Sebuah Cerpen, “Sexy Killers”, dan Kerusakan Lingkungan

Kerusakan alam dan pencemaran akibat penambangan batubara dan proyek-proyek itu adalah metafora bagi degradasi akal sehat dan pudarnya kepekaan nurani demi materi.

Oleh: Yusri Fajar*

Terakota.id– Ketika saya mendengar dan melihat teman-teman di media sosial dan di warung kopi sedang membincangkan film Sexy Killers, saya tiba-tiba teringat sebuah cerpen berjudul Sepihan di Teras Rumah karya Zaidinoor yang dimuat kompas beberapa tahun silam. Tepatnya tahun 2012. Obrolan beberapa orang yang saya dengar sekilas tentang film Sexy Killers terfokus tentang masalah penambangan batubara dan berbagai akibatnya.

Sejak itu, saya berjanji dalam hati untuk menonton film dokumenter garapan Dandy Laksono tersebut. Dandy dalam film garapannya sebelumnya, yaitu Samin vs Semen juga mengangkat isu lingkungan.

Poster Film Sexy Killers (Sumber: Tribunnews)

Cerita pendek karya cerpenis asal Kalimantan, Zaidinoor membuat saya berimajinasi tentang kerusakan lingkungan akibat penambangan Batubara di Kalimantan. Saya belum pernah ke Kalimantan dan tidak tahu secara langsung kondisi alam sebagaimana yang diceritakan oleh Zaidinoor. Namun, sebagai sebuah karya sastra, saya meyakini cerpen itu merepresentasikan kondisi lingkungan yang mengalami degradasi akibat eksplotasi atas nama pembangunan.

Dalam perspektif kritik sastra lingkungan, teks Zaidinoor membangun diskursus relasi manusia, alam dan kekuasaan (masyarakat, pemilik modal dan pemerintah). Zaidinoor menarasikan fenomena penambangan batubara di dekat kebun karet masyarakat. Salah satunya milik Ni Siti: “Ni Siti tak tahu banyak tentang serpihan hitam itu. Satu-satunya yang ia ketahui adalah bahwa untuk mendapatkan serpihan hitam itu, orang yang lalu lalang di desanya menggali lubang-lubang besar dengan alat-alat bak raksasa di sebelah barat kebun karetnya”. Akibat penambangan batubara itu, kualitas dan kuantitas getah karet di kebun Ni Siti menurun karena ekosistem telah rusak.

Premis degradasi lingkungan merupakan degradasi kebudayaan bisa dipahami pada konteks manusia. Terutama para pemilik modal dan pemerintah, sebagai aktor-aktor yang memengaruhi kondisi alam dan lingkungan. Mereka telah menempatkan alam sebagai objek eksploitasi hingga mengalami penurunan kualitas hingga kerusakan. Zaidinoor menghadirkan potret itu secara sastrawi untuk menyadarkan kita dari ilusi-ilusi antroposentris, yang menempatkan manusia sebagai pusat (centre) sementara alam adalah liyan (the other).

Padahal manusia sangat membutuhkan alam, sehingga alam harus dijaga dan dilestarikan. Petani karet seperti Ni Siti sangat bergantung pada kesuburan pohon-pohon karet. Ni Siti dan warga kampungnya juga berharap hidup dengan tenang dan bersih. Namun, lalu lalang truk pengangkut batubara telah menghasilkan debu termasuk serpihan barubara yang tercecer dan terbang hingga ke teras rumahnya.

Zaidinoor kemudian menggambarkan Ni Siti yang menyadari bahwa kualitas pohon karet yang menurun diakibatkan sumber air bersih yang mulai bermasalah karena penambangan: “Mungkin air dari berbagai tempat mengumpul di lubang-lubang bekas galian itu. Sehingga air di sebelah barat tak lagi mengalir ke kebun karet Ni Siti. Sedang air dari kebun karetnya mengalir menuju lubang. Karet-karet Ni Siti pun kekurangan air. Dan sampai kapan hal ini berlangsung?”

Kerusakan akibat tambang (Sumber: Satu Harapan)

Pertanyaan kapan penambangan akan berakhir adalah pertanyaan yang akan disampaikan oleh masyarakat yang mengharapkan alam dan lingkungan mereka tetap lestari. Sementara para pengusaha, pemerintah, dan pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan keuntungan dari penambangan akan cenderung mengorbankan kehidupan rakyat kecil seperti Ni Siti.

Gambaran tentang akibat penambangan batubara sebagaimana dituliskan Zaidinoor secara lebih jelas bisa kita lihat dalam film Sexy Killers. Jika saat saya membaca cerpen Zaidinoor, saya hanya bisa mengimajinasikan fenomena penambangan batubara di Kalimantan dalam pikiran saya, melalui film Sexy Killers saya bisa mendapatkan gambaran secara visual persoalan penambangan batubara, relasi kuasa, dan berbagai akibatnya bagi lingkungan dan masyarakat Indonesia.

Sebagai film dokumenter, Sexy Killer meyakinkan diri saya atas berbagai kerusakan lingkungan dan beberapa korban karena menampilkan berbagai fakta yang ditemukan di lapangan dengan berbagai data-data yang digali dari pengumpulan dokumentasi, observasi dan juga wawancara. Di beberapa bagian film kita bisa melihat kondisi lingkungan secara jelas. Dengan teknik pengambilan gambar bird eye view, sebagaimana dilakukan juga dalam film Samin vs Semen (untuk memperlihatkan lokasi alam yang di eksplotasi pabrik semen dan kawasan pertanian di daerah Kendeng Jateng), film Sexy Killers menampilkan gambar dari atas sehingga kita bisa melihat dua entitas yang saling berlawanan. Gambar lubang-lubang penambangan dan sisa-sisa lahan hijau di sekitarnya.

Film ini menghadirkan gambar-gambar yang secara simbolis berlawanan, seperti cahaya lampu dalam hotel (dalam bagian awal film), gemerlap lampu di ibu kota Jakarta dan lubang-lubang hitam serta kehidupan masyarakat sekitar penambangan batubara yang ‘gelap’ nasibnya. Secara implisit kita bisa membayangkan para pengusaha dan penguasa bergelimang kekayaan dari ekplotasi dan proyek berkaitan dengan batubara, di sisi lain kita melihat rakyat kecil yang menderita, susah dan termarjinalkan. Bahkan terusir dari lahan-lahan mereka.

Banyak korban meninggal karena masuk dalam bekas lubang tambang. Dan lihatlah bagaimana penguasa dengan begitu santai menanggapi kematian dan bencana serta kerusakan lingkungan. Sikap dan respons yang sungguh ironis dan tak menunjukkan empati serta tindakan nyata dalam mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan secara bijak.

Alur dalam Sexy Killers bergerak dengan tidak hanya terfokus pada pusat penambangan batubara di Kalimantan, namun terus berjalan, berlindan menampilkan berbagai kepentingan dan akibat di berbagai daerah lain, seperti Karimun Jawa, Batang Jateng, Cirebon, Bali, dan juga Palu Sulawesi. Alur ini ibarat gerak kapal-kapal tongkang pembawa batubara yang akan menjadi bahan bakar PLTU di berbagai daerah. Kapal-kapal itu melintasi laut, siap bersandar ke pusat-pusat PLTU dan daerah lain yang akan dibangun proyek serupa di dalamnya.

Kapal-kapal itu menjadi momok bagi nelayan yang hasil tangkapannya berkurang. Kapal-kapal dan timbunan batubara di dalamnya itu pula yang merusak terumbu karang dan ekosistem laut. Para petani garam di Cirebon tergusur karena proyek PLTU. Kita menyaksikan bagaimana pengusaha yang mendapat dukungan dari penguasa melakukan tindakan represif pada anggota masyarakat yang memprotes eksploitasi alam dan rencana pembangunan PLTU serta akibat-akibatnya. Kita melihat warga masyarakat yang harus mengorbankan kesehatan bahkan mempertaruhkan nyawa karena polusi udara dan berbagai pencemaran yang ada.

Kerusakan alam dan pencemaran akibat penambangan batubara dan proyek-proyek itu adalah metafora bagi degradasi akal sehat dan pudarnya kepekaan nurani demi materi.

*Sastrawan dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini