Sebanyak 100 Penulis Muda Berlatih dari Pakar Kepenulisan

sebanyak-100-penulis-muda-berlatih-dari-pakar-kepenulisan
Garin Nugroho berkisah tentang proposal pembuatan sinopsis, sambil cerita tentang asal usul opera sabun di Amerika dibandingkan dengan K-Pop dalam pelatihan penulis di Natan Yogyakarta 27 September 2020. (Foto : Satupena).

Terakota.id—Sebanyak 100 penulis muda mengikuti pelatihan menulis bersama para pakar. Pelatihan dilangsungkan 26-27 September 2020 di nDalem Natan Kotagede Yogyakarta.  Masing-masing dilatih secara intensif khusus resensi dan features. Selama dua hari yang diselenggarakan Satupena dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Penulis muda ini berlatih bersama sejumlah pakar penulisan bidang budaya, seni dan ekonomi kreatif. Mereka dilatih para mentor penulisan. Yakni Ricky Pesik (periklanan), Garin Nugroho (film), Bens Leo (musik), Hanung Bramantyo (film), Nasir Tamara (budaya), Mikke Susanto (seni), Idrus F. Shahab (musik), Asmudjo J. Irianto (seni rupa), dan Amin Abdullah (musik).

Masing-masing pemateri memberikan sajian perpaduan antara seni, industri kreatif, dan penulisan. Sebanyak 100 penulis muda ini berstatus mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi dan penulis dari Yogyakarta.  Sejumlah materi tentang konten budaya seni menjadi fokus untuk menggulirkan jejak baru dalam dunia kepenulisan Indonesia.

“Tujuannya untuk memberi energi dan keterampilan bagi para penulis muda,” kata Arti dari Satu Pena dalam siaran pers yang diterima Terakota.id, Senin 28 September 2020.  Momen ini juga dipakai peluncuran buku SATUPENA berjudul “Kemanusiaan pada Era Wabah Corona.”

sebanyak-100-penulis-muda-berlatih-dari-pakar-kepenulisan
Hanung Bramantyo saat memberikan pelatihan penulisan di nDalem Natan Yogyakarta 26 September 2020. (Foto : Satupena).

Buku ditulis 100 penulis ternama Indonesia dari segala bidang. Buku disajikan dalam 800 halaman lebih.  Diharapkan pelatihan melahirkan penulis masa depan, serta semakin kuat gerakan literasi. “Banyak buku serta variasi febomena budaya sangat membutuhkan pencatat,” katanya.

Sedangkan beragam media massa dan media sosial semakin membuka kompetisi bagi para penulis muda untuk menyalurkan tulisannya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini