Santri Lawan Paham Radikalisme di Dunia Maya

Terakota.id–Lini masa akun media sosial Gerakan Gusdurian Muda atau Garuda Malang dipenuhi poster, meme dan video. Berisi beragam kampanye sesuai dengan pemikiran Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sikap toleransi, merawat keberagaman, mencegah intoleransi dan membela kaum minoritas dituangkan secara kreatif di lini masa media sosial. Santri melawan paham radikalisme di dunia maya.

Ketua Garuda Malang Ilmi Najib mengaku selama ini mereka risau dengan berseliweran banyak kabar bohong yang berkelindan di lini masa dunia sosial. Mereka rutin menggelar kelas pemikiran Gus Dur, dan menuangkan dalam berbagai platform media sosial. “Tujuannya untuk melawan narasi yang penuh kebencian dan menangkal paham radikalisme,” kata Najib.

Najib menjadi santri di sebuah pesantren di Mojokerto, sejak mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Pemikirannya terbuka, ia juga mengaku kagum dan meneladani sikap Gus Dur. Tak hanya Gusdurian Muda, sejumlah anak muda juga giat membuat gerakan literasi. Mereka tergabung dalam Gubuk Tulis.

Salah satu poster yang diproduksi Gusdurian untuk kampanye di media sosial.

Rutin saban semester, mereka menggelar kelas literasi. Sebuah program pendidikan literasi untuk anak muda, menggerakkan komunitas literasi serta menanamkan melek media digital sejak dini. Pengguna media sosial di Indonesia tinggi, data Kementerian Informatika dan Komunikasi jumlah penduduk yang mengakses internet sekitar 163 juta. Atau sekitar separuh dari jumlah penduduk.

Sedangkan penelitian lembaga kebudayaan dan pendidikan dunia UNESCO menyebutkan 4 dari 10 orang di Indonesia aktif sebagai pengguna media sosial. Sementara tingkat literasi rendah, sehingga mudah termakan kabar bohong. Mereka tak menyaring informasi dan mudah membaginya ke media sosial.

“Anak muda harus terlibat dalam perubahan, termasuk bergaul di media sosial,” kata koordinator Gubuk Tulis, Al Muiz Liddinillah.

Santri Berjejaring Melawan di Dunia Maya

Melihat kondisi pengguna media sosial yang rawan terpapar paham radikalisme dan terorisme Pusat Studi Pesantren Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya menggandeng santri di pesantren untuk menangkal paham radikalisme.

Para santri memiliki bekal ilmu agama yang memadai, namun tak banyak yang menyebarkannya melalui internet. Termasuk menyebarkan di media sosial. Sementara paham radikalisme berkelindan sejak lama dan anak mudah rawan terpapar.

Sekretaris Eksekustif Pusat Studi Pesantren FISIP Universitas Brawijaya Yusli Efendi yang juga pakar terorisme menilai untuk menangkalnya dilakukan pendidikan literasi bagi penggunaan media sosial dan berinternet sehat. “Aktivitas berbasis digital, memberi alternative konten postif dan pesan damai di internet,” katanya.

Puluhan santri dan pegiat komunitas literasi dilatih agar bisa maksimalkan menyebarkan pesan damai di internet. Mulai dengan membaca perilaku warganet atau netizen, dan menyampaikan pesan damai atau jurnalisme damai.

Para santri dan komunitas berdiskusi mengenai tema dan isu yang akan diangkat bersama untuk menangkal paham radikalisme. (Terakota/Eko Widianto)

“Menularkan pesan kebajikan melalui internet. Pengguna internet tinggi, tapi marak ujaran kebencian, kampanye jihad, dan kekerasan fisik,” ujarnya. Untuk itu, santri mengambil bagian untuk gerakan membuat wacana berisi pesan positif.

“Jika selama ini menyebar racun, kita memberi obat atau penawarnya. Menghadirkan islam yang ramah, bukan islam yang marah,” tuturnya. Para santri dilibatkan dalam jejaring lintas daerah membuat kontra narasi melalui konten postif berupa teks, foto dan video.

Para santri bebas merespon sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Termasuk mengunggah dan menyebarkan kajian agama di setiap pesantren.

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama mendukung gerakan para santri tersebut. RMI melakukan gerakan serupa sejak tiga tahun lalu. Telah disiapkan sejumlah konten video pendek berisi tentang keagamaan dan kebangsaan.

“Para santri yang ahli di bidang digital dikerahkan,” kata Koordinator Divisi Media RMI NU, Abdulloh Hamid.

RMI memiliki tim yang khusus membuat konten, distribusi konten dan keamanan data. RMI telah memetakan basis data pesantren untuk mengoptimalkan gerakan tersebut. Agar semua terintegrasi, sebab selama ini banyak akun dan situs daring yang dikelola individu NU. Namun, belum terkoordinir dan bertabung kolaborasi permanen

“Lawan narasi yang mengandung konten paham radikalisme, terorisme dan inteloran dengan Indonesia damai,” ujarnya.

Generasi Z, katanya, mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama lebih banyak melalui internet. Sehingga RMI mengumpulkan para ahli, dan membuat tim kampanye di media sosial. Terdiri dari tim untuk membuat konten, mendistribusikan dan menjaga keamanan internet. RMI juga telah memetakan potensi pesantren dan membuat database pesantren.

Bahkan disiapkan aplikasi berbasis android untuk mewadahi orang tua yang mencari informasi pesantren melalui internet. Saat ini, katanya, kesadaran orang tua mendidik anaknya di pesantren tinggi.

Kelompok Jaringan Terorisme Aktif di Internet

Pakar Teknologi Informasi dan terorisme Amrin Hakim menyebutkan jika kelompok radikal telah lama menggunakan internet untuk menyebarkan propaganda. Bahrun Naim, katanya, telah mengunggah sebuah buku berjudul jalan sunyi setebal 300 halaman. Buku berisi ideologi, teknik teror, teknik meretas dan teknik membuat bom.

“Mereka selalu update teknologi. Jika sekarang bom panci, bom rompi suatu saat bisa menguasai teknologi dengan bom lebih canggih. Seperti shut down PLN,  bom dikendalikan dari jarak kauh maupun perintah dari internet,” ujar Amrin.

Ia khawatir buku yang diunggah tersebut memicu aksi alone wolf, simpatisan yang langganan chanel dan situsnya bisa terdoktrinasi. Bahkan, Bahrun Naim telah mempublikasi nama dan alamat pegawai Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT). Sehingga dikhawatirkan akan menjadi sasaran aksi berikutnya.

Amrin juga menduga kedatangan muslim Uighur, Cina ke Indonesia juga berperan mengajari pelaku teror menguasai teknologi membuat bom versi terbaru. Ada sebanyak 12 orang muslim Uighur masuk ke Indonesia, enam diantaranya telah ditangkap. “Bom versi terbaru bisa dikendalikan jarak jauh dengan remote dan perintah melalui internet,’ katanya.

Sementara saat ini pelaku teror hanya memiliki kemampuan membuat bom panci, dan bom rompi. Untuk itu, semua pihak harus peduli, untuk menangkal pemahaman dan ideologi radikalisme. Semua harus mengantisipasi supaya tak terkait dengan jaringan mereka.

“Bukan hanya kontra narasi, tapi bangun narasi islam di Indonesia. Sehingga orang memiliki alternatif informasi,” ujarnya. Gerakan anak muda di Malang, katanya, tergolong terlambat. Lantaran jaringan terorisme lebih dulu memproduksi konten berpaham radikal dengan multi platform. Sementara kita, katanya, cenderung diam dan tak peduli.

“Mereka memanfaatkan beragam kanal di internet lebih lama. Untuk itu harus dilawan dengan kelompok santri dengan berkolaborasi dan berjejaring.”

Sekitar 1000 santri menggelar apel memperingati hari santri nasional di depan Balai Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Wali Kota Malang Sutiaji mendukung gerakan santri dan pemuda menangkal radikalisme di dunia maya. Bahkan ia mengajak agar lintas agama, suku dan budaya ikut terlibat dan mengambil peran. “Kita memberi ruang siapapun untuk merawat kebhinekaan. Harus kita lakukan bersama,” ujarnya.

Tantangannya, kata Sutiaji, bagaimana menjaga idealisme santri di tengah kemajuan zaman dan teknologi. Santri melek media akan menjadi jawaban. Sedangkan untuk menangkal paham radikalisme di tingkat kelurahan Pemerintah Kota Malang bekerjasama dengan polisi dan militer melalui Babinkamtibmas dan Babinsa.

Malang menjadi salah satu kota yang aktif gerakan menangkal radikalisme, lantaran banyak yang telah terpapar paham radikalisme. Bahkan sejumlah warga Malang bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan mengikuti latihan militer di Suriah dan Irak. Bahkan salah satu petinggi ISIS Salim Mubarok Attamimi alias Abu Jandal berasal dari Malang.

Tersangka kelompok jaringan terorisme bom Tamrin dipindahkan dari
Markas Brimob Ampeldento Malang ke Mako Brimob Kepala Gading, 21
Februari 2016. (Terakota/Eko Widianto)

Selain itu, sejumlah warga Malang juga terlibat dalam aksi bom gereja di Surabaya dan bom Thamrin di Jakarta. Mereka memiliki peran dan kapasitas berbeda. Untuk itu Sutiaji berharap agar gerakan menangkal radikalisme dan terorisme semakin kuat dan tak ada warga Malang yang terlibat.

 

3 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini