Sultan Mahmud Badaruddin II Sang Harimau yang Tak Pernah Jinak

Terakota.id–Belanda gusar bukan kepalang. Dua kali menyerang, dua kali pula kalah dari Sultan Mahmud Badaruddin II dalam Perang Muntinghe atau Perang Palembang pada Juni dan Oktober 1819. Rencana serangan balasan pun disiapkan, dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

Jenderal Mayor H.M De Kock memimpin armada Belanda dalam upaya ketiga menaklukkan Kesultanan Palembang. Berbagai rencana matang disiapkan. Ada kurang lebih 21 kapal laut dan ratusan perahu kecil disiapkan. Pada Mei 1821, ekspedisi ini tiba di perairan Sungai Musi.

“Benteng pertahanan Palembang di Pulau Salanama tak mampu membendung kedatangan armada perang Belanda yang begitu besar,” tulis Farida, Dosen FKIP Universitas Sriwijaya dalam Perang Palembang dan Benteng – Benteng Pertahanannya saat Seminar Nasional ‘Palembang:Masa Lalu, Kini dan Masa Depan.

Belanda benar-benar siap menggempur Palembang. 10 Juni 1819, armada Belanda mendekati benteng pertahanan Palembang. Pasukan infanteri dikerahkan, untuk menempatkan meriam. Sekaligus menembus jalur rawa agar mudah menyerang ke depan benteng Plaju. Efektif untuk menggempur pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Armada Belanda pun juga membersihkan tonggak yang dipasang pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II di Sungai Musi. Sesuatu yang tak mereka lakukan saat dua kali kalah dalam Perang Muntinghe. Meski demikian, Kesultanan Palembang mampu melawan dengan hebat atas serangan ini.

Jenderal Mayor H.M De Kock harus memutar otak agar pasukannya tak kembali tumpas. 17 Juni 1821, De Kock memerintahkan pasukannya mundur sementara. Ini sebagai strategi mengulur waktu. Tiga hari berikutnya, perang kembali meletus di benteng Pulau Kemaro.  Dengan persiapan jauh lebih matang, Belanda siap menembus benteng ini.

Sultan Mahmud Badaruddin II tetap mampu melawan dengan gigih. Benteng Pulau Kemaro akhirnya jatuh, tapi korban di pihak Belanda tercatat ada 75 orang tewas dan 242 orang luka-luka. “Jatuhnya benteng pertahanan ini membuat perlawanan Palembang jadi limbung,” tulis Farida.

Pertempuran Juni 1821 itu bertepatan dengan bulan suci ramadan. De Kock memanfaatkan kesempatan itu dengan memerintahkan pasukannya tak menyerang saat Jumat. Harapannya, agar sultan tak menyerbu pada hari Minggu. Namun, Minggu, 24 Juni 1821, dini hari saat rakyat Palembang sedang santap sahur, Belanda malah melancarkan pukulan mendadak ke Palembang.

“Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang,” tulis Kemas A. R. Panji dosen Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Palembang dalam hasil penelitiannya Sultanku, Mahmud Badaruddin II.

Meski demikian, pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II tetap memberikan perlawanan dengan hebat. Seluruh sisa tenaga dikerahkan dalam pertempuran itu. Tapi, benteng Plaju bisa dikuasai Belanda dan terbukalah jalan menuju kraton Kuto Besak. Agar tak terjadi korban jauh lebih banyak di pihak Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II menempuh jalur perundingan.

Upaya perlawanan Kesultanan Palembang berakhir pada 26 Juni 1821. Belanda kemudian resmi berkuasa di Palembang pada 1 Juli 1821. Belanda mengangkat Sultan Ahmad Najamuddin II, adik kandung Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi sultan yang baru. Dengan demikian, Kesultanan Palembang sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Hindia Belanda.

Pada 11 Juli 1821 atau bertepatan 4 Syawal, Sultan Mahmud Badaruddin II bersama keluarga dan pengikutnya kemudian dibuang ke Ternate. Upaya Kesultananan Palembang agar tetap menjadi kesultanan yang berdaulat pun berakhir.

Harimau yang Tak Pernah Jinak

sang-harimau-yang-tak-pernah-jinak
Sultan Mahmud Badaruddin II diabadikan dalam uang pecahan Rp 10 ribu yang dikeluarkan Bank Indonesia pada 20 Oktober 2005. (Terakota).

Sultan Mahmud Badaruddin II memimpin Kesultanan Palembang selama 1804 – 1821. Ia menjadi sultan saat dua raksasa imperialis, yakni Inggris dan Belanda sedang bertarung di Hindia Belanda. Alhasil, Palembang berada di antara dua negara yang sedang berperang itu.

“Sultan yang ahli perang. Orang Inggris menjulukinya sebagai harimau yang tak pernah jinak,” tulis Kemas A. R. Panji, dosen Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Palembang

Letak Palembang di antara Jawa dan Semenanjung Malaya. Juga penghasil timah dan produk rempah, Karena itu Inggris memandang Palembang sangat strategis. Saat Belanda kalah dari Inggris, Thomas Stamford Raflles merayu Sultan Mahmud Badaruddin II agar mau bekerjasama.

Alih-alih menerima tawaran itu, sang sultan menolak intervensi Inggris. Setelah memastikan Batavia berada dipangkuan Inggris, sultan mengirim utusannya untuk mengusir Belanda dari Loji Sungai Aur pada 14 September 1811. Keinginan itu ditolak Residen Jacob Groenhof van Woortman dengan alasan tidak ada perintah dari Batavia.

“Para bangsawan itu kemudian menguasai loji dan mengusir semua orang yang tinggal di loji. Mereka dibawa keluar sungai Musi dan dibantai di daerah muara Sungai Musi (Sunsang),” tulis Farida, Dosen FKIP Universitas Sriwijaya dalam Konflik Politik di Kesultanan Palembang (1804-1021) dimuat Jurnal Sejarah Lontar Volume 4 no. 2 Juli – Desember 2017.

Peristiwa pembantaian rombongan Belanda itu kemudian dikenal dengan peristiwa Palembang Massacre. Pasca peristiwa itu, Palembang menjadi kesultanan yang berdaulat dan menolak Inggris. Thomas Stamford Raffles kemudian mengirim pasukan di bawah komando Robert Rollo Gillespie pada 19 Maret 1812 untuk menghukum Sultan Badaruddin II.

Dalam perang singkat itu, Kesultanan Palembang takluk dari Inggris lantaran adik kandung Sultan Mahmud Badaruddin II yakni Pangeran Dipati berkhianat. Inggris kemudian mengangkat Pangeran Dipati sebagai sultan dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin II. Tapi perlawanan Palembang tetap berkobar.

Sultan Mahmud Badaruddin II mundur ke pedalaman yakni ke Buaya Langu. Pasukan Inggris di bawah pimpinan Kapten Meares terus mengejar. Ambisi itu justru membuat Kapten Meares tewas pada 28 Agustus 1812 di Muntok. Seluruh rakyat dan sebagian besar bangsawan Palembang mendukung penuh sang sultan.

Praktis, Sultan Najamuddin II meski dipilih Inggris memimpin Kesultanan Palembang, tapi tetap tak memiliki kuasa penuh lantaran tak didukung rakyat. Setelah Belanda kembali berkuasa atas Hindia Belanda pada 1818, Sultan Mahmud Badaruddin II tetap menolak kedatangan mereka ke Palembang.

Hingga meletuslan Perang Muntinghe atau Perang Palembang pada 1819. Salah satu perang maritim terbesar di nusantara yang terjadi dua kali dengan kekalahan dipihak Belanda. Hingga siasat licik Belanda yang membuat Sultan Mahmud Badaruddin II kalah pada perang ketiga.

 

 

Tinggalkan Balasan