Sejarah Kota Malang, Sejarah Indonesia

Terakota.id–Kota Malang tengah larut dalam pesta. Pesta dirayakan suka cita, sepanjang April disesaki beragam acara. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Malang disedot untuk membiayainya. Jadwal acara tersusun, sedikitnya 15 acara bakal menandai semarak April. Mulai balap sepeda, pagelaran seni pertunjukan, festival film, pentas budaya, pergelaran wayang kulit, pekan budaya India, dan lain sebagainya.

Perhelatan pesta tetap digelar, meski Wali Kota Malang non aktif dan belasan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang meringkuk di balik jeruji besi. Ditahan karena terduga melakukan korupsi uang rakyat.

Setiap 1 April diperingati sebagai hari lahir Kota Malang. Malang berdiri sejak 1 April 1914 tahun ini merayakan ke-104. Sejarah perjalanan bangsa ini tak bisa dilepaskan dari Kota Malang, termasuk agresi militer Belanda. Sehingga tidak berlebihan untuk menyebut Malang ini sebagai kota bersejarah. Setiap sudut kota, tertanam bukti sejarah yang menarik digali. Terakota.id menyuguhkan tujuh sejarah Kota Malang yang penting untuk diketahui. Tulisan ini merangkum laporan jurnalis Terakota.id yang diturunkan sepanjang setahun terakhir.

Gementee atau Kotamadya Malang

Balai Kota Malang dibangun setelah Kota Malang ditetapkan sebagai kotamadya oleh pemerintahan kolonial Belanda (Terakota/Aris Hidayat)

Awalnya Malang merupakan sebuah kota kecil, ibu kota Kabupaten Malang di bawah Karesidenan Pasuruan. Malang tumbuh menjadi wilayah penting. Seiring liberalisasi kebijakan kolonial pada 1870, melalui Undang-Undang Gula (suikerwet) dan Undang-Undang Agraria (agrarischewet). Malang tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah yang nyaman untuk hunian.

Area perkebunan yang luas di Malang membuat kepincut pemerintah kolonial Belanda untuk membawa masuk modal swasta. Infrastruktur pun dibangun. Jalur kereta api dibuka dengan menghubungkan Malang-Pasuruan-Surabaya. Puncaknya, 1 April 1914 Malang dipisah dari Kabupaten Malang dan ditunjuk sebagai gemeente atau kotamadya oleh pemerintah kolonial Belanda.

Keputusan ini memungkinkan pembangunan Kota Malang yang lebih mandiri dan pesat. Apalagi dengan dukungan UU Desentralisasi yang disahkan pada 1915. Ahli tata kota Herman Thomas Karsten, dipercaya sebagai arsitektur pengembangan kota. Herman Thomas Karsten membagi rencana pembangunannya menjadi bouwplan I – VIII atau delapan tahap rencana pengembangan tata kota.

Alun-alun baru didirikan dikenal sebagai Alun-Alun Tugu atau Alun-Alun bundar. Pusat administrasi pemerintahan dibangun. Taman serta pemukiman elit diwujudkan. Sehingga 1 April 1914 ditetapkan sebagai hari kelahiran Kota Malang. Kelahiran kota ini didasari pada dua keputusan politik demi mendukung kepentingan kapitalisme Belanda di Hindia Belanda saat itu. Yakni liberalisasi di berbagai bidang termasuk UU Gula dan UU Agraria serta UU Desentralisasi memantapkan kolonialisme. Sampai sekarang, pesta dirayakan untuk memperingati kelahiran produk kolonial tersebut.

Tinggalkan Balasan