Sebuah Panggilan Hati menjadi Pendidik

“Profesi guru nggak pantes Kalau berbicara finansial. Banyak pendidik yang resign salah satu kendalanya ya itu, finansial. Panggilan hati, ketika hati sudah memanggil untuk menjadi pendidik, insyaAllah Allah akan mempermudah jalan kita.”

Para pendidik bekerja secara profesional dalam kegiatan belajar mengajar. sekitar 90 persen pendidik anggota HIMPAUDI telah mengikuti Bimtek Pendidikan Dasar. (Foto : tim terakota)

Terakota.idPara pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Tajinan mengembangkan diri dan meningkatkan kapasitas diri. Beragam pelatihan untuk meningkatkan profesionalisme para guru terus digalakkan. “Kegiatan pelatihan tari, dan pertemuan gugus PAUD rutin diselenggarakan dua  bulan sekali,” kata Ketua Himpunan Pendidik Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Tajinan, Rita Saptarini.

Rita menargetkan 2021 seluruh pendidik yang tergabung dalam HIMPAUDI telah mengikuti pendidikan dasar. HIMPAUDI Kecamatan Tajinan berdiri sejak 2009. Menghimpun para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD di Kecamatan Tajinan. Beranggotakan sebanyak 52 pendidik PAUD dari 12 kelompok belajar atau PAUD di Tajinan.

Sebelumnya mereka tergabung dalam Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI). Mereka menghimpun diri dalam HIMPAUDI sebagai organisasi yang bersifat independen. Menjadi wadah non-formal untuk bertukar informasi, pikiran, pengetahuan, pengalaman, koordinasi, dan konsultasi.

“Tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidik dan anak didik,” kata Rita. Sehingga terwujud pola pengasuhan, pendidikan, pengembangan, perlindungan dan peningkatan kesehatan dan gizi anak usia dini. HIMPAUDI Tajinan memiliki divisi penelitian dan pengembangan, divisi ekonomi dan kesejahteraan, divisi agama dan pendidikan serta divisi hubungan masyarakat. Pertemuan rutin diadakan dua bulan sekali.

Berbagai kegiatan digelar seperti bimbingan teknis (Bimtek), pendidikan dasar, kegiatan ke-PAUD-an, pengelolaan gugus PAUD, dan outbond pendidik PAUD. Berbagai kegiatan dilangsungkan untuk meningkatkan keterampilan para pendidik. Saat pandemi Covid-19 kegiatan HIMPAUDI sempat terjeda dan dilakukan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Selain itu juga mengikuti beragam keterampilan. Mulai keterampilan membuat kreasi kuliner khas, mengembangkan bakat penulis hingga konten kreator. “Mewujudkan potensi pendidik PAUD menjadi penulis monggo, youtuber silakan. Difasilitasi,” ujarnya.

Rita juga getol menginisiasi beragam workshop bagi anggota HIMPAUDI Tajinan. Tujuannya untuk mengembangkan bakat dan minat anggota. Menyalurkan minat guru PAUD yang memiliki potensi menulis, memasak, dan keterampilan lain.

Keterampilan para pendidik diharapkan bisa menambah penghasilan. Berwirausaha namun tetap menjadi pendidik anak usia dini. Profesi pendidik PAUD adalah profesi yang imbalannya tak pantas disebutkan karena tak sebanding antara tugas dengan tanggung jawab. “Ketika hati sudah terpanggil menjadi pendidik, insyaallah Allah mempermudah jalan kita,” kata Rita.

Pada 2021, sejumlah rencana kegiatan digagas melalui koperasi “Besa Artha Guna” yang didirikan HIMPAUDI Tajinan. Koperasi dibentuk agar pendidik PAUD semakin berdaya secara ekonomi. Koperasi bekerjasama dengan seluruh lembaga dan anggota HIMPAUDI Kecamatan Tajinan. Membangun usaha simpan pinjam sejak 2013 dengan modal awal tabungan para peserta didik.

“Keuntungan koperasi untuk lembaga dan HIMPAUDI,” ujar Rita. Koperasi turut mewadahi anggota HIMPAUDI yang memiliki produk yang ditawarkan untuk anggota. Beragam produk diperdagangkan. Bahkan, koperasi bekerjasama forum jual-beli melalui grup media sosial.

Makna Pendidik Anak Usia Dini

Rita menerangkan menjadi pendidik anak usia dini harus berdasar panggilan jiwa. Sebuah ladang pengabdian. Pendidikan anak usia dini, katanya, tak hanya play group atau kelompok bermain. “Anak usia nol sampai enam tahun sebenarnya masih termasuk cakupan pendidikan anak usia dini,” katanya.

“Selama ini mindset yang ada di masyarakat, PAUD itu play group, titik,” katanya. Padahal pengelompokan terdiri atas usia tiga sampai empat kategori kelompok bermain atau play group, usia lima sampai enam tahun kelompok A, usia enam sampai tujuh kelompok B.

Pendidikan anak usia dini fokus pada enam aspek indikator perkembangan anak. Meliputi agama dan moral, sosial emosional, kognitif, fisik motorik, bahasa dan seni. Kondisi peserta didik di kelompok belajar, katanya, tak bisa disamaratakan. Cara belajar harus disesuaikan dengan kondisi setiap anak, sesuai potensi, minat dan bakatnya.

HIMPAUDI sebagai organisasi yang bersifat independen menjadi wadah non-formal untuk bertukar informasi, pikiran, pengetahuan, pengalaman, koordinasi, dan konsultasi para pendidik. (Foto : tim terakota)

Anak usia nol sampai enam 6 tahun merupakan usia bermain. Pendidikan kelompok bermain atau play group, belajar menggunakan metode bermain. “Saat anak merasa senang dengan bermain, ia akan mudah menyerap pembelajaran. Bukan dari calistung (baca tulis hitung), tapi bermain dahulu,” ujarnya.

Berawal dari pengalaman menyenangkan membesarkan anak pertama yang memiliki keistimewaan. Berbeda dengan anak sebaya. Rita menjajaki dunia pendidik anak usia dini. Rita beserta suami mengontrak dari perumahan ke perumahan. Ia membuka bimbingan belajar. “Muridnya banyak di sekitar rumah, anak-anak juga bermain dengan anak saya,” katanya.

Semakin lama banyak orang tua mereka menitipkan bekal dan mainan anaknya. Lantas menginspirasi Rita mendirikan kelompok bermain non-formal. Sewaktu hamil anak kedua, suami Rita tengah melakoni pekerjaan di luar negeri, Rita kembali tinggal di rumah orang tua. Sehinga anaknya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sedangkan lembaga bermain di daerah tersebut kurang sesuai untuk anak berkebutuhan khusus.

Lantas mendorong Rita mendirikan lembaga kelompok belajar sendiri. Awal merintis 2008 dan hampir menyerah pada 2010. Namun, tak patah arang ia terus maju dan mengembangkan lembaga pendidikannya. Kini berkembang dengan mendirikan kelompok belajar di dua lokasi yakni di Tajinan dan Sumber Suko.

Selain kelompok bermain, juga terintegrasi dengan taman posyandu. Juga sanggar baca Pelangi Nusantara setiap ahad. “Orang tua, jangan memberi stigma anak, ah kamu ini nakal. Mohon dididik dengan hati sehingga pendidikan di rumah menjadi momen berinteraksi lebih intim dengan anak,” ujar Rita.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini