Sekolah Dihapus : Konten Hiburan Jadi Perdebatan Oleh : Cintya Nelda*

Terakota.idSelama Pandemi Covid-19 sejak diterapkan work from home akses internet dan media sosial di Indonesia meningkat. Hootsuite bekerjasama dengan We Are Social  mengumumkan hasil survei berjudul Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital” diterbitkan pada 11 Februari 2021.

Laporan ini menyebutkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Total populasi pengguna aktif media social mencapai 170 juta atau 61,8 persen dari total populasi. Jumlah pengguna meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Indonesia tercatat dalam daftar 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Posisi Indonesia berada di peringkat sembilan dari 47 negara yang dianalisis. Berdasarkan aplikasi yang paling banyak digunakan secara berurutan YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, lalu Twitter.

Nah, sepekan lalu beredar sebuah video Tiktok yang Trending Topic Indonesia di aplikasi Twitter. Fenomena ini membuktikan teori Mc Luhan  tentang The exstension of man. Media adalah suatu bentuk perluasan manusia. Media memviralkan sesuatu yang menarik perhatian lewat media massa.

Video berdurasi selama 49 detik tersebut menampilkan seorang pemuda dan beberapa anak kecil. Pemilik akun tersebut @Iben_ma bertanya kepada beberapa anak SD mengenai kepanjangan jenjang pendidikan mereka. Jawaban mereka beragam, mulai dari  SD Jami, SD 08, Sekolah Duduk dan jawaban yang bikin trending topic adalah “Sekolah Dihapus”. Lantaran keluar kalimat yang menyebut kepajangan SD adalah Sekolah Dihapus. Sehingga menimbulkan reaksi beragam dan komentar warganet yang bisa memicu opini publik.

Opini pertama komentar tentang mirisnya pendidikan yang berada di Indonesia. “Aku kok miris ya, apa seancur ini pendidikan di negeri kita, bahkan singkatan SD aja siswa-siswa gak tau. Ada yang salah dengan pendidikan kita. Pendidikan Dasar itu penting, bahkan di negara maju gaji guru semakin tinggi ditingkat yang lebih rendah,” Tulis @Ahmadyani*** .“Singkatan SD aja gak tau, gimana singkatan lainnya yang ada di ujian huhuhu,” Tulis @Arini_dwians***.

Opini yang kedua adalah kesalahan pemilik akun Tiktok karena konten yang tidak ada perizinan antar pihak dan terkesan merendahkan orang lain. “Ya setidaknya kalau mau buat konten ginian, di blur wajah anaknya. Jejak digital kejam. Apa sudah ijin sama ortunya kalau anaknya di jadiin konten kaya gitu?” tulis @triztanFa**.

“makin kesini konten2 pertanyaan doi lebih bertujuan buat ngetawain kebodohan kecil orang2 ga sih?” komentar dari @itsbaby*** dan dibalas oleh akun @Andries*** “Bner bngt, seakan² dia nanya buat nyari² kesalahan org sih.. Udah gitu kebodohan org dijadiin entertainnya dia.. Pdhl ngasih tau aja kek kalo ga bisa mreka jawab dgn benar-_- ”.

Dan komentar paling epic adalah menceritakan tentang pengalaman pribadi seperti yang ditulis oleh akun @djlaw** “Tapi emg kepanjangan SD itu gak diajarin scr tertulis, wajar kalau mrk gaktau. Aku pun jujur tau kepanjangan SD pas udah kelas 6, sementara kepanjangan SMP, SLTP, SMU/SMA itu pas SMP baru aku tahu. Krn yah emg kepanjangannya itu gak pernah diajari ”.

Dalam konteks media dan masyarakat disini Tiktok berperan sebagai as a mirror atau cermin yang merefleksikan peristiwa sekitar dan apa adanya. Sedangkan Twitter berperan sebagai as a forum atau tempat diskusi masyarakat untuk menggiring opini setiap individu. Selain itu terdapat faktor pemicu yakni warganet yang berkomentar.

Faktor ini disebut dengan Selective attention. Menurut Alexis S Tan (1981) perbedaan individu merupakan hasil dari struktur kognitif seseorang yang berbeda dalam menerima pesan-pesan media,  jenis media massa pun beragam silih berganti menerpa seseorang. Kita mempunyai kemampuan untuk selektif hanya pada pesam-pesan yang menarik perhatian kita.

Sehingga “Sekolah Dihapus” menunjukkannya sebagai konten yang menarik perhatian masyarakat untuk dibahas. Walaupun beberapa orang menganggap bahwa itu lucu, namun banyak juga yang menganggap bahwa jawaban mereka merupakan cerminan buruknya pendidikan di Indonesia.

Bukankah  itu terlalu keterlaluan? Hanya karena tidak mengetahui singkatan dari jenjang pendidikan SD sudah menjadi tolak ukur akan betapa mirisnya pendidikan di Indonesia? Karena mau bagaimanapun konten ini merupakan salah satu fungsi media yaitu hiburan.

Meskipun hanya berperan sebagai hiburan, tetap saja media menimbulkan efek jangka panjang atau jangka pendek. Solusinya, khalayak harus melek media. Mereka dapat memilih media dan jenis konten atau isi yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Selain itu perlu ditingkatkan gerakan literasi media dan literasi digital.  Karena melalui pemahaman tersebut khalayak yang melek media menyadari hubungan mereka terhadap media. Serta mampu menilai dan memaknai pesan-pesan media yang dikonsumsinya.

Jadi setiap individu mampu membedakan mana konten selingan dan mana yang harus ditanggapi secara serius. Lantaran terkadang warganet cenderung mempermasalahkan hal yang sepele tapi tidak peduli atas fenomena penting yang terjadi di Negerinya.

 

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini