Selamat Jalan Sastrawan Radhar Panca Dahana

Radhar Panca Dahana Foto : portalteater.com

Terakota.idSebuah kabar duka dari dunia sastra Indonesia. Sastrawan Radhar Panca Dahana meninggal. Dunia sastra Indonesia kehilangan sosok sastrawan besar. Radhar juga dikenal sebagai jurnalis, esais, sastrawan dan kritikus sastra. Bahkan ia juga dikenal sebagai pekerja teater dan kritikus teater. Sebuah pesan di lini masa media sosial beredar.

“INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJIUN. Telah berpulang malam ini pk. 20.00 adik saya tercinta Radhar Panca Dahana di UGD RS Cipto Mangunkusumo. Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisiNya.Aaminn YRA. (Dari Radhar Tribaskoro).”

Radhar kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965. Radhar merupakan akromim dari nama kedua orang tuanya: Radsomo dan Suharti. Anak kelima dari tujuh bersaudara, seluruh keluarga bernama depan Radhar.

Dari laman badan bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan Radhar menyukai dunia menulis dan teater sejak kecil. Sejak 1970, sering pergi dari rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan tempat favorit yang ditujunya kawasan Bulungan. Tempat ini kemudian membentuk kepribadiannya.

Ketika kelas lima sekolah dasar, Radhar menulis sebuah cerita pendek “Tamu Tak Diundang” dan dimuat di harian Kompas. Saat kelas dua SMP, ia menjadi redaktur tamu majalah Kawanku. Radhar membantu menyeleksi naskah cerpen dan puisi di majalah anak muda ini.

Sejak kelas tiga SMP ia kerap menulis cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi. Beberapa karyanya dimuat di majalah Zaman, dengan nama samaran Reza Morta Vileni. Cerpen Radhar Panca Dahana kala itu menghiasi majalah remaja Gadis, Nona, dan Hai, bahkan, majalah dewasa, seperti Keluarga, Pertiwi, dan Kartini.

Saat SMA di Bogor ia bergabung dengan Bengkel Teater Rendra. Radhar menuruti anjuran Anto Baret melanjutkan studi di sosilogi Universitas Indonesia. Karier Radhar sebagai jurnalis pemula semakin berkembang ketika ia diterima bekerja di harian Kompas. Valens Doy, wartawan senior berpengaruh, menempatkannya sebagai pembantu reporter atau reporter lepas.

Pada 1997, Radhar melanjutkan studi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Prancis. Melakukan meriset postmodernisme di Indonesia. Baru setahun, Radhar pulang dan membatalkan fasilitas studi yang harusnya mencapai tingkat doktoral. “Aku tak kuat menahan diri. Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam teror,” kata Radhar.

Radhar divonis gagal ginjal kronis, dua buah ginjalnya tak berfungsi. Kondisi ini ia lalui saat mengelola rubrik “Teroka” di harian Kompas, memimpin Federasi Teater Indonesia, Bale Sastra Kecapi, dan Teater Kosong yang ia dirikan serta pengajar di Universitas Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini