Sebuah Ocehan yang Penting untuk Didengar

Suku terasing di hutan Amazon, Brazil. Lembaga Funai mendokumentasikan video dengan kamera udara drone. (Foto : Funai/Survival).

Terakota.id–Peru adalah tempat dalam ingatan yang dirajut tokoh Aku. Ingatan selalu membutuhkan penanda untuk bangkit kembali. Penanda bisa berupa apa saja: buku- buku, warung kopi, sebuah momen kecil, atau mungkin gambar-gambar sederhana dan foto-foto hitam-putih.

Inilah yang terjadi pada tokoh aku, sebuah galeri di Firenze yang memuat beberapa foto: “sungai-sungai lebar, sampan-sampan ringkih, gubuk-gubuk rapuh yang didirikan di atas tiang-tiang pancang, serta kerumunan lelaki dan perempuan yang telanjang sampai ke pinggang dan berlumur cat” telah menghadirkan kembali belantara Peru padanya. Ingatan-ingatan itu muncul dan begitulah kisah novel ini berjalan.

El-Hablador, novel besutan Mario Vargas Llosa, seorang novelis  Amerika Latin yang mendapatkan Penghargaan Nobel pada tahun 2010. Novel diterjemahkan Ronny Agustinus dengan judul Sang Pengoceh dan diterbitkan oleh penerbit OAK pada tahun 2016. Mengisahkan tentang nasib sebuah suku yang tinggal di pedalaman hutan Amazon: suku Machiguenga, dalam melawan gempuran modernisme yang ekspansif dan eksploitatif.

Novel diterjemahkan Ronny Agustinus dengan judul Sang Pengoceh dan diterbitkan oleh penerbit OAK pada tahun 2016. (Terakota/Muammar Nur Islami).

Kisah bermula dari ingatan tokoh aku pada belantara hutan Amazon, Peru. Kemudian belantara Peru mengingatkan perjuampaannya dengan seorang kawan yang mengalami “pencerahan” dari masyarakat adat, Saul Zuratas atau kerap dipanggil Mascarita (Muka Topeng) karena tompel yang menutupi seluruh sisi kanan wajahnya.

Llosa membangun dua kisah dengan sudut pandang orang pertama. Kisah pertama adalah kisah tentang tokoh Aku yang menceritakan temannya, Saul Zuratas. Kisah kedua adalah kisah Saul Zuratas sendiri, tentang hubungannya dengan suku Machiguenga.

Saul Zuratas adalah mahasiswa etnologi berdarah Yahudi. Identitas keyahudian ini cukup penting dalam cerita karena sepertinya Llosa sengaja memilih identitas “bangsa pengembara” yang minoritas dan kerap menjadi objek kebencian untuk memberi gambaran pada kondisi suku Machiguenga yang tinggal di dalam hutan Amazon, masyarakat yang hidup berpindah-pindah alias nomaden dan sering dipandang sebelah mata oleh dunia luar.

Baca juga :  Djoko Rendy, Sosok Seniman Malang yang Kreatif

Saul Zuratas tahu bagaimana rasanya dipandang aneh dan rendah hanya karena identitas yang –mengutip Amin Maalof, sangat tipis tapi juga sangat melekat dan tak bisa seenaknya dibuang atau dilepas.

Dalam kasus Saul Zuratas identitas “minor” itu tidak hanya Yahudi, tompel di wajah bawaan sejak lahir membuatnya menjadi lebih terasing dan sering dianggap aneh karena berbeda, menjadi minoritas di dalam minoritas. Mungkin karena itu juga kita mendapati Saul sebagai penyuka Kafka, terutama cerita Gregor Samsa yang bangun dari tidur dan mendapati diri sudah berubah menjadi seekor serangga raksasa.

Saul yang merupakan mahasiswa etnologi ini tertarik dengan suku Machiguenga yang tinggal di pedalaman hutan Amazon, Peru. Terutama tradisi dan cara-cara mereka hidup dan berhubungan dengan alam.

Novel El-Hablador, karya Mario Vargas Llosa, asal Amerika Latin mendapatkan Penghargaan Nobel pada tahun 2010. (Foto : Pusatplakat.info)

Misalnya dalam kepercayaan Machiguenga, berhenti terlalu lama di suatu tempat bisa mengundang kiamat: matahari jatuh dan alam rusak (halaman 52). Maka hidup berpindah-pindah menjadi sebuah keharusan untuk menjaga keseimbangan alam.

Hidup seperti ini membuat sosok pengoceh dalam kehidupan suku Machiguenga ini menjadi sangat penting. Sang Pengoceh berperan sebagai penghubung antar keluarga yang sudah berpencar di dalam hutan.

Keunikan cara mereka hidup dan memaknai hubungannya dengan alam ini terancam oleh ekspansi orang-orang modern yang membawa misi “pemeradaban”. Inilah yang membuat Saul Zuratas menyerahkan diri sepenuhnya untuk menjadi bagian dari suku Machiguenga.

Dalam novel ini Saul menjadi “juru bicara” bagi suku Machiguenga. Ia menyumpahi orang-orang modern yang membanggakan diri sebagai “kaum beradab” dan “manusia tercerahkan”, sembari merendahkan bangsa dan suku lain sebagai primitif dan tidak beradab. Saul menggugat kembali apa artinya menjadi modern, beradab, dan tercerahkan?

Baca juga :  Golput dan Semesta Boikot untuk Perubahan

Jika menjadi modern berarti menghancurkan manusia dan alam, maka menjadi tidak modern tentu adalah pilihan yang terbaik. Persoalan inilah yang dihadapi suku Machiguenga, hutan tempat mereka hidup terancam habis oleh ekspansi industri yang mengatasnamakan “modern”, demi kemajuan dan hidup yang beradab.

Selain kepentingan industri, Saul juga mengutuk keras para ilmuwan (dalam hal ini adalah sarjana-sarjana dan institusi linguistik) yang penelitian ilmiahnya sebenarnya hanya kedok untuk meneruskan imperialisme Amerika.

Ada juga para agamawan dan misionaris-misionaris yang datang dengan semangat memperadabkan, meluruskan masyarakat adat dari jalan kesesatan menuju keselamatan. Namun sebenarnya datang untuk menghancurkan alam, merusak tradisi dan menghilangkan kosmologi yang telah dipertahankan beratus, dan bahkan mungkin beribu tahun lalu, jauh sebelum kata modern dan agama-agama baru tersebut lahir.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada masyarakat adat di Indonesia. Seperti juga suku Machiguenga di hutan Amazon, suku-suku adat di pedalaman hutan Indonesia juga terus terancam ruang hidupnya. Misalnya cerita dari catatan harian Butet Manurung yang telah dibukukan dengan judul Sokola Rimba menunjukkan bagaimana semakin terdesaknya Suku Anak Dalam atau “Orang Rimba” di Jambi.

Butet Manurung inisiator Sokola Rimba bersama anak-anak suku anak dalam. (Foto : LIputan6.com)

Kepercayaan mereka terancam karena masuknya agama-agama baru, tradisi melangun (berpindah-pindah) mereka mulai sulit dilakukan karena hutan terus berkurang, berubah menjadi perkebunan atau perumahan. Artinya, hidup mereka terancam. Hal serupa terjadi pada banyak suku adat di Indonesia: Suku Asmat di Papua, Suku Badui di Banten, Suku Samin di Pegunungan Kendeng, dan lain-lain.

Menurut saya disinilah kekuatan novel setebal 374 halaman ini. Ia menarik karena menyuguhkan data etnografis dan informasi yang melimpah tentang suku pedalaman Amazon, tentang bagaimana mereka hidup, bagaimana merawat tradisi, termasuk makna-makna dari setiap kepercayaan dalam kosmologi Machiguenga. Ini bisa kita temukan di bagian-bagian akhir novel.

Baca juga :  Mencari Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang

Novel ini juga sekaligus menantang karena asumsi-asumsinya dalam mempertanyakan modernisme dan humanisme, suatu pencapaian manusia yang diadiluhungkan pasca pencerahan eropa, termasuk agenda “memperadabkan” yang bias kepentingan satu pihak tertentu. Dan ini bisa datang dari mana saja, termasuk Lembaga pendidikan atau pun Lembaga keagamaan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini