangan blok politik global antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perang dingin. Peran penting Mohammad Hatta dan Rapat Sarangan dalam peristiwa itu dan sebagainya. Juga tidak akan mengulas tentang beda pecel Madiun dengan pecel Ponorogo, Kediri ataupun Blitar. Dan tidak juga soal nikmatnya kembang turi dan lamtoro dalam seporsi pecel.

Di luar itu, Madiun dikenal dengan pencak silat. Mungkin tak ada daerah di penjuru dunia yang penduduknya begitu mencintai seni bela diri sebagaimana orang-orang Madiun, mencintai pencak silat. Pencak silat bagi orang Madiun sama halnya Real Madrid bagi penduduk Madrid atau Barcelona bagi orang-orang Catalunya. Adalah kebanggaan sekaligus identitas. Juga mirip dengan Arema bagi warga Malang Raya. Adalah jatidiri sekaligus harga diri.

Di Madiun, pameo “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” bisa jadi tak punya arti. Di sana tak ada laut. Pelaut tak ada. Kalau orang memancing, banyak. Sehingga, saya kira lebih cocok orang Madiun mengubahnya menjadi, “Nenek Moyangku Seorang Pendekar.” Berlebihan? Sedikit.

Daerah yang pernah di bawah Kesultanan Mataram ini,  pencak silat mewujud dalam banyak perguruan silat yang lahir, besar, lalu menyebar ke seluruh tanah air dan mancanegara. Sebuah artikel di laman Historia berjudul Melacak Jejak Pencak Silat menyebut bahwa perguruan silat pertama di Indonesia ada di Madiun, Persaudaraan Setia Hati.

Perguruan-perguruan silat ternama, bercabang di banyak daerah seluruh Indonesia dan memiliki jutaan anggota. Pusat atau padepokannya juga ada di sini. Sebut saja, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), dan Ikatan Keluarga Silat Putera Indonesia Kera Sakti (IKSPI Kera Sakti). Di luar itu, masih ada Cempaka Putih, Perguruan Silat Ki Ageng Pandan Alas, Persaudaraan Setia Hati Tuhu Tekad, Persaudaraan Rasa Tunggal, Manunggal Rasa Sejati, Pro Patria, yang juga memiliki basis anggota yang tidak bisa dibilang sedikit.

Pertandingan pencak silat dalam perhelatan Asian Games 2018. (Foto : Kompas.com).

Semarak pencak silat di Madiun juga dapat kita temui dalam tugu atau gapura perguruan silat yang jumlahnya mungkin telah setara jumlah bintang di langit. Tak terhitung jumlahnya. Jika kebetulan Anda berkunjung ke Madiun dan melintasi 100 perempatan atau pertigaan jalan, itu berarti Anda juga telah bertemu 100 tugu atau gapura perguruan silat yang berbeda-beda identitas dan kreatifitas bentuknya. Selain sebagai bentuk eksistensi dan kebanggaan, tugu atau gapura perguruan silat juga berfungsi sebagai penanda perguruan silat apa yang dominan di daerah tersebut.

Di sejumlah pasar tradisional Madiun bisa dijumpai tradisi pencak silat. Seragam, atribut, aksesoris, dan bendera perguruan silat dengan mudah didapatkan di sana. Meski begitu, jangan coba-coba iseng dengan sembarang membeli kaos sebuah perguruan silat, lalu mengenakannya. Karena kaos itu hanya boleh dikenakan di antara mereka.

Setiap anggota perguruan silat dibekali kode atau semacam sandi. Dan itu hanya diketahui di kalangan mereka. Kalau Anda nekat memakai atribut mereka dan tidak nyambung ketika diberi kode. Maka bakal memantik reaksi yang tidak bersahabat. Bisa saja diminta mencopot kaos saat itu juga.

Semaraknya pencak silat di Madiun adalah kabar gembira. Ia bagian dari pelestarian sekaligus penyebarluasan kebudayaan Nusantara. Pencak silat merupakan seni beladiri yang lahir di Nusantara. Ada yang mengatakan pencak silat adalah seni beladiri masyarakat rumpun melayu. Karenanya ia berkembang juga di Malaysia, Brunei dan Filipina. Bahkan kini di Thailand dan Vietnam pencak silat juga berkembang pesat.

Memang belum ada keterangan pasti tentang kapan pencak silat lahir. Bisa jadi embrionya telah bermula sejak sebelum zaman kerajaan. Yaitu ketika manusia yang mendiami Nusantara ini beradaptasi dengan alam. Berburu dan mempertahankan diri dari binatang buas. Lalu, ketika zaman kerajaan, seni beladiri ini dikembangkan sedemikian rupa untuk memudahkan perluasan dan penjagaan wilayah dari serangan kerajaan lain.

Notosoejitno dalam bukunya “Sejarah Perkembangan Pencak silat di Indonesia” mengatakan bahwa pada zaman kerajaan Kahuripan, dipimpin oleh Prabu Erlangga pada 1019-1041 , telah dikenal ilmu beladiri pencak. Namanya “Eh Hok Hik”, artinya  “Maju Selangkah Memukul.” Seorang peneliti silat Donald F. Draeger, memperkuat pendapat ini. Karena banyak pahatan relief di candi merekam senjata dan jurus. Ia mencontohkan Prambanan dan Borobudur yang berisikan sikap kuda-kuda silat.

Secara umum unsur-unsur pencak silat meliputi olahraga, beladiri, seni, dan mental spiritual (kerohanian). Di beberapa perguruan unsur itu ditambah dengan persaudaraan (paseduluran). Begitupula perguruan-perguruan pencak silat di Madiun. Mereka berhasil mengelaborasi olah kanuragan, seni dan kerohanian. Setiap perguruan pencak silat memiliki pakemnya sendiri dalam melatih kekuatan fisik dan kejernihan rohani. Mereka juga mengembangkan jurus, gerakan, kuncian, dan permainan senjata yang punya makna dan nilai estetis.

Kita yang menikmati film action pasti pernah menonton film seperti IP Man, Kung Fu Kids, Shaolin Soccer, Shaolin Temple, Kung Fu Master, Kung Fu Hustle, dan sejenisnya. Film-film itu digarap secara apik dan memukau. Di sana seni beladiri shaolin, kung fu, wushu, karate, atau pun wing chun dipopulerkan ke seluruh dunia. Selain melalui ajang olahraga, baik nasional maupun internasional, seni beladiri itu disebarluaskan melalui medium film.

Saya kira, jika banyak film yang menggunakan  gerakan pencak silat tak akan kalah indah dengan seni beladiri lain yang kadung populer di kancah internasional. Jurus dalam pencak silat, jika diperhatikan, mirip tarian namun bertenaga. Pencak silat juga menggabungkan seni pertarungan jarak dekat dan jauh. Jika ada peragaan jurus-jurus pencak silat secara kolosal, pasti layak disandingkan dengan peragaan kolosal Kung Fu yang biasa disorot kamera di Kuil Shaolin.

Dulu kita akrab dengan film Wiro Sableng 212 yang sangat kuat unsur pencak silatnya. Dan belakangan, kita juga patut bergembira. Aktor laga berkelas, bekas atlet silat seperti Iko Uwais, Yayan Ruhian, atau Cecep Arif Rahman berkontribusi penting mempromosikan silat lewat film Merantau (2009), The Raid (2012), Man of Tai Chi (2013), The Raid 2 (2014), dan Star Wars: The Force Awakens (2015). Bahkan, film John Wick 3, garapan Hollywood, disebut-sebut menyorot keindahan pencak silat di dalam adegannya.

Dua pendekar bertarung bebas di arena panggung yang dipagari dengan bambu selama kompetisi Pencak Dor di Lapangan Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu Malam (27/04). Pencak Dor merupaka tradisi tarung bebas antar perguruan Silat sebagai bentuk tali Silaturrahmi Santri. Falahi Mubarok/ Terakota.id

Oh ya, poster yang saya baca itu berisi informasi Festival Seni Pencak Silat Nusantara 2019 di Kota Madiun. Festival akan dibuka di Alun-alun Kota Madiun, 25 Juli 2019 pukul 18.30. Dan dilanjutkan di GOR area Stadion Wilis mulai pukul 08.00. Bagi saya pribadi, festival ini adalah optimisme. Tak mustahil festival pencak silat seperti ini bakal melandaikan jalan Madiun sebagai kampung pencak silat dunia.

Masa kecil saya, di sebuah desa di Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun, diwarnai bau darah, pekik makian, dan wajah ketakutan serta kekalutan akibat konflik antar perguruan silat. Tetangga saya hampir terbunuh diserang sabetan pedang. Perutnya robek. Ketika itu, rumah warga banyak dirusak. Sawah tak bisa digarap karena dipenuhi batu dan pecahan kaca dari bom molotov. Saban malam, penduduk desa berjaga. Gang masuk ke desa dipasang palang dan didirikan gardu.

Tesis mahasiswa UGM berjudul Konflik Antar Perguruan Silat di Madiun menyebut, konflik berlangsung dari 1999 hinggal 2013. Peristiwa itu,  mengukuhkan Madiun sebagai kota konflik. Tidak enak sekali didengar. Dan banyak penelitian lain yang kurang lebih bernada sama. Siapapun yang mencintai Madiun, tentu tidak mau Madiun disebut sebagai sarang konflik antar perguruan silat.

Saya sendiri tidak begitu ingat, kapan konflik itu mereda. Yang jelas itu adalah masa lampau yang tak layak berulang. Itu dulu. Kini Madiun adalah gudangnya perguruan silat dan pesilat. Konflik telah berakhir. Paguyuban yang mewadahi perguruan-perguruan silat juga sudah terbentuk. Satu rumah berbeda perguruan silat kini jadi hal yang lumrah.

Wejangan yang berbunyi: “Bedo guru ojo padu, bedo perguruan ojo musuhan (beda guru jangan bertikai, beda perguruan jangan bermusuhan)” sudah mbalung sumsum. Frekuensi kesadaran yang sama, niat baik dan dukungan tanpa pamrih dari semua pihak, tak mustahil festival pencak silat Nusantara ini akan bergaung hingga jauh dan lama.

Selamat berfestival dulur-dulur. Tabik.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini