Sastra Lisan dalam Dalang Wayang Topeng Malang

sastra-lisan-dalam-dalang-wayang-topeng-malang
Ki Suroso dan Ki Kasnan Wibowo menjelaskan peran sastra lisan dalam wayang topeng dalang. (Terakota/Givari Jokowali).

Reporter : Givari Jokowali

Terakota.id–Mbak Ririn, istri Ki Suroso seniman topeng menyanyikan tembang Ayak dalam sarasahen topeng Malang di rumah joglo Glugu Tinatar, Landungsari, Kabupaten Malang, 18 Agustus 2018. Tembang berisi rasa syukur terhadap nikmat Tuhan. Merdu dan menyentuh, puluhan peserta sarasehan khusuk mendengar tembang Ayak. Tembang diiringi suara jangkrik dan binatang malam di kawasan Landungsari.

Para peserta rutin datang saban pekan, kali ini kali ke tiga anak muda, akademikus dan seniman yang haus belajar wayang topeng dan dalang Malangan.

Kali ini ngaji topeng babakan sastra lisan dalam Wayang Topeng Dalang. Tak hanya Ki Suroso yang membahas babakan sastra lisan, juga menghadirkan Ki Kasnan Wibowo salah satu dalang wayang topeng dan dalang wayang kulit yang khas gaya malangan.

“Ki Kasnan ini dalang wayang topeng sejak 1976, satu angkatan dengan bapak saya,”  kata Ki Suroso. Ki Kasnan turut membantu mengembangkan wayang topeng dalang yang dikembangkan Mbah Karimun. Sampai sekarang tetap menjadi dalang wayang topeng di Kedungmonggo.

Dalang, katanya, memberi peran penting dalam pertunjukan Wayang Topeng Dalang. Seperti wayang topeng purwa atau wayang kulit, seorang dalang menjadi tokoh penting memberikan gerak dan suara. Termasuk pertunjukan wayang topeng dalang, para penari topeng semua bergerak atas anjuran atau perintah seorang dalang.

“Sehingga sastra lisan memiliki peran penting dalam sebuah pertunjukan Wayang Topeng Dalang,” kata Ki Suroso.

Sastra lisan merupakan suatu kebudayaan kolektif yang disampaikan turun-temurun  secara lisan. Juga berlaku dalam sastra lisan dalam Wayang Topeng Dalang Malang, “Saya dulu belajar langsung dari guru saya tanpa melalui tulisan apapun,” ujar Ki Kasnan.

sastra-lisan-dalam-dalang-wayang-topeng-malang
Ki Kasnan Wibowo menjelaskan pertunjukan topeng wayang dalang Malang. (Terakota/Givari Jokowali).

Dalam pertunjukan Wayang Topeng Dalang dimulai dengan murwa bagian suluk pembuka. Biasanya berisi do’a seorang dalang untuk kelancaran pertunjukan. Berharap agar pertunjukan sang dalang menceritakan dengan baik, “……perbedokno suoro kelawan rupo wayangnge podo karo dalange..”

Dilanjutkan Nyondro yaitu deskripsi pengenalan bahasa prosa dalam pertunjukan Wayang Topeng Dalang. Pada bagaian pertama ada janturan bercerita tentang situasi yang akan di tampilkan. Sedang bagian ke dua pocapan  adalah ucapan dalang mengawali beksan atau tari, dalam bagian ini tidak diiringi gending, di namakan sasmito gending.

Saat hendak memulai dalam sebuah pertunjukan tari harus dikasih pocapan. “Misalnya Kelono akan muncul dalam panggung pertunjukan, pocapanya…..koyok bajul golek memangsang gendinge bajul ngantang.. contoh yang lain Bapang Joyo Sentiko, “……koyok kalong dowo wowohan gendinge pekalongan….”

Ini menjadi isyarat atau sandi seorang pengrawit akan mengiringi seorang penari dalam suatu pertunjukan Wayang Topeng Dalang. Ketiga suluk puisi berisi kehebatan tokoh atau kondisi yang diceritakan. Menceritakan kehebatan seorang tokoh dalam sebuah pertunjukan Wayang Topeng Dalang.

Guriso biasanya setelah joget atau tarian dalam pertunjukan Wayang Topeng Dalang di tokoh antagonis atau tokoh Sabrang seperti Kelono ada Guriso dikaitkan dengan mantra menunjukan kesaktiaan seorang tokoh.

Onto kencono adalah dialog antara tokoh satu dengan tokoh yang lain. Seperti yang dilakukan wayang kulit dialog antar tokoh dilakukan seorang dalang dalam sebuah pertunjukan.  Dialog tersebut dinamakan Onto Kencono, juga sama dalam wayang kulit.

Kemudian ada istilah sendon, menandai perpindahan patok permainan gamelan dalam pertunjukan Wayang Topeng Dalang.  Dalam pertunjukan wayang topeng malangan menggunakan gending pelog di sini ada paket wolu, nyogo, miring, dan serong. Setiap pergantian patok ini ada sendon yang menggambarkan pengganti suasana dalam sebuah pertunjukan.

Selain itu ada tembang berfungsi menguatkan dan  memberikan warna dalam sebuah pertunjukan. Tembang ini dinyanyikan seorang sinden. Berbeda dengan pertunjukan wayang topeng dari madura yang tak ada sinden, namun tembang dinyanyikan sendiri oleh dalang.

Diakhiri mantra yaitu doa yang di lantunkan dalang. Biasanya mantra dilakukan sebelum pertunjukan mulai. Selain dibacakan mantra juga disuguhkan sebuah sesajen dan membakar sebuah dupa. Dupa dibakar untuk sesaji kepada topeng dan alat music gamelan. Mantra ini disampaikan untuk para nabi, wali, dan pepunden desa.

Ki Suroso dan Ki Kasnan menutup dengan nembang bersama Mbak Ririn. Tembang gadingan mengusir suasana malam yang dingin menusuk tulang.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini