Sang Primadona

"Dalam tragedi, tetap tertawa. Ludruk yang bagus setiap 10 menit ger. Tertawa."

Terakota.id–Ngatiar alias Mak Yar, 83 tahun mengenang 40 tahun lalu. Dia dikenal sebagai primadona tandak ludruk, menjiwai setiap peran yang dimainkan. Tandak merupakan pemain ludruk, laki-laki yang berperan dan berdadan seperti perempuan. Menjelang pertunjukan, seorang penggemarnya menemui di balik panggung. “Penasaran ingin bertemu, menjiwai seperti asli. Dia mendengar rekaman di kaset, belum pernah menonton,” kata Mak Yar.

Saat itu, dia tengah menggelar pertunjukan di Gondanglegi, Kabupaten Malang dengan lakon Sawunggaling. Mak Yar berperan sebagai Nenek Sawunggaling. Sementara penggemarnya berasal dari Mergan, Kota Malang. Menempuh jarak sejauh 40-an kilometer untuk melihat pertunjukan secara langsung. Setiap pertunjukan, ribuan pasang mata hadir menonton sampai selesai.

Mak Yar berperan sebagai tandak sejak medio 1960 bergabung dengan grup ludruk Gembira Loka asal Purwodadi, Pasuruan. Belajar dengan mengamati setiap pertunjukan dan belajar bersama dengan tandak yang lain.  “Diajari Sunar ngidung (Menembang),” katanya.

Lantas, dia ditunjuk sebagai penari bedayan, mengenakan kain jarik, berkebaya, rambut disanggul. Penari bedayan tampil bersama-sama, para tandak menari dan ngidung.  Mak Yar juga berlatih menari remo. Lambat laut dia belajar seni peran, dan menjiwai karakter yang dimainkan. Tak sembarangan, pimpinan grup ludruk menilai Mak Yar piawai memerankan tokoh antagonis maupun protagonis.

“Bisa berperan apa saja, tokoh jahat maupun yang baik. Lama-lama belajar ndagel (melawak),” katanya. Dari Gembira Loka dia berpindah ke grup ludruk Purnama Jaya. Tak hanya di sekitar Malang, tetapi bermain sampai Jember, Banyuwangi dan Jakarta.  Grup ludruk mendirikan tobong, sebuah panggung yang dibangun di lapangan terbuka. Sekeliling lapangan ditutup dengan dinding anyaman bambu.

“Penghasilan dalam semalam setara dengan satu gram emas,” ujarnya. Medio 1960 menjadi puncak popularitas sebagai pemain tandak ludruk. Seluruh hasil kerja kerasnya digunakan untuk membangun sebuah rumah di Desa Sepanjang, Gondanglegi. Setelah peristiwa tragedi berdarah 1965, kesenian ludruk lesu darah. Bahkan, rombongan ludruk Mak Yar yang tengah berpindah dari Lumajang ke Sumberpucung, Kabupaten Malang dicegat tentara.

Ngatiar alias Mak Yar, nomor dua dari kiri. Berpose bersama teman sesama tandak. (Terakota/Eko Widianto).

Tentara memeriksa truk yang ditumpangi pemain dan properti ludruk. Seorang anggota tentara menemukan sepucuk senjata api mainan dan selongsong peluru yang digunakan untuk properti ludruk. “Ndredek, takut. Setelah dijelaskan rombongan ludruk, kami diijinkan melanjutkan perjalanan,” ujar Mak Yar.

Namun, tobong di Sumberpucung batal digelar. Grup ludruk berhenti tampil selama dua bulan. Situasi saat itu genting. Sejumlah grup ludruk dicurigai berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah itu, dia ikut kelompok ludruk Wijaya Kusuma binaan militer dan berlindung di bawah Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU.

Tandak Pilihan

Pimpinan ludruk mengamati dan menyeleksi setiap tandak yang akan dimainkan. Dipilih tandak sesuai dengan karakter yang akan dimainkan. Wajah setiap tandak diperhatikan agar sesuai dengan peran yang dilakonkan. Sebagian besar tandak, katanya, memiliki perasaan seperti perempuan.

“Jiwa lelaki tetapi hati perempuan. Sampai tua, tak bisa hilang,” ujarnya. Dia mengakui menyukai laki-laki sejak kecil, demikian sebaliknya banyak laki-laki yang menyukainya. Sehingga dia dianggap tepat bermain dan berperan sebagai perempuan. Pada 1983, Mak Yar yang kala itu berusia 48 tahun memutuskan menikah dengan Muji Utami berusia 17 tahun.

Perbedaan usia tak menghambatnya melangsungkan pernikahan. Hingga istrinya melahirkan seorang anak yang kini telah menikah. Sayang, pernikahannya dengan Muji Utami telah berakhir lima tahun lalu. Bekas istrinya kini menjadi tenaga kerja wanita di Hongkong.

Ngatiar alias Mak Yar, menunjukkan foto saat pernikahan putri tunggalnya. (Terakota/Eko Widianto).

Mak Yar dalam setiap penampilannya di panggung selalu memukau penonton. Dia menjiwai setiap peran yang mainkan. Bermain secara total, sesuai peranan. Sebelum tampil di atas panggung, tak lupa Mak Yar selalu berlatih dan berinteraksi dengan lawan mainnya. Agar tuntutan peran yang dimainkan sesuai dengan harapan penonton.

Belakangan dia memilih tak bergabung permanen dalam sebuah grup ludruk. Mak Yar memilih sebagai tandak lepas bermain untuk grup ludruk Armada, Dampit dan Subur, Turen. Dalam setiap pementasan dia mendapat honor sebesar Rp 100 ribu. Bukan uang yang dicari, namun aksi panggung dan eksistensi sebagai tandak terus dilakoninya.

Sejak dua tahun belakangan dia memilih mundur dari hingar-bingar seni pertunjukan ludruk. Kini, dia mengisi waktu dengan mengerjakan pakaian tari remo dan pakaian pengantin adat Jawa. Keterampilan membuat pakaian tari dan pengantin diperoleh sejak 35 tahun lalu. Dia berharap pemerintah membangkitkan kembali Ludruk sebagai kesenian khas Jawa Timur. “Pemerintah harus terus mempertahankan dan menggali akar budaya kita,” ujarnya.

Mak Yar terampil membuat pakaian tari remo dan pakaian pengantin adat Jawa. (Terakota/Eko Widianto).

Guru besar kajian budaya Universitas Negeri Surabaya, Profesor Henricus Supriyanto menjelaskan menurut sejarahnya ludruk merupakan teater rakyat asal Jombang sejak 1907. Saat itu, seluruh pemain laki-laki. Pak Santik dan Pak Pono, katanya, sebagai pendiri ludruk mendandani pemain laki-laki seperti perempuan untuk kepentingan humor. “Agar lucu saja,” katanya.

Sebenarnya, kata Hendricus, lelaki berperan sebagai perempuan tak hanya dalam kesenian ludruk. Namun juga lazim pada kesenian tari topeng. “Dalam Serat Pararaton, Hayam Wuruk diceritakan menari topeng. Sebagai satria dan wanita,” katanya.

Awalnya tandak tampil mengenakan busana tradisional, seluruh tandak mengenakan kerudung. Setelah kemerdekaan, terjadi modernisasi atau pembaruan. Tandak mengenakan kebaya, kain jarik dan rambut disanggul. “Tandak tak lagi memakai kerudung,” ujarnya.

Pemain tandak juga harus memiliki kekuatan dalam akting. Tandak harus menguasai bahasa panggung dan berimprovisasi. Termasuk piawai dalam mengocok perut. Sebab, ludruk merupakan teater rakyat yang tampil dengan penuh humor.   “Dalam tragedi, tetap tertawa. Ludruk yang bagus setiap 10 menit ger. Tertawa,” ujarnya.

Tandak, katanya, awalnya murni sandiwara. Namun, belakangan terjadi praktik menyukai sesama jenis. Karena para pemain selalu bertemu dalam lingkungan yang sama. Hal itu mengemuka pada penelitian pada 1962. Bahkan, belakangan waria juga bermain sebagai tandak ludruk. Waria, katanya, pandai merias wajah dan berbusana. “Tapi tak bisa tari remo dan ngidung. Gantinya menyanyi paduan suara,” ujarnya.

Sebuah grup ludruk di Ponorogo, katanya, didirikan oleh komunitas waria. Pada 1980-an, sebuah kelompok ludruk di Mojokerto memadukan tandak perempuan dan laki-laki. Sore menggunakan tandak perempuan, sedangkan malam menggunakan tandak laki-laki yang berperan sebagai perempuan.

Henricus mengklasifikasi tandak dalam tiga tipe. Pertama tandak yang hanya dalam seni peran tetapi tetap seorang laki-laki dan menikah. Kedua, tandak yang menyukai laki-laki dan perempuan. Ketiga, tandak yang secara fisik abnormal, menyerupai perempuan.

Ketua Lesbumi NU Kota Malang, M. Berlian Alhamid menjelaskan Lesbumi mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisi sesuai syariat. Sejumlah pelaku seni berhimpun di Lesbumi. Termasuk para pelaku seni pertunjukan seperti ludruk. “Pemain ludruk tak harus lak-laki. Perempuan juga bisa bermain dengan bagus. Kami tidak menolak ludruk, itu paradigma lama,” ujarnya.

Ludruk  sebagai kesenian tradisi, katanya, harus dilestarikan. Bahkan bisa dijadikan media untuk berdakwah dengan mengangkat tema yang sesuai dengan Islam. “Ludruk bisa dikembangkan untuk syiar agama,” katanya.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan