Sang Pemangsa dari Utara Membelah Langit Nusantara

Terakota.id–Belahan bumi utara mulai masuk musim dingin. Jutaan burung pun mengembara, menuju belahan bumi selatan yang lebih hangat. Penjelajahan dari utara menuju selatan ini rutin terjadi setiap tahun, sebuah fenomena alam yang biasa disebut migrasi burung.

Berbagai jenis burung itu pergi meninggalkan belahan bumi utara yang mulai berkurang sumber pangannya. Terbang menempuh ribuan kilometer menuju selatan yang menyediakan sumber pangan melimpah. Indonesia menjadi salah satu tujuan besar – besaran migrasi burung itu.

Mengutip data Raptor Watch, dari berbagai jenis burung itu, tiga di antaranya adalah jenis pemangsa (raptor). Yakni Elang Alap Nippon (Accipiter gularis), Elang-Alap Tiongkok (Accipiter soloensis) dan Sikep-Madu Asia (Pernis ptilorhyncus). Tanpa kita sadari, saat ini ada ribuan raptor terbang melayang di atas langit Indonesia.

Burung raptor itu bermigrasi melalui dua jalur sebelum tiba di Indonesia. Jalur pertama, Koridor Daratan Timur melalui yaitu jalur dari tenggara Siberia melalui timur Tiongkok menuju semenanjung Malaysia dan mendarat di Indonesia yakni Jawa, Bali, dan Lombok. Diperkirakan jalur terbang sejauh 7 ribu kilometer.

Jalur kedua, Koridor Pantai Pasifik yakni dari timur Rusia melewati Kepulauan Jepang dan Taiwan, lalu ke selatan Filipina dan menepi di wilayah Sunda Besar. Burung raptor itu terbang sejauh hingga 15 ribu kilometer di jalur ini. Sebuah perjuangan yang luar biasa, perjalanan panjang nan melelahkan.

Raptor Watch menggelar pengamatan burung di Puncak Paralayang, Puncak, Bogor, Jawa Barat pada Sabtu, 20 Oktober 2018 lalu. Hanya dalam kurun pukul 07.00 – 12.00 saja, teramati 239 individu raptor. Rinciannya, Elang Alap Nippon (4 individu), elang alap tiongkok (204 individu) dan sikep madu asia (17 individu).

Pegiat lingkungan dan jurnalis mengamati migrasi burung di kaki Gunung Semeru. (Terakota/Hari Istiawan).

Bahkan di Jember, Jawa Timur, seekor Elang Alap Nipon ditemukan warga di rumpun bambu Perumahan Muktisari, Kaliwates, Jember, pada Rabu, 17 Oktober. Burung ini kemudian dibawa ke kandang transit kantor Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jember.

“Ada kemungkinan burung itu jatuh ketika terbang melintas, bisa juga singgah karena kelelahan,” kata Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nandang Prihadi.

Jika kondisi burung itu sudah mulai sehat, rencananya akan dilepasliarkan di Cagar Alam Watangan Puger, Jember. Lokasinya yang berada di dekat lepas pantai itu diharapkan burung bisa meneruskan perjalanannya kembali. Pelepasliaran akan melibatkan pegiat konservasi, khususnya burung.

Berbagai jenis burung itu akan kembali ke belahan bumi utara pada Maret mendatang. Untuk saat ini, ada beberapa lokasi yang bisa dijadikan titik mengamati migrasi burung itu. Seperti di Bukit Paralayang, Pucak, Bogor, Jawa Barat. Sedangkan di Jawa Timur seperti di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Ijen, Bondowoso dan Gunung Banyak, Kota Batu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini