Sejarah Musik Malang: Mulai Band Pelajar sampai Pabrik Rokok

Poster sejarah musik Malang akan memenuhi lobi gedung Balai Kota Malang. (Foto: MMI).

Terakota.id–Museum Musik Indonesia (MMI) mempersembahkan sejarah musik Kota Malang di lobi Balai Kota Malang untuk Hari Pendidikan Nasional. Sejarah musik Malang ini ditampilkan deretan foto dan keterangan para musisi yang mewarnai sejarah musik di Malang mulai dekade 1960-an.

Foto dan poster para musisi beken mulai periode 1960-1970-1980-dan 1990 memenuhi dinding dan papan informasi Balai Kota Malang. Poster dan foto ini dipasang 10 Mei-10 Juni 2021.

Ketua MMI Hengki Herwanto menjelaskan musisi Malang dipengaruhi gaya bermusik musisi dan band dunia. Seperti Nat King Cole, dan Elvis Presley. Band Eka Dasa Taruna dianggap sebagai perintis band Kota Malang yang lahir pada 1960. “Band pertama yang muncul di Kota Malang. Didirikan Letkol Sudarji yang juga pendiri Universitas Merdeka Malang,” kata Hengki.

Berturut-turut lahir Band Avia Nada, berawal dari Pemuda Periang. Band didirikan Philip sebagai lead vokal dengan peralatan sederhana. Band menyajikan bermacam-macam aliran musik dari keroncong, pop, funky. Band Tornado dipimpin Tonny Susilo untuk membina anak muda yang berbakat di bidang musik.

Disusul Band Young Brahmaz yang sering menjadi pengiring artis ibukota. Sayang band ini belum menghasilkan album musik karena keseringan menjadi band pengiring di beberapa kota besar. Berikutnya Band Jaguar sering tampil sebagai band pengiringi untuk even angkatan darat. Membawakan lagu The Beatles.

Lahir pula Band Bentoel yang mengharumkan nama Kota Malang. Dengan mengorbitkan Mickey Meerkelbach, Ian Antono, Tedy Sujaya. Band Bentoel merupakan group rock paling populer pada 1973-an. Group band yang sangat atraktif saat tour di berbagai kota di Indonesia.

Formasi Band Bentoel Ian Antono (gitar sebelumnya drum), Teddy Sujaya (drum), Wanto (flute), Bambang M.G. (bass), Mickey Michael Merkelbach (vokal), dan Yanto (keyboard). (Foto : Rockdanmetalzone).

Pada 1970-an, Kota Malang melahirkan musisi dan band handal. Seperti Band Ogle Eyes yang debut pertamanya bermain bersama God Bless di lapangan basket Tenun Malang. Ditonton dengan 1000 pasang mata. Berikutnya Band Greates yang berawal dari sekumpulan siswa SMA Negeri 3 Malang. Band anak muda ini sukses hingga tour lima kota di Jawa Timur.

Lady Rocker Pertama

Kota Malang turut melahirkan lady rocker pertama Indonesia, Sylvia Saartje. Berawal dari perlombaan menyanyi mengantarkan Sylvia Saartje sebagai penyanyi yang dikenal masyarakat luas. Sementara Band Darkness kerap bermain dengan membawakan lagu Deep Purple, Uriah Heep, Black Sabbath. Lahir pula Band Gang Voice, kumpulan pelahar SMA Tugu. Mengukir pretasi sebagai 10 finalis Festival Rock Indonesia ke-3.

Band Heartbreak juga memenangkan keyboardis terbaik dan juara harapan 1 Festival Rock 1985. Band Bhawikarsu bagian dari siswa SMA Negeri 3 Malang. Festival Rock Band se-Jawa Timur 1987, Band Heartbreak dinobatkan sebagai Juara Harapan 1 dan gitaris terbaik.

Piringan hitam album perdana Sylvia Saartje dipanjang di etalase MMI. (Terakota.id/Eko Widianto)

Selain band dan musisi, Kota Malang juga melahirkan pemandu acara atau MC Ovan Tobing. Tak hanya memandu konser, dengan suara menggelar ia piawai mengendalikan penonton jika terjadi keributan  dalam sebuah konser. Sehingga Ovan Tobing kerap menjadi langganan konser musik nasional dan internasional.

Pada 1990-an, Kota Malang juga melahirkan band anak muda. Band Balance gabungan mahasiswa FISIP UMM yang kerap menyanyikan lagu Good Bless. Masuk semi final Festival Rock Jawa Timur menyisihkan 40 band se jawa timur.

Berikutnya, Band Plankton yang lahir dari Lembang Samaan Malang. Bergenre heavy dan speed metal. Serta Band Dye Marker membawakan genre trash metal. Melahirkan single Asap Neraka. Mereka tampil di Gebyar Musik Rock Crystal 1992 di Stadion Gajayana.

Saat itu, sejumlah tempat pertunjukan dan konser cukup memadai untuk musisi dan band Kota Malang berkonser. Meliputi Gedung Flora, Gedung Kesenian Gajayana, Gedung Tenun, GOR  Pulosari, Indrokilo dan Stadion Gajayana.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini